Banjir rob melanda Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati semakin parah dalam kurun waktu dua tahun ini. Sejumlah petambak kini harus gigit jari karena budi daya ikan nila salin gagal total usai terendam banjir.
Hal ini dialami petani tambak Desa Tunggulsari, Agus Subekti. Pekerjaan sebagai petani tambak merupakan mata pencarian utama Agus yang hidup di pesisir pantai.
Banjir rob kini menggenangi 80 hektare tambak dari total 160 hektare tambak di Desa Tunggulsari. Hal ini membuat para petani tambak harus merugi karena gagal panen ikan nila salin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya memohon kepedulian kepada pemerintah pusat, atas kejadian rob di Desa Tunggulsari ini. Rob sudah merusak menenggelamkan hampir 50 persen Desa Tunggulsari. Seluas 80 hektare tambak tidak bisa dikelola lagi. Karena rob yang melanda desa kami," jelas Agus ditemui di lokasi, Sabtu (20/6/2026).
Agus mengatakan banjir rob di desanya terjadi dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini. Terutama saat musim pasang surut di wilayah pantai. Dampaknya permukiman warga dan lahan tambak petani terendam banjir.
"2 tahun rob melanda di sini, rumah dan tambak kebanjiran. Kami sangat lumpuh, saya kemarin ngisi tambak utang di bank dan sekarang sudah tenggelam semua," jelasnya.
Agus mengaku pada tahun 2025 silam telah gagal panen ikan karena kebanjiran. Tahun ini, ia mulai bangkit dengan modal seratusan juta untuk budidaya ikan nila salin. Bukannya untung justru Agus kembali rugi setelah banjir rob datang lagi.
"Kondisi sudah bercampur dengan ikan lain sudah tidak seperti asalnya. Kemarin utang Rp 150 juta ya rugi, buat beli pakan dan sekarang ikannya pada lepas," jelasnya.
Agus memiliki 2 hektare lahan tambak. Ia mengaku sudah tinggal beberapa pekan lagi akan panen. Namun kini tambak terendam banjir. Ikan yang ada di tambak sudah hilang.
"Sudah setengah jalan semua, terus begitu ada rob dan aktivitas lumpuh, ikannya lari kemana-kemana," jelasnya.
Menurutnya kerugian petani bermacam. Agus mengaku mengalami kerugian seratusan juta. Akan tetapi secara keseluruhan petani tambak bisa mencapai Rp 60 miliar.
"Kerugian banyak miliaran, ada Rp 60 miliar. Kalau di sini kasih pakan itu 10 ton ada. Terus beli anakan dan beli pakan. Kerugian miliaran," jelas dia.
Petambak lainnya, Junaidi juga mengaku merugi karena lahan tambak berada di paling ujung terkena banjir rob. Dampaknya Junaidi sempat mengalami stres karena rugi puluhan juta imbas gagal panen ikan.
"Saya sebagai tulang punggung keluarga sempat mengalami stres dan pernah dirawat di rumah sakit karena beban mental, pikiran serta tanggung jawab cukup besar, utang tambak dan modal awal sampai sekarang belum bisa mengalami pemulihan secara segi ekonomi dan psikis," jelas Junaidi ditemui di lokasi.
Junaidi mengaku meminjam modal Rp 50 juta untuk budidaya ikan. Uang itu pun hilang karena tambaknya kebanjiran.
"Kerugian dari modal awal Rp 50 jutaan," jelasnya.
Junaidi kini banting setir bekerja serabutan. Ia menjadi tukang ojek ikan saat ada petani ikan yang panen.
"Cenderung bekerja serabutan saya diminta ojek ikan," jelasnya.
Diwawncarai terpisah, Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi mengatakan wilayahnya yang kebanjiran ada 80 hektare tambak ikan nila. Otomatis tambak milik petani ini gagal panen. Kerugian akibat banjir roh ini diperkirakan mencapai puluhan miliar.
"Tambak yang terdampak ada 80 hektare, ini praktis tidak bisa dikelola karena tanggul jebol, tambak ikan ada yang baru tebar, ada yang mau panen, ada yang masih nunggu seminggu lagi mau panen. Kerugian puluhan miliar," jelasnya.
