Kenaikan harga plastik itu terasa di toko plastik di Karangkidul, Kota Semarang. Salah satu karyawan Toko Plastik Juna's, Fimela (28), mengatakan kenaikan itu sudah terasa sejak Ramadan.
"Naiknya sejak dua minggu sebelum Lebaran, sudah naik sekitar 30 persen. Kayak kertas minyak yang panjang dulunya sekitar Rp 26 ribu, naik jadi Rp 31 ribu, terus naik lagi terakhir Rp 37 ribu," kata Fimela kepada detikJateng di Karangkidul, Selasa (7/4/2026).
Ia mengatakan, kenaikan itu terjadi bukan per minggu. Bahkan, setiap harinya ada kenaikan harga plastik yang diinformasikan dari distributor pusat. Kenaikan harga paling parah terjadi untuk plastik buram yang biasa digunakan para pedagang kaki lima (PKL).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Naiknya bertahap dan kadang setiap hari, naik 10 persen, kayak harga emas menurutku. Plastik 1 kg yang buram kan sering dipakai pedagang pinggir jalan, dulu Rp 3.500 sekarang jadi Rp 5.500," tuturnya.
"Jadi kasihan sama pedagang kecil, kan dia jualan juga nyari untung, beli plastik mahal, sudah hampir 100 persen kenaikannya dan bisa naik lagi," imbuhnya.
Selain itu, harga plastik thin wall juga meningkat dari Rp 85 ribu per slop menjadi Rp 105 ribu. Ia menduga kenaikan harga itu diduga imbas perang Amerika-Iran. Harga plastik disebut meningkat karena harga minyak dunia yang juga naik secara signifikan.
Fimelameminta pemerintah segera ambil langkah untuk mengintervensi harga plastik agar bisa segera normal kembali.
"Soalnya kasihan sama pedagang kecil, kalau bisa para petinggi sebaiknya bijak dalam mengambil keputusan, jangan gegabah intinya," tuturnya.
Salah satu distributor plastik, Firza (30), mengaku harga plastik di tokonya yang berada di Gayamsari juga mengalami kenaikan sampai 100 persen.
"Naiknya (harga plastik) ini mulai puasa minggu pertama, ada kabar kenaikan harga dari pusat, dimulainya dari gelas plastik yang buat jualan es teh jumbo, es jus," kata Firza.
Saat itu, kata dia, kenaikan harga plastik baru mencapai 10 persen. Namun semakin lama, harga plastik naik semakin tajamnya. Per kardusnya, harga gelas plastik naik dari Rp 260 ribu menjadi Rp 275 ribu.
"Kalau harga ecernya biasanya kita masih bisa jual Rp 14 ribu, itu sudah nggak bisa, cuma kan masih dapat diterima karena cuma naik Rp 1 ribu," tuturnya.
"Mulai memuncaknya mendekati Lebaran. Dari kenaikan 10 persen tiba-tiba per minggunya naik 20-30 persen, terus lanjut ke 50 persen, bahkan sampai ke 100 persen pas mendekati Lebaran itu," lanjutnya.
Ia menyebut, gelas plastik yang dulu per slotnya dihargai Rp 9 ribu, kini terpaksa naik menjadi Rp 15 ribu. Sementara per kardusnya, harga gelas plastik yang semula Rp 250 ribu, naik 100 persen menjadi Rp 500 ribu.
"Jadi yang paling terdampak itu selain saya sebagai pedagang, penjual es teh jumbo dan pemakai-pemakai seperti itu karena mereka biasa belinya per slop itu Rp 15 ribu sekarang jadi Rp 25 ribu," ungkapnya.
Salah satu pembeli, Aji (21), juga mengaku keberatan dengan harga plastik yang terus naik. Ia menyebut, kenaikan yang dirasakannya mencapai 100 persen untuk kantong plastik.
"Ada kenaikan lumayan banyak sih, hampir 100 persen. Aku sering beli plastik salur, dulu beli Rp 78 ribu, seminggu sebelum puasa Rp 88 ribu, terus terakhir kemarin jadi Rp 118 ribu," kata Aji kepada detikJateng.
"Terus ini beli plastik kiloan, harganya 1 kg Rp 5.500, dulunya Rp 3.000. Kalau plastik kantongnya Rp 15.000 dari sebungkusnya Rp 8.000. Kan berarti sudah hampir 100 persen," lanjutnya.
Aji yang berjualan di Soto Mbak Lin pun mengaku bingung karena belum menaikkan harga soto di kedainya. Padahal, plastik sangat dibutuhkan setiap ada pembelian.
"Apalagi jualan di warung soto, pakai bungkus plastik. Jadi pengaruh banget, harga saja nggak naik, jadi keuntungannya turun. Kalau yang lain naik ya mungkin (sotonya) naik juga," ujarnya.
Hal senada dikatakan penjual geprek di Kota Semarang, Ipah (35). Ia menjadi salah satu pedagang terdampak akibat kenaikan harga gelas plastik, kertas minyak, hingga sterofoam.
"Dulu per slopnya Rp 25.000, sekarang sudah Rp 38.000, hampir Rp 40.000. Harga plastik naik semua," ujarnya.
"Naiknya banyak banget. Naik kalau Rp 1.000-2.000 nggak apa-apa tapi ini ngeri, 1 slop kan paling cuma buat 3-4 hari," lanjutnya.
Sama seperti Aji, Ipah juga mengaku belum menaikkan harga gepreknya. Namun, ia sudah berencana menaikkan harga sekitar dari yang sebelumnya sepaket geprek dihargai Rp 10.000 menjadi Rp 11.000.
