Hobi bermain layang-layang bapangan (sayap lebar) bagi Purtopo (50) warga Dusun Sorobujan, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Klaten berbuah manis. Setiap musim kemarau tiba, kerajinan layangan buatannya mendatangkan pundi-pundi cuan.
Ditemui di rumahnya di tepi Jalan Raya Jimbung-Wedi, pria yang akrab dipanggil Topek itu tengah menyusun bilah-bilah bambu. Bilah bambu tipis disambung dengan benang membentuk pola layang-layang dengan sayap berukuran panjang sekitar satu meter.
Di dinding tembok teras rumah yang jadi toko kelontong, terpampang beberapa layangan bapangan sudah siap dikirim ke pemesan. Ada yang berbentuk burung, ikan bahkan seperti pesawat terbang berbahan plastik warna-warni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini cuma sampingan, pekerjaan saya sebenarnya dagang. Awalnya saya itu buat layanan karena keadaan, waktu COVID," tutur Purtopo kepada detikJateng, Minggu (7/6/2026) siang.
Kala itu, kata Purtopo, aktivitas masyarakat dibatasi pemerintah, ke mana-mana tidak bisa. Akhirnya dirinya memilih kesibukan membuat layangan di rumah.
"Ya akhirnya bikin layangan di rumah. Di awal buat ya tidak mudah, tidak bisa terbang tapi akhirnya semakin ke sini bisa dan terbiasa buat," lanjut Purtopo.
Purtopo menceritakan meskipun sejak kecil hobi bermain layang-layang, ilmu membuat layangan bapangan didapat secara autodidak. Termasuk dengan melihat di YouTube.
"Ya juga lihat YouTube, awalnya bisa buat tapi tidak bisa terbang. Bikin layangan tidak semudah dibayangkan tapi karena pengalaman akhirnya bisa," kata Purtopo.
Di awal, sambung Purtopo, layangan hanya digunakan anak lelakinya. Tetapi akhirnya banyak warga yang tertarik dan memesan.
"Akhirnya banyak yang pesan warga sini, ya kita buatkan. Ee ternyata ada hasilnya terus,saya bikin setiap musim kemarau," ucap bapak empat anak itu.
Setiap musim kemarau datang, lanjut Purtopo, dirinya bisa memproduksi ratusan layangan berbagai model sesuai permintaan. Saat permintaan semakin banyak, beberapa toko ikut memesan.
"Toko-toko ikut memesan tapi jumlahnya banyak saya kewalahan karena tingkat kesulitan satu model beda-beda. Pernah ngajak orang lain kerjakan tapi tidak kerasan juga," kata Purtopo.
Ditambahkan Purtopo, dari getok tular kini dirinya rutin menggarap pesanan layangan setiap musim kemarau. Konsumen pun tidak hanya Klaten.
"Yang banyak ya Klaten, tapi ada juga dari Jogja dan Solo. Pernah juga ada orang mudik pesan untuk dibawa pulang ke Bogor," ujar Purtopo.
Soal harga, sebut Purtopo, tidak ada patokan karena tergantung model dan ukuran. Layangan bapangan model biasa seperti burung harganya mulai Rp 40.000.
"Paling murah Rp 40.000 untuk model biasa dengan panjang 1 meter. Model Pegon Lodaya bisa sampai Rp 450.000 karena tingkat kesulitan tinggi dan warnanya, kalau bahan sih mudah cuma bambu dan plastiknya pesan online," imbuh Purtopo sambil menunjukkan album foto berisi puluhan model layang-layang bapangan yang pernah dibuatnya.
Waktu dirinya memproduksi layangan bapangan, tambah Purtopo, bisanya mulai bulan Juni dan puncaknya September. Soal omzet dirinya mengaku sampai jutaan.
"Penghasilan ya sampai jutaan gitu saja. Untuk model bapangan biasa sehari bisa buat 15 biji tapi untuk yang lain tergantung model,' pungkas Purtopo yang mampu meluluskan satu anaknya jadi sarjana.
Parjo (70) warga setempat mengatakan sejak COVID Purtopo memang membuat layangan bapangan. Biasanya saat kemarau datang mulai ramai.
"Kalau pun ketigo (kemarau) ya ramai, ya cuma disini. Mau ikut buat tidak bisa, ndak telaten saya," ungkap Parjo.
