Masyarakat Kota Semarang menggelar kirab budaya, memperingati haul Kiai Soleh Darat. Kegiatan yang digelar meriah dengan melibatkan masyarakat hingga kelompok rebana itu pun direncanakan menjadi agenda tahunan.
Pantauan detikJateng di Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, rombongan pawai berjalan mulai pukul 08.00 WIB. Rombongan berjalan kaki dari Kampung Melayu menuju Masjid Kyai Soleh Darat dan berakhir di lapangan Kuningan.
Pria yang berdandan menjadi Kiai Soleh Darat memimpin rombongan menaiki delman bersama ulama lainnya. Di belakangnya tampak beberapa kelompok hadroh menunggangi mobil pikap yang dihias.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KH Sholeh Darat sebenarnya bernama asli Muhammad Saleh. Dia diperkirakan lahir sekitar tahun 1820 di Desa Kedung Cumpleng, kecamatan Mayong, Jepara.
Namun, sosoknya lebih dikenal dengan nama Kiai Sholeh Darat. Nama itu didapat karena dirinya merupakan pengasuh pondok di daerah Darat, Semarang Utara, Kota Semarang.
Kiai Sholeh Darat dikenal dengan berbagai kitabnya di bidang fiqih, tasawuf, dan tafsir. Berbagai kitabnya juga dibuat menggunakan tulisan Arab berbahasa Jawa atau pegon agar banyak masyarakat umum mengerti.
Salah satu yang tersohor ialah kitab berjudul Faidlur Rahman fi Bayani Asrarir Qur'an. Konon, kitab itu merupakan kitab tafsir pertama yang menggunakan pegon.
Jasa dari Sholeh Darat sangat besar bagi terbentuknya Indonesia. Meski tak ada perlawanan fisik, Sholeh Darat sangat berjasa di bidang pendidikan bagi masyarakat luas.
KH Sholeh meninggal di Semarang tahun 1903. Ia dimakamkan di TPU Bergota dan hingga kini masih banyak peziarah yang mengunjungi makam tokoh ulama terkenal ini.
Kirab budaya Kiai Soleh Darat di Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (19/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, kirab budaya menjadi bagian dari upaya mengenalkan sejarah perjuangan Kiai Soleh Darat kepada masyarakat.
"Rangkaian haul cukup banyak, kemarin sudah pengajian, kemudian hari ini kirab. Nanti malam juga masih ada rangkaian haul Kiai Soleh Darat," kata Iin kepada detikJateng di Masjid Kiai Soleh Darat, Minggu (19/4/2026).
Ia menambahkan, Pemkot Semarang juga tengah mengusulkan Kiai Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional. Oleh karenanya, kirab ini pun direncanakan akan digelar tiap tahunnya.
"Rencananya akan digelar setiap tahun. Jadi iji kali pertama kirab dilakukan. Mudah-mudahan bisa berlangsung rutin, sehingga masyarakat tahu perjuangan beliau," ungkapnya.
"Beliau memang tidak berjuang menggunakan senjata, tetapi melalui karya-karyanya yang luar biasa bisa membangkitkan kesadaran masyarakat," lanjutnya.
Iin berharap dari kegiatan kirab budaya ini, nilai-nilai perjuangan Kiai Soleh Darat semakin dikenal dan bisa diterapkan oleh masyarakat luas.
Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom menambahkan, kirab budaya ini merupakan rangkaian dari haul yang sebelumnya telah digelar pada 10 Syawal di Makbaroh Bergota.
"Alhamdulillah ini satu rangkaian dengan haul yang sudah dilaksanakan dan berjalan sukses. Mulai tahun ini kita lanjutkan dengan kirab budaya sebagai bentuk memeriahkan haul Mbah Soleh Darat," kata Anasom.
Ia menjelaskan, sebelumnya kirab diisi dengan kitab-kitab karya Kiai Soleh Darat dan kegiatan Semarang Berselawat. Untuk kirab kali ini, diawali dengan pentas teatrikal sosok Kiai Soleh Darat, diperankan oleh seniman teater Semarang.
"Teatrikalnya cukup menarik dan masyarakat banyak yang melihat. Kemudian dilanjutkan dengan kirab, ini benar-benar menghidupkan roh kegiatan masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga berdampak pada geliat ekonomi warga sekitar. Anasom yang ikut menunggang delman mengatakan, banyak masyarakat yang memanfaatkan momen kirab untuk berjualan.
"Ini bagus sekali, ekonomi masyarakat ikut bergerak. Harapannya ke depan bisa lebih besar lagi," jelasnya.
Selain kirab, kegiatan juga diramaikan dengan Semarang Berselawat yang menghadirkan 15 grup rebana dari berbagai wilayah di Kota Semarang.
"Kalau di NU ada Ishari, Ikatan Seni Hadrah. Kita undang hari ini ada 15 grup, ke depan kita berharap bisa ditingkatkan tidak hanya 15 grup, nanti se-Kota Semarang bisa meramaikan," harapnya.
Anasom juga berharap kegiatan kirab budaya ini dapat menjadi agenda rutin tahunan sekaligus sarana mengenalkan sosok Kiai Sholeh Darat kepada masyarakat luas. Ia menilai, Kiai Soleh Darat merupakan ulama besar yang berperan penting dalam menumbuhkan semangat nasionalisme melalui pendekatan budaya, salah satunya dengan menggunakan bahasa Jawa dalam karya-karyanya.
"Beliau mengajarkan pentingnya lokalitas, budaya, dan bahasa Jawa. Ini yang harus terus dilestarikan, terutama oleh generasi muda," ungkapnya.
Saat rombongan tiba di Masjid Kiai Soleh Darat, terdapat penampilan pembacaan puisi oleh seorang perempuan yang berdandan menjadi RA Kartini.
Kemudian sesampainya di Lapangan Kuningan, rangkaian haul dilanjutkam dengan hadroh kolosal serta akan ada wayang dakwah. Puluhan masyarakat pun berkumpul menonton mengenakan pakaian putih.
(afn/afn)












































