Finance

Rupiah Terus Melemah, Keluarga Miskin Rentan Terpukul Inflasi

tim detikFinance - detikJateng
Senin, 20 Jun 2022 16:28 WIB
Ilustrasi dolar AS
Ilustrasi. Foto: Ari Saputra
Solo -

Dampak dari terus menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi bakal berdampak pada naiknya harga kebutuhan pokok. Masyarakat miskin akan menjadi korban dari situasi ini.

Pada Senin (20/6/) ini kurs dolar AS berada di rentang Rp 14.788 hingga Rp 14.904.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebut menguatnya nilai tukar dollar AS dapat mempengaruhi secara langsung terhadap ekonomi masyarakat Indonesia. Dampaknya, daya beli akan tertekan inflasi.


"Pelemahan ini berdampak ke beberapa hal, pertama ada kenaikan biaya produksi industri manufaktur. Kenaikan biaya produksi ini, utamanya di manufaktur bergantung ke bahan baku impor akan diteruskan kepada konsumen akhir maka akan menciptakan tekanan inflasi lebih tinggi di dalam negeri," papar Bhima seperti dikutip dari detikFinance, Senin (20/6/2022).

Harga kebutuhan pokok terutama dalam bidang energi dan pangan bakal meningkat. Apalagi, Indonesia masih mengandalkan impor untuk mencukupi kebutuhan di kedua sektor tersebut.

"Tentunya kenaikan harga kebutuhan pokok akan terjadi akibat nilai tukar melemah dan membuat masyarakat keluarkan lebih banyak uang untuk beli kebutuhan sehari-hari," papar Bhima.

Kondisi tersebut menurutnya akan menjadi pukulan bagi masyarakat kelas bawah. Mereka merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.

"Paling terpukul ini 40% kelompok pengeluaran paling bawah. Karena semakin rendah pengeluaran maka semakin rentan terhadap fluktuasi nilai tukar yang berimbas ke harga barang di pasar," ungkap Bhima.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal juga menyebut inflasi akan terkerek akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Menurutnya, kenaikan harga akan terjadi di sejumlah komoditas, bukan hanya energi dan pangan.

"Dampaknya memang akan semakin mengatrol harga barang-barang yang kita impor. Baik barang jadi seperti bahan pangan, obat-obatan, pakaian, kendaraan, elektronika, dan lainnya. Maupun bahan baku bagi industri dalam negeri," ungkap Faisal.



Simak Video "Duh! Rupiah Makin Keok, Dolar AS Nyaris Rp 15.000"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/mbr)