Keraton Solo dari pihak Sri Susuhunan Paku Buwono Empat Belas atau Paku Buwono XIV Purbaya akan menggelar malam Selikuran di bulan Ramadan. Malam Selikuran akan digelar pada Senin (9/3) malam.
Pengageng Parentah PB XIV Purbaya, KGPH Panembahan Dipokusumo mengatakan malam Selikuran akan menghadirkan kirab tumpeng sewu. Di mana kirab tersebut mulai dari Keraton Solo menuju ke Taman Sriwedari.
"Inti kegiatan ini (Malam Selikuran) memang sejak di era zaman Paku Buwono X sampai sekarang dan itu dijadikan semacam kolaborasi dengan semua stakeholder yakni Pemerintah Kota," katanya ditemui awak media di Keraton Solo, Minggu (8/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dipokusumo mengatakan, Malam Selikuran menjadi momen di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Dengan begitu, Malam Selikuran dimaknai sebagai turunnya Lailatul Qadar.
"Di bulan Ramadan ini, ya memang makna dari ini juga langsung berkonotasi dengan nilai keagamaan, dalamnya adalah nilai agama Islam, di mana malam selikur itu dimaknai sebagai tumurunipun, turunnya Lailatul Qadar. Maka dari simbolis yang berada di dalam budaya Jawa itu meng-hajad dalem menggunakan tumpeng sewu," ungkapnya.
Kirab tumpeng sewu ini nantinya akan dimulai dari Sitihinggil, Keraton Solo menuju Pagelaran lalu ke Gladak hingga jalan ke Taman Sriwedari.
"Lha itu tumpeng sewu dibagikan kepada masyarakat yang hadir di sekitar upacara kegiatan di Sriwedari tersebut. Jadi secara singkat rute kirab nanti seperti jelas diawali doa bersama di Kagungan Dalem Sasana Bangsal Sewaka atau Sitihinggil, kemudian ke Pagelaran, Bangsal Sasana Sumewa, kemudian terus ke utara menuju Gladag, kemudian ke kiri, ke barat, terus sampai di Sudari baru masuk ke Slamet Riyadi hingga ke Sriwedari yang nanti akan diadakan serah terima, pasrah tinampinipun dari utusan dalem Keraton Surakarta kepada Mas Walikota Surakarta, Mas Respati Ardi," pungkasnya.
