Ada yang menarik di Kawasan Pecinan, Kota Semarang. Arak-arakan kelenteng dan gunungan ramaikan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-160 Klenteng TITD Ling Hok Bio.
Pantauan detikJateng di Kelenteng Ling Hok Bio, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, puluhan replika kelenteng diarak di sepanjang jalan kawasan Pecinan.
Musik iring-iringan barongsai dan suara petasan terdengar keras dari penghujung jalan. Janur penjor sebagai simbol peringatan 160 tahun juga menghiasi area kelenteng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puluhan umat Tionghoa berpakaian merah memadati jalan perkampungan yang semerbak oleh bau dupa. Mereka asyik menonton kirab perayaan akbar HUT ke-160 serta HUT Yang Mulia Kongco Hok Tek Tjing Sien.
Salah satu penonton, Titus Haryanto (72), mengaku datang untuk melihat langsung kemeriahan acara yang rutin digelar setiap tahun tersebut.
"Ya cuma pengin lihat arak-arakan saja. Ini kan memang tiap tahun ada," kata Titus kepada detikJateng di lokasi.
Perayaan HUT ke-160 Klenteng TITD Ling Hok Bio di kawasan Pecinan, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Minggu (12/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Menurutnya, kegiatan seperti ini memiliki nilai budaya yang bisa menarik masyarakat di Kota Semarang. Sebagai umat Tionghoa, ia pun berharap tradisi tersebut terus dilestarikan.
"Untuk budaya bagus ya, bisa menarik masyarakat sekitar. Harapannya ke depan ya semoga dilestarikan, jangan sampai hilang," harapnya.
"Harapannya di perayaan kelenteng ini, klenteng bisa lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya," lanjutnya.
Perayaan itu pun tak hanya menarik umat Tionghoa, tetapi juga warga dari berbagai latar belakang. Menurut Titus, hal itu menjadi bentuk toleransi para warga Kota Semarang.
"Mereka juga ikut berbaur, orang Muslim orang Cina nggak membeda-bedakan. Bhineka Tunggal Ika, bentuk toleransi lah," ujarnya.
Sejumlah penonton yang bukan warga Tionghoa pun mengaku antusias menyaksikan rangkaian acara, mulai dari kirab hingga atraksi barongsai.
Salah satunya Hartini (51), warga Muslim yang datang bersama anaknya. Ia mengaku sengaja hadir untuk mengenalkan budaya Tionghoa kepada sang anak.
"Ya ini ngajak anak biar tahu kelenteng, biasanya kan lihat barongsai. Ini pengin lihat langsung," ujarnya.
Hartini yang merupakan warga setempat mengatakan, perayaan tersebut selalu ramai setiap tahun dan menghadirkan berbagai hiburan yang menarik perhatian warga.
"Senang ya, rame. Tadi malam juga ada hiburan, ada barongsai api juga," katanya.
Ia menilai kegiatan budaya seperti ini penting untuk terus dilestarikan, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang keberagaman.
"Namanya budaya ya harus dilestarikan. Kita beda agama, tapi semua sama, saling menghargai," ucapnya.
Hartini juga melihat adanya nilai toleransi yang kuat dalam perayaan tersebut karena dihadiri berbagai kalangan masyarakat.
"Sama-sama menghargai, bagus juga buat anak-anak biar tahu ini tradisinya orang Cina. Semua agama sama, ini agama Konghucu," tuturnya.
Perayaan HUT ke-160 Klenteng TITD Ling Hok Bio di kawasan Pecinan, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Minggu (12/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Hal senada disampaikan warga asal Solo, Ita (21). Ia mengaku tengah berwisata ke Semarang dan mengetahui bahwa ada arak-arakan di kawasan Pecinan.
"Seru sih kirabnya, karena aku kan benar-benar dari budaya yang berbeda. Menurutku ini solid banget dan seniat itu melestarikannya. Semoga ke depannya semakin dilestarikan apalagi itu jadi daya tariknya kawasan Pecinan," ujarnya.
Ketua Yayasan TITD Kelenteng Ling Hok Bio, Liem Lun Tjin atau Liemawan Haryanto, mengatakan perayaan ini menjadi wujud syukur atas perjalanan panjang kelenteng yang telah berdiri selama 160 tahun. Perayaan HUT itu juga menjadi ruang pertemuan lintas budaya dan agama.
"Perayaan ini adalah wujud rasa syukur atas anugerah alam dan leluhur. Kami juga ingin menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan utama yang mempersatukan bangsa," kata Liemawan di lokasi, Minggu (12/4/2026).
Salah satu yang menjadi daya tarik, kata dia, yakni prosesi akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Arak-arakan gunungan hasil bumi serta prosesi sarana puja diiringi gending Jawa dan pembacaan paritta.
"Arak-arakan menjadi sebuah tradisi yang melambangkan ucapan terima kasih atas kemakmuran alam semesta," katanya.
Akulturasi Jawa-Tionghoa juga tampak dari para peserta juga tampak mengenakan pakaian adat Jawa sambil membawa dupa, pelita, air suci, buah, dan bunga. Ia berharap hal itu bisa merekatkan harmoni antara komunitas Tionghoa dan budaya lokal Jawa Tengah.
Perayaan HUT ke-160 Klenteng TITD Ling Hok Bio di kawasan Pecinan, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Minggu (12/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Cia Lo Cu Kongco Hok Tek Tjing Sien, Agung Kurniawan menyebut, akulturasi ini juga menjadi bentuk harmoni budaya yang telah lama terjalin.
"Inilah yang kami sebut doa visual. Akulturasi ini bukan sekadar tontonan, tetapi menunjukkan kami adalah bagian dari tanah Jawa," jelasnya.
"50 kelenteng dari berbagai daerah di Jawa Tengah ikut dalam arak-arakan hari ini," ujarnya.
Selain itu, tambahnya, puluhan klenteng lain juga hadir sebagai tamu kehormatan sehingga total peserta mencapai sekitar 110 perwakilan.
(apl/apl)



