Sejumlah seniman melukis on the spot di sekitar pohon randu alas yang diyakini berusia ratusan tahun yang berdiri di Lapangan Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Melukis on the spot ini dilakukan sehari menjelang pohon itu ditebang, hari ini.
Sejumlah seniman yang melukis pohon randu alas ini bukan hanya dari wilayah Kecamatan Borobudur saja. Melainkan ada yang datang dari Jogja, Kota Magelang, Muntilan, Mungkid maupun daerah lainnya.
Karena hujan, para seniman melukis dari bangunan joglo yang berada di sisi selatan. Sedangkan pohon randu alas ini persis berdiri di sisi utara lapangan. Pohon randu alas ini ditebang karena sudah mati.
"Ini satu refleksi merespons salah satu pohon yang ada di Tuksongo akan ditebang besok (hari ini). Nah, kami sebagai seniman ada sedikit kepedulian," kata Atmojo, inisiator melukis on the spot pohon randu alas kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini perlu ada satu nilai dokumentasi. Mungkin dari kami pihak seniman untuk membuat karya," sambungnya.
Atmojo mengatakan, pohon randu alas di Desa Tuksongo ini sudah bertahan lintas generasi. "Kemungkinan usia sudah ratusan tahun. Dari generasi ke generasi berikutnya mengetahui sudah sebesar ini pohonnya," imbuhnya.
"Kami sayang melihat pohon randu alas harus ditebang. Ini sebuah ikon, luar biasa. Makanya di sini branding lapangan randu alas," tambah Atmojo.
Atmojo menambahkan, media melukis ada yang menggunakan kanvas maupun kertas. Kemudian ada yang menggunakan cat akrilik maupun cat air.
"Tapi, rata-rata menggunakan akrilik. Kami punya inisiatif membuat narasi legenda. Besok pagi dari awal sampai (selesai), kami akan membuat dokumentasi," tambah Atmojo.
Seniman lainnya, Wahudi dari Gajah Barong, membuat lukisan dengan nuansa pohon yang tercerabut. "Ini justru seperti tercerabut, tersakiti. Notabene pohon yang sudah puluhan tahun, ratusan tahun, tapi masyarakat sekarang kurang memahami," ujarnya.
Sejumlah seniman melukis on the spot pohon randu alas yang diyakini berusia ratusan tahun di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (11/1/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Ia melukis dengan teknik aquarel. Dia menyikapi dalam lukisannya seperti mencekam dan sangat tersakiti.
"Ini (lukisannya) sampai akarnya tercerabut. Ini saya juduli tercerabut oleh zaman," katanya dengan menggunakan cat air.
Sebagaimana diberitakan, pohon randu alas, yang diyakini berusia ratusan tahun dan berdiri di Lapangan Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang bakal ditebang. Alasan bakal ditebangnya karena pohon tersebut sudah kering dan dikhawatirkan bisa roboh.
Adapun pohon randu alas ini sudah menjadi ikon untuk Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Terlebih lapangan ini menjadi salah satu tujuan destinasi rombongan naik VW, Jeep, ATV maupun lainnya.
Biasanya wisatawan berfoto-foto maupun selfie di Lapangan Desa Tuksongo dengan latar belakang perbukitan Menoreh. Adapun pohon randu alas ini berada di sisi pojok utara lapangan.
Bahkan dari kejauhan saat menuju lokasi lapangan, pohon ini sudah terlihat. Pasalnya, pohon randu alas yang berusia ratusan tahun ini menjulang tinggi serta terlihat kering.
Pohon tersebut batangnya sudah mengelupas kering. Adapun kondisi pohon yang kering dari bawah sampai ranting-ranting kering.
Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, saat dimintai konfirmasi membenarkan rencana untuk menebang randu alas yang jadi ikon desanya.
"Sebetulnya kami dari desa sangat menyayangkan. Karena pohon randu itu sebagai ikon desa kami, tetapi berhubung pohon randu itu usianya sudah ratusan tahun," kata Karim kepada wartawan, Rabu (7/1).
"Kita sudah ke DLH (Dinas Lingkungan Hidup) minta pengupayaan agar pohon bisa disembuhkan dari pengeringan. Tetapi, kita sudah berusaha pohon itu sudah diobati ternyata tidak mandi (tetap kering). Mungkin, memang itu sudah waktunya (mati), karena usia dan upaya kami termasuk gagal tidak bisa menyelamatkan," beber Karim.

