Malaysia Kurangi Kuota BBM Subsidi, Harganya Masih Segini

Internasional

Malaysia Kurangi Kuota BBM Subsidi, Harganya Masih Segini

Anisa Indraini - detikJateng
Kamis, 26 Mar 2026 23:16 WIB
SPBU Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia (AP Photo/Joshua Paul)
Pom bensin di Malaysia. Foto: AP/Joshua Paul
Solo -

Malaysia mengumumkan akan mengurangi kuota BBM Subsidi di tengah lonjakan harga minyak imbas konflik di Timur Tengah. Pemangkasan subsidi dimulai per 1 April.

Dilansir detikFinance, Malaysia akan mengurangi kuota BBM subsidi jenis RON 95 dari 300 liter per bulan, menjadi 200 liter per bulan. Namun, harganya tetap dibanderol RM 1,99 per liter atau setara Rp 8.411 per liter (kurs Rp 4.227 per Ringgit Malaysia).

BBM RON 95 baru akan dikenakan harga pasar jika konsumsi warga melebihi kuota yang ditetapkan. Direktur Strategi Investasi dan Ekonom Negara IPPFA Sdn Bhd, Mohd Sedek Jantan mengatakan penyesuaian kuota BBM subsidi merupakan langkah yang tepat meskipun bukan solusi paling efektif dalam jangka panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebut biaya subsidi BBM berpotensi melonjak hingga RM 24 miliar tahun ini jika kuota tak dipangkas. Lonjakan itu disebut merupakan risiko fiskal yang besar.

ADVERTISEMENT

"Menunda tindakan (untuk memangkas subsidi) hanya akan meningkatkan biaya pada akhirnya. Bertindak lebih awal memungkinkan penyesuaian bertahap dan terkontrol, sementara penundaan meningkatkan kemungkinan tindakan yang lebih mendadak dan mengganggu di kemudian hari," ujar Sedek dikutip dari Bernama, Kamis (26/3/2026).

Mohd Sedek mengatakan keputusan pemerintah untuk memangkas jumlah kuota akan menghasilkan penghematan yang lebih stabil dan dapat diprediksi.

"Singkatnya, pemangkasan kuota mengelola penggunaan di tingkat marginal, tetapi penyesuaian harga mendorong perubahan perilaku nyata dan keberlanjutan fiskal," tuturnya.

Sementara, Kepala Ekonom CGS International Securities Malaysia, Nazmi Idrus, mengatakan bahwa penyesuaian kuota BBM subsidi diambil untuk menghindari kenaikan harga BBM RON 95 secara luas.

"Media melaporkan bahwa 90% konsumen menggunakan kurang dari 200 liter bahan bakar sehingga mayoritas masih terlindungi," tutur Nazmi.




(afn/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads