Peternak ayam petelur mengeluhkan kurangnya serapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini dinilai menjadi salah satu pemicu anjloknya harga telur.
Presidium PINSAR Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, menegaskan bahwa saat ini Indonesia tidak kekurangan telur. Sebaliknya, produksi nasional justru meledak hingga 18.000 ton atau sekitar 280 juta butir setiap harinya. Namun, melimpahnya pasokan ini tidak dibarengi dengan serapan pasar yang memadai.
"Kita sudah swasembada, produksi melimpah, tapi serapannya rendah, ditambah daya beli masyarakat yang sedang jatuh. Akibatnya apa? Harga telur menumpuk, harganya terpuruk hancur lebur," katanya ditemui di Orient Restaurant, Sabtu (2/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peternak merasa dikhianati oleh keadaan. Di saat mereka berhasil memenuhi kebutuhan protein nasional, harga telur di tingkat kandang justru anjlok dari Rp 26.500 menjadi hanya Rp 21.000 per kg. Angka ini disebut sudah di bawah biaya operasional peternak.
"MBG (Makan Bergizi Gratis) yang kami andalkan, MBG yang kami harap-harapkan, ternyata penyerapannya pun terjadi pengurangan. Sehingga saat ini kondisi yang kami alami di lapangan, harga telur langsung anjlok ke titik 21.000. Dan kondisi ini bukan kondisi yang nyaman karena pakan naik dua kali, lebih kurang 400 rupiah, pakan jadi juga 400 rupiah," ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh Pengurus PINSAR, Suwardi. Kabar mengenai anak sekolah yang bosan makan telur dianggap sebagai alasan yang tidak masuk akal dan tidak bertanggung jawab.
"Ada keluhan katanya anak SD kalau diberi telur 3-4 hari berturut-turut bosan. Ini tidak boleh terjadi. Tujuan program ini kan untuk gizi anak-anak menuju Indonesia Emas, sekaligus menyerap produksi peternak. Kalau guru-gurunya saja tidak bertanggung jawab membiarkan telur tidak dimakan, ya serapan pasti rendah," tegas dia.
Pihaknya mengaku banyak berharap dengan adanya MBG untuk penyerapan telur. Namun harapan itu justru berbanding terbalik dengan kenyataan.
"Makanya dengan kehadiran MBG yang kemarin disampaikan Pak Prabowo betulnya program ini mulia, tetapi tidak dibarengi bahwasanya perencanaan yang baik sehingga dalam pengelolaan MBG, penggunaan apa asupan yang di dalamnya belum semua dapur mengikuti," bebernya.
Meski digadang-gadang jadi penyelamat, kenyataannya serapan telur untuk program MBG saat ini disebut baru menyentuh angka 1 persen. Apalagi, saat ini daya beli masyarakat juga turun.
"Euforia adanya MBG kemarin yang disampaikan semua akan mendukung program ketahanan pangan, yang sudah terjadi adalah kebutuhan telur kita cukup, daya beli rendah, MBG serapannya juga tidak maksimal sehingga kondisi telur menumpuk harganya terpuruk," bebernya.
Ia mengaku saat diminta oleh Pemerintah untuk menjaga stok dan ketahanan pangan dalam pemenuhan protein anak-anak. Kebutuhan itu, kata dia juga awalnya untuk menyuplai daerah terpencil.
"Pemerintah berharap untuk menjaga ketahanan pangan, stok telur dan meningkatkan potensi kebutuhan untuk protein anak-anak, yang paling mudah adalah telur. Paling mudah harganya juga murah, kan seperti itu. Ada sedikit daerah-daerah terpencil yang di situ memang distribusinya susah, itu kita maklumi," terangnya.
Para peternak mendesak pemerintah segera melakukan tindakan darurat. Mereka menuntut regulasi yang tegas untuk menjaga ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir, termasuk menghidupkan kembali program penanganan stunting untuk menyerap stok telur.
Sebagai langkah lanjutan, para peternak bakal mengirimkan surat kepada Menteri Pertanian hingga Menko Pangan agar segera ada tindakan nyata di lapangan untuk menyelamatkan nasib peternak rakyat.
"MBG yang sudah jalan dimohon untuk bisa dua kali menggunakan telur dalam satu minggu. Yang kedua, program-program yang lain khususnya untuk penanganan stunting agar kami bisa tetap bertahan harga nanti sesuai dengan harga acuan dari pemerintah, harga di kandang adalah minimal di Rp 25.000 sampai Rp 26.500," pungkasnya
