Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono melakukan panen udang bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Kebumen. Panen raya udang ini mencapai 80 ton dan disebut berhasil mencapai standar produksi terbaik dunia atau best practice.
Panen raya udang ke-8 dilaksanakan di kawasan Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kabupaten Kebumen, Kecamatan Petanahan. Tampak Menteri Trenggono mendampingi Presiden Prabowo dan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.
Mereka tampak menyapa para petambak di tambak udang tersebut. Selain melihat para petambak, mereka pun ikut mencoba panen raya bersama para petambak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Prabowo mengapresiasi panen raya tersebut dan menyebut proyek tambak udang itu menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Produktivitas tambak disebut mencapai 40 ton per hektare dengan harga jual udang sekitar Rp 70 ribu per kilogram.
"Proyek ini sudah 3 tahun dan panennya sekarang sudah hasilnya sudah tingkat tertinggi, tingkat dunia, sangat menjanjikan. Tadi saya diberi laporan, 1 hektare bisa menghasilkan 40 ton," ucapnya di BUBK Kebumen, Sabtu (23/5/2026).
"Luar biasa 40 ton dan harganya sangat bagus. Harganya paling rendah. Rp 70 ribu per per kg. Berarti per ton Rp 70 juta. Jadi ini sangat bagus, sangat produktif," lanjutnya.
Menurutnya, proyek tambak tersebut juga menyerap sekitar 650 tenaga kerja lokal. Pemerintah pun berencana memperluas proyek serupa di sejumlah daerah lain.
"Di Waingapu 2 ribu hektare, kita juga akan bangun di Gorontalo 200 hektare, dan sedang bangun di Jawa Barat 14 ribu hektare. Hasilnya di sana ikan, di sini udang," jelasnya.
Capai Best Practice
Sementara itu, Trenggono mengatakan, produktivitas tambak udang di kawasan tersebut kini mencapai 40 ton per hektare. Angka itu disebut sebagai standar tertinggi dalam industri budidaya udang dunia.
"Kalau bisa mencapai titik optimal, maka satu hektarenya akan menuju ke best practice. Best practice itu di 40 ton per hektare. Alhamdulillah ini bisa mencapai best practice," kata Trenggono.
"Yang terbaik di dunia itu best practice, yang terbaik dunia 40 ton. Kita dengan memunculkan seluruh standar industri itu kita sudah lakukan dan kita berhasil," lanjutnya.
Ia menjelaskan, kawasan tambak di BUBK Kebumen memiliki luas total 100 hektare. Dari jumlah itu, 65 hektare sudah terbangun dengan kolam efektif budidaya seluas 24 hektare dan 139 petak tambak.
Sememtara untuk kepadatan tebar udang kini dimaksimalkan hingga 250 ekor per meter persegi untuk menguji produktivitas optimal.
"Panen ke-8 ini membuktikan bahwa per hektarnya sudah bisa mencapai target terbaik," ujarnya.
Ia menjelaskan, total udang yang dipanen pada panen raya hari ini mencapai sekitar 80 ton. Namun Trenggono menjelaskan, panen dilakukan secara parsial karena ukuran udang tidak seragam.
"Yang tadi dipanen itu yang sudah paling besar, size (udangnya) 20-an. Kalau keseluruhan akan menghasilan 960 ton dari seluruh 24 hektare. Kalau hati ini total 80 ton," jelasnya.
Seluruh hasil udang berjenis vaname dari kawasan tersebut disebut akan ditujukan untuk pasar ekspor seluruhnya. Ekspor paling besar yakni ke Amerika, China, Jepang, dan negara-negara Eropa.
"(Nilai ekonomisnya?) Kira-kira Rp 153 miliar satu tahun, untuk panen overall dua kali. Setelah 105 atau 110 hari itu bisa dipanen," ucapnya.
Selain Kebumen, kata Menteri Trenggono, KKP juga tengah membangun kawasan tambak udang baru di Waingapu seluas 2 ribu hektare yang ditargetkan rampung pada akhir 2027.
"Kemudian Bolaang Mongondow Utara, perbatasan Gorontalo dengan Sulawesi Utara. Harus di pinggir pantai karena airnya 100 persen pakai air laut," ucapnya.
(aku/ahr)
