Dirut BEI Mundur Buntut IHSG Runtuh 2 Hari Terakhir

Nasional

Dirut BEI Mundur Buntut IHSG Runtuh 2 Hari Terakhir

Andi Hidayat - detikJateng
Jumat, 30 Jan 2026 10:29 WIB
Dirut BEI Mundur Buntut IHSG Runtuh 2 Hari Terakhir
Direktur Utama BEI, Iman Rachman Foto: Andi Hidayat/detikcom
Solo -

Direktur Utama (Dirut) Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, mengumumkan pengunduran dirinya. Langkah itu diambil buntut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memerah selama dua hari terakhir.

Dilansir detikFinance Jumat (30/1/2026), Iman menyampaikannya sendiri dalam konferensi pers. Ia menyatakan, pengunduran dirinya menjadi bentuk tanggung jawabnya terhadap pasar modal.

"Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iman pun berharap, dia mengundurkan diri akan menjadi langkah terbaik bagi pasar modal ke depan. Ia yakin, IHSG bisa menguat lagi dalam beberapa waktu.

ADVERTISEMENT

"Mudah-mudahan indeks kita yang pagi ini membuka membaik, akan terus membaik hari-hari berikutnya," jelasnya.

IHSG Kebakaran

Diketahui, IHSG melemah hingga 7,35% ke level 8.320,55 pada perdagangan Rabu (28/1). Pada hari yang sama, IHSG bahkan sempat trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham di sesi II perdagangan.

Langkah trading halt juga diambil BEI setelah IHSG melemah 8% pada sesi I perdagangan Kamis (29/1) kemarin. Meski terjadi trading halt, IHSG kembali menguat di penutupan perdagangan meski masih terkoreksi 1,06% ke level 8.232,20.

"Dua hari terakhir bagaimana kondisi market kita dua hari terakhir, ya walaupun kondisi kita pagi hari ini membaik, saya ingin menyampaikan statement dan ini tidak ada tanya-jawab bahwa saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri," tutur Iman.

Pengunjung memotret layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat kembali menghentikan sementara perdagangan atau trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 8 persen menjadi 7.654,66 pada pukul 09.30 WIB. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.Pengunjung memotret layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat kembali menghentikan sementara perdagangan atau trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 8 persen menjadi 7.654,66 pada pukul 09.30 WIB. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa. Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

Dampak 2 Sentimen

Sebagai informasi, IHSG melemah akibat dua sentimen, yakni pengumuman MSCI terkait transparansi free float dan pemangkasan peringkat pasar modal oleh Goldman Sachs. Pengumuman tersebut diumumkan secara beruntun pada Rabu dan Kamis.

MSCI menetapkan sejumlah perubahan indeks review bagi saham Indonesia pada Februari 2026 mendatang. Pertama pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).

Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.

Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status Emerging Market ke Frontier Market.

Sementara Goldman Sachs diketahui menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi 'underweight' dari 'market weight'. Pemangkasan ini dilakukan menyusul pengumuman MSCI yang menjadi sentimen utama anjloknya IHSG dan aksi jual investor asing.

Goldman Sachs juga memperkirakan net sell IHSG akan mencapai US$ 2,2 miliar menyusul pengumuman MSCI. Pada skenario terburuk, net sell bahkan disebut bisa mencapai US$ 7,8 miliar.

"Kami memperkirakan pasar akan tetap berada di bawah tekanan dan tidak melihat ini sebagai titik masuk," kata para ahli strategi Goldman Sachs dikutip dari Business Times, Kamis (29/1).




(apu/afn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads