Pernahkah detikers merasa bingung saat ingin mengubah kalimat aktif menjadi pasif dalam bahasa Jawa? Dalam percakapan sehari-hari, kita sering kali tidak sadar telah menggunakan ukara tanggap atau kalimat pasif. Memahami struktur ukara tanggap kalimat pasif dalam bahasa Jawa sebenarnya sangat asyik karena berkaitan erat dengan cara kita menempatkan fokus pada sebuah kejadian. Dengan menguasai pengertian hingga contohnya, detikers bisa berkomunikasi dengan lebih luwes dan terlihat lebih mahir dalam berbahasa daerah.
Dalam bahasa Jawa, perubahan dari kalimat aktif (ukara tanduk) menjadi pasif (ukara tanggap) membuat subjek yang tadinya menjadi pelaku berubah posisi menjadi pihak yang dikenai tindakan. Penjelasan mengenai pengertian hingga contohnya ini akan membantu detikers memahami bahwa ciri utama kalimat pasif Jawa terletak pada imbuhan kata kerjanya yang khas. Jadi, bukan lagi "siapa melakukan apa", melainkan "apa yang dilakukan oleh siapa".
Yuk, kita bedah bersama apa itu ukara tanggap dengan gaya yang lebih santai namun tetap berisi!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Ukara Tanggap?
Bicara soal definisi, beberapa pakar bahasa Jawa punya penjelasan yang menarik untuk disimak. Endang Sri Maruti dan Winda Ayu Cahya Fitriani dalam buku Proyek Keterampilan Menulis Berbahasa Jawa menjelaskan bahwa ukara tanggap adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku. Sederhananya, subjek dalam kalimat ini bukan lagi si "tokoh utama" yang melakukan aksi, melainkan pihak yang menerima dampak dari tindakan tersebut. Hal ini terjadi karena kata kerjanya berubah menjadi pasif, sehingga arah tindakannya terasa "mundur" atau mengenai si subjek.
Senada dengan itu, Budi Anwari lewat bukunya Baboning Pepak Basa Jawa menekankan bahwa ukara tanggap intinya adalah kalimat yang subjeknya (jejer) dikenai pekerjaan. Penjelasan ini diperkuat oleh Rian Damariswara dalam buku Belajar Bahasa Daerah (Jawa), yang menyebutkan bahwa kunci utama kalimat pasif ada pada predikatnya (wasesa). Menurutnya, posisi objek dalam kalimat aktif akan "naik kelas" menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jadi, fokus perhatian kita dialihkan sepenuhnya pada benda atau hasil yang sedang dibahas.
Cara Mengenali Kalimat Pasif Jawa dari Imbuhannya
Bagaimana cara cepat membedakan ukara tanggap dengan kalimat lain? Kuncinya ada pada ater-ater atau awalan yang nempel di kata kerjanya. Rian Damariswara merinci beberapa imbuhan sakti yang bisa mengubah kalimat jadi pasif:
- Ater-ater di-: Paling sering kita dengar, contohnya dipangan, disapu, atau ditulis.
- Ater-ater ka- & ke-: Biasanya dipakai untuk kejadian yang tidak disengaja, misalnya katendhang (tertendang) atau kecepit (terjepit)
- Seselan -in-: Ini versi yang lebih puitis atau klasik, contohnya tinulis (tertulis)
- Dak- & Ko-: Ini khusus buat pelaku "aku" atau "kamu". Contohnya dakgawa (aku bawa) atau kogawa (kamu bawa)
Perubahan Struktur
Menariknya, dalam publikasi ilmiah karya Nicka Citra Purwaningrum berjudul Konstruksi Resultatif Ing Basa Jawa, dijelaskan bahwa kalimat pasif sering kali digunakan untuk menonjolkan hasil akhir. Misalnya, ketika detikers bicara soal makanan seperti jadah, kupat, atau sate.
Kalau dalam kalimat aktif kita bilang "Ibu nggodhog kupat", fokusnya ada pada kegiatan Ibu. Tapi kalau diubah jadi ukara tanggap: "Kupat digodhog Ibu", maka yang jadi bintang utamanya adalah si kupat. Struktur ini sangat efektif digunakan saat kita ingin bercerita tentang proses pembuatan sesuatu atau kejadian yang menimpa suatu benda.
Contoh Ukara Tanggap dalam Kehidupan Sehari-hari
Supaya detikers makin jago, berikut adalah deretan contoh ukara tanggap yang bisa langsung dipraktikkan:
- Koran dipun waos bapak. (Korannya sedang dibaca bapak)
- Layang ditulis Adik. (Suratnya ditulis sama Adik)
- Sarunge dikrikiti tikus. (Aduh, sarungnya digigit tikus!)
- Jajane dirubung semut. (Jajannya dikerubungi semut)
- Regedane disapu adhik. (Kotorannya sudah disapu adik)
- Bale katendhang kiper. (Bolanya nggak sengaja tertendang kiper)
- Bukune daktuku wingi. (Bukunya aku beli kemarin)
- Pulpene kokenggo nulis. (Pulpennya kamu pakai buat nulis)
Nah, itulah ulasan lengkap mengenai ukara tanggap atau kalimat pasif dalam bahasa Jawa mulai dari pengertian hingga contohnya. Ternyata nggak sesulit yang dibayangkan, kan? Dengan memahami perubahan imbuhan dan pergeseran posisi subjek, detikers bisa menyusun kalimat bahasa Jawa yang lebih bervariasi dan tepat sasaran. Teruslah berlatih agar kemampuan bahasa Jawa detikers makin mantap!
Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
