Imbauan untuk tidak mengadakan pesta kembang api menimbulkan dampak terhadap tingkat hunian atau okupansi hotel di Kota Semarang. Okupansi hotel di Kota Semarang cenderung menurun selama libur Natal dan tahun baru (Nataru).
Hal itu dikatakan Marketing Communication Hotel Ciputra Semarang, Rina Aprilia Hapsari. Ia mengatakan, terdapat kebijakan dari Kepolisian Republik Indonesia dan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk tak mengadakan pesta kembang api.
Peniadaan kembang api pada malam pergantian tahun itu pun membuat minat para tamu untuk menginap menurun 20 persen dari yang sebelumnya 100 persen. Terlebih, hotel yang berlokasi di dekat Simpang Lima itu dikenal rutin mengadakan pesta kembang api saat pergantian tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang terdapat dampak yang kami rasakan. Kami mencatat adanya penurunan tingkat okupansi sekitar 20 persen," kata Rina saat dihubungi, Jumat (2/1/2025).
Ia mengatakan, beberapa tamu yang semula hendak menginap saat tahun baru juga disebut membatalkan reservasinya karena tak ada kembang api.
"Karena pesta kembang api selama ini menjadi salah satu daya tarik utama yang dinantikan oleh para tamu yang menginap saat malam pergantian tahun," jelasnya.
"Namun demikian, pada umumnya tamu dapat memahami kebijakan tersebut karena merupakan ketentuan resmi dari pemerintah," lanjutnya.
Hal senada dikatakan Marcom Executve Novotel Semarang, Theresia Andini. Ia mengatakan, tingkat hunian selama Nataru di hotel tersebut tak 100 persen.
"Kalau pas tanggal 31 Desember nggak penuh, (okupansinya) 90 persen. Kebalikan sama tahun lalu itu Natalnya nggak penuh, cuma tahun baru penuh. Kalau tahun ini Natal penuh, tahun baru nggak," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah (Jateng), Heru Isnawan, menyebut tingkat hunian hotel selama Nataru stabil. Ia menilai imbauan untuk tak menyalakan kembang api itu tak berdampak kepada semua hotel.
"Di beberapa hotel (okupansi) cukup baik. Mungkin di Ciputra menurun karena mereka punya atraksi (kembang api), dan kebetulan jadi nggak ada, jadi ada sesuatu yang hilang," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah (Jateng), Masrofi mengatakan mulanya Disporapar Jateng mencatat okupansi hotel selama Nataru penuh atau 100 persen. Tetapi memang ada pembatalan usai imbauan peniadaan pesta kembang api.
"Jadi, kalau kita melihat kemarin awal okupasi penuh itu berdasarkan orang memesan hotel. Tapi pada realitanya per malam tahun baru ada yang berkurang, terus cancel dan lain sebagainya. Itu apakah pengaruh kembang api kita belum tahu," tuturnya.
"Mungkin juga cancel karena mungkin punya kunjungan wisata ke tempat yang lain. Karena tidak semata-mata secara signifikan kita terus menyimpulkan kembang api itu membuat okupansi Hotel Ciputra menurun. Menurut saya sih nggak," lanjutnya.
Ia menyebut, kebijakan itu hanya mengubah pola perayaan, bukan menghentikan pergerakan pariwisata sepenuhnya. Ia melihat, perayaan berubah menjadi aksi amal hingga doa bersama.
"Jadi dampak paling nyata muncul di hospitality, yang sebelumnya bergantung pada firework (kembang api). Contoh pembatalan tinggi di Magelang ada pembatalan paket paket wisata," tuturnya.
(alg/apl)











































