Jasa Salon Sapi di Klaten Panen Order Jelang Hari Raya Kurban

Jasa Salon Sapi di Klaten Panen Order Jelang Hari Raya Kurban

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Kamis, 14 Mei 2026 13:23 WIB
jasa salon sapi keliling Tulungagung
Ilustrasi jasa salon sapi. Foto: Adhar Muttaqien
Klaten -

Menjelang hari raya Idul Adha 1447 H, jasa salon hewan kurban di Klaten panen orderan. Omzet jasa mereka naik dibanding dengan hari-hari biasa.

Hal itu diakui Romdhoni (47) dan Wagiman (60), dua warga penyedia layanan salon hewan kurban, terutama sapi. Dalam sehari kadang sampai 2-3 ekor yang mereka rapikan penampilannya.

"Kalau hari biasa tidak mesti, ini (jelang Idul Adha) bisa 2-3 ekor. Ya bisa untuk makan sehari-hari, tambahan biaya nyekolahkan anak," ungkap Romdhoni yang tinggal di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten, Kamis (14/5/2026) siang saat menunggu pasien di pasar hewan Jatinom.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diceritakan Romdhoni, bisnis jasa merapikan ternak sapi itu sudah ditekuninya sekitar tiga tahun. Sebelumnya menekuni jasa itu dirinya ikut orang memelihara sapi.

ADVERTISEMENT

"Awalnya saya ikut orang merawat sapi, ikut juragan terus belajar, lama-lama bisa. Dipesan suk bisa dinggo dewe (nanti ilmu bisa dipakai sendiri)," tutur Romdhoni.

Menurut Romdhoni, jasa yang disediakannya mulai dari memotong kuku, merapikan tanduk, memasang kelohan (ikatan hidung sapi) dan merapikan. Untuk sekali paket lengkap ongkos sekitar Rp 200 ribu.

"Ongkos ya lihat jaraknya, jauh dekatnya lokasi. Untuk Klaten dan sekitarnya ya Rp 200 ribu per ekor, besar kecilnya sapi sama saja," kata Romdhoni.

Untuk menjual jasanya, sambung Romdhoni, bisa panggilan atau datang ke rumah. Tapi juga keliling ke pasar-pasar hewan dari Klaten sampai Sukoharjo.

" Ya ke pasar Prambanan, Jatinom, Pedan juga ke Bekonang (Sukoharjo). Kalau banyak yang bawa teman tapi kalau cuma 1-2 ekor bisa sendiri," ungkap Romdhoni.

Soal ongkos, sebut Romdhoni, memang sebesar itu karena risikonya juga tidak ringan. Beberapa kali dirinya sempat ditendang sapi atau ditanduk sapi.

"Risikonya tinggi, dada saya pernah kepengkal (tendangan ke belakang), pernah juga keinjak, diseruduk. Tapi ya selama ini tidak ada yang sampai parah," lanjut Romdhoni yang juga berdagang sapi.

"Alatnya ya ini, kalau lengkap ya alatnya lengkap," imbuh Romdhoni sambil menunjukkan tiga pisau berbentuk sabit ukuran kecil.

Wagiman, rekan Romdhoni mengatakan dirinya hanya ikut jika sapi yang ditangani cukup banyak. Repotnya jika sapinya galak perlu sabar.

"Ya repot kalau sapinya galak, kan tidak semua sapi itu jinak. Saya sudah tiga tahun ikut tapi belum bisa sendiri," kata Wagiman kepada detikJateng.




(ahr/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads