Susunan Acara Mapati, Tradisi 4 Bulanan Ibu Hamil Menurut Adat Jawa

Susunan Acara Mapati, Tradisi 4 Bulanan Ibu Hamil Menurut Adat Jawa

Desi Rahmawati - detikJateng
Minggu, 11 Jan 2026 08:01 WIB
Ilustrasi Ibu Hamil Makan Buah
Ibu hamil. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Makidotvn)
Solo -

Masyarakat Jawa termasuk masyarakat yang masih kental akan adat istiadat, termasuk dalam bab kehamilan. Menurut adat Jawa, seorang ibu hamil perlu mengadakan tradisi masa kehamilan. Setelah menginjak usia kandungan 4 bulan, ibu hamil akan melaksanakan acara mapati.

Tradisi Jawa masa kehamilan ini merupakan tradisi lama yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dikutip dari buku Kecantikan Perempuan Timur oleh Martha Tilaar dan Dorothea Rosa Herliany, tradisi mapati dipercaya dapat melindungi ibu dan calon bayi dari malapetaka dan gangguan makhluk halus. Oleh karena itu, tradisi masa kehamilan masih sering dilakukan hingga sekarang.

Demikian juga dengan acara mapati yang dilakukan ketika kandungan berusia 4 bulan. Acara mapati hingga sekarang masih rutin dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Jawa. Lantas, bagaimana susunan acara mapati? Mari simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Acara Mapati?

Acara mapati adalah salah satu dari rangkaian tradisi kehamilan oleh masyarakat Jawa. Dirujuk dari buku Ritual dan Tradisi Islam Jawa oleh Muhammad Sholikhin, acara mapati adalah ritual yang dilaksanakan ketika kehamilan ibu mencapai usia 120 hari atau empat bulan. Tradisi ini disebut juga dengan tradisi ngupati yang dalam masyarakat Jawa berarti sasi papat. Selain itu, tradisi ini juga menyajikan jamuan berupa ketupat.

ADVERTISEMENT

Acara mapati dilakukan sesuai dengan keyakinan bahwa di usia 120 hari tersebut, Allah SWT meniupkan ruh kepada janin dalam kandungan. Hal ini menjadi tanda dimulainya kehidupan ruh bagi sang janin yang dikandung. Oleh karena itu, masyarakat Jawa melakukan acara mapati untuk memohon kebaikan bagi sang janin dengan berdoa kepada Allah SWT.

Susunan Acara Mapati

Acara mapati yang dilaksanakan ketika kehamilan menginjak usia empat bulan mencakup susunan kegiatan keagamaan. Dirujuk dari publikasi ilmiah berjudul Sedekah Mapati dalam Tradisi Keberagamaan Masyarakat di Desa Ngaluran Kecamatan Karangnayar Kabupaten Demak (Studi Living Qu'an) oleh Shinta Nihayatul Ulya, susunan acara mapati meliputi rangkaian kegiatan berikut ini.

1. Persiapan perlengkapan selamatan

Kegiatan pertama dalam acara mapati adalah mempersiapkan perlengkapan selamatan. Persiapan dilakukan mulai pagi hari hingga sore hari oleh keluarga yang bersangkutan dan dibantu kerabat atau tetangga. Perlengkapan yang diperlukan adalah uba rampe yang mencakup nasi kuning, makanan ringan dari pasar, bubur merah dan putih, dan ketupat.

2. Menyampaikan undangan selamatan

Setelah persiapan perlengkapan selamatan disiapkan, anggota keluarga akan menyampaikan undangan selamatan kepada kerabat dan tetangga. Acara mapati ini biasanya dilakukan setelah maghrib atau setelah isya.

3. Doa bersama

Pada malam harinya, dimulai inti acara mapati, yakni doa bersama. Doa-doa yang dipanjatkan berupa surat-surat Al-Quran. Dikutip dari penelitian berjudul Tradisi Tasyakuran 4 Bulanan Kehamilan (Studi Living Hadis di Desa Sumber Wringin Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember) oleh Harisatun Maulidiyah, surat Al-Qur'an pilihan yang dibaca ketika acara Mapati adalah surat Yasin, surat Al-Waqiah, surat Yusuf, surat Maryam, surat Muhammad, dan surat Luqman. Doa-doa tersebut dipilih untuk memanjatkan permohonan keselamatan dan kesehatan bagi sang ibu dan calon bayi.

4. Pemberian berkat dan sedekah

Acara mapati ditutup dengan pemberian berkah dan sedekah kepada kerabat serta tetangga yang hadir. Pemberian berkat ini bertujuan agar doa-doa yang dipanjatkan membawa berkah dan dikabulkan oleh Allah SWT. Bentuk sedekah bisa dalam bentuk nasi kenduri yang dibawa pulang oleh hadirin, atau bisa juga berupa uang atau pakaian.

Makna Acara Mapati

Acara mapati sebagai tradisi syukuran empat bulanan usia kehamilan memiliki makna mendalam dan religius. Inti dari acara mapati adalah untuk mendoakan bayi.

Doa yang dipanjatkan selama acara ini merupakan doa permohonan kepada Allah SWT agar sang janin lahir menjadi manusia yang utuh dan sehat, dianugerahi rezeki yang baik, berumur panjang bermanfaat, memiliki nilai-nilai ibadah, serta beruntung di dunia dan di akhirat. Selain itu, acara Mapati juga dimaknai sebagai wujud syukur atas kehadiran bayi yang menjadi anggota baru dalam keluarga.

Itu dia susunan acara mapati sebagai tradisi 4 bulanan ibu hamil menurut adat Jawa. Semoga dapat membantu detikers!

Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads