Contoh Sambutan Pembina Upacara Sumpah Pemuda 2026 Sesuai Tema Resmi

Contoh Sambutan Pembina Upacara Sumpah Pemuda 2026 Sesuai Tema Resmi

Nur Umar Akashi - detikJateng
Selasa, 27 Okt 2026 12:53 WIB
Ilustrasi Kata Sambutan
Ilustrasi Sambutan Upacara Sumpah Pemuda 2026 (Foto: Pixabay/Pexels)
Solo -

Penyampaian sambutan atau amanat pembina menjadi inti dari upacara, begitu juga dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026. Sambutan ini dibacakan setelah pembacaan teks Keputusan Kongres Pemuda Indonesia 1928, sebelum menyanyikan lagu nasional.

Ada banyak fokus bahasan yang bisa diangkat dalam sambutan pembina upacara. Salah satunya mengenai tema Sumpah Pemuda 2026 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, yakni 'Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia'.

Dibaca sepintas lalu, tema di atas terasa abstrak. Oleh karenanya, dibutuhkan pengejewantahan agar makna yang terkandung tersalurkan secara optimal. Sambutan pembina upacara adalah momentum tepat untuk menjabarkan tema tersebut secara mendalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum terpikir? Yuk, cek beberapa contoh sambutan pembina upacara Sumpah Pemuda 2026 sesuai tema di bawah ini!

ADVERTISEMENT

Contoh Sambutan Upacara Sumpah Pemuda 2026

1. Sambutan Tema 'Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia'

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang saya hormati para guru dan tenaga kependidikan,
dan yang saya banggakan, seluruh peserta upacara.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan karunia-Nya, pada pagi hari ini kita dapat mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 dalam keadaan sehat.

Hadirin sekalian,

Sembilan puluh delapan tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan berbagai daerah lainnya berkumpul dalam satu ruangan. Mereka berbeda suku, bahasa, dan agama. Namun mereka memilih satu hal yang sama: Indonesia.

Dari pertemuan itu lahirlah Sumpah Pemuda, ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Ikrar itu bukan sekadar kata-kata. Ia menjadi fondasi yang akhirnya mengantar bangsa ini menuju kemerdekaan.

Hadirin yang saya cintai,

Tahun ini kita mengangkat tema "Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia." Tiga kata ini adalah bekal bagi pemuda masa kini. Mari kita maknai satu per satu.

Yang pertama, Patriotik.

Patriotik berarti cinta tanah air yang diwujudkan dalam perbuatan. Pemuda 1928 mencintai Indonesia bahkan sebelum Indonesia merdeka. Hari ini, cinta itu kita tunjukkan dengan cara yang berbeda: belajar sungguh-sungguh, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, bangga pada budaya sendiri, mencintai produk dalam negeri, serta menjaga nama baik bangsa. Patriotisme tidak harus berupa hal besar. Ia bisa dimulai dari disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab kita sehari-hari.

Yang kedua, Gigih.

Para pendahulu kita tidak meraih kemerdekaan dengan mudah. Ada perjuangan panjang, ada kegagalan, ada pengorbanan. Tetapi mereka tidak menyerah. Itulah kegigihan. Anak-anakku sekalian, dalam belajar tentu ada saatnya kita lelah, bosan, bahkan gagal. Namun pemuda yang gigih tidak berhenti di titik itu. Ia bangkit, memperbaiki diri, dan terus melangkah. Ingatlah, keberhasilan bukan milik mereka yang paling pintar, tetapi milik mereka yang paling tekun dan tidak mudah menyerah.

Yang ketiga, Berempati.

Inilah yang sering kita lupakan. Berempati berarti mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain dan mau peduli. Di sekolah, di rumah, maupun di dunia maya, empati menjadi perekat persatuan. Bayangkan jika kita saling menghargai teman yang berbeda, tidak merundung, tidak menyebar hoaks, dan mau menolong yang kesulitan. Betapa kuatnya persatuan kita. Sumpah Pemuda lahir dari kemauan untuk saling memahami. Tanpa empati, persatuan hanya akan menjadi slogan.

Hadirin sekalian,

Perhatikan bahwa ketiganya saling melengkapi. Patriotik tanpa gigih hanya menjadi semangat sesaat. Gigih tanpa empati bisa membuat kita egois. Empati tanpa patriotisme dan kegigihan tidak akan menghasilkan perubahan nyata. Ketika ketiganya menyatu, lahirlah pemuda yang tangguh sekaligus berhati mulia.

Indonesia sedang menyiapkan diri menuju Indonesia Emas 2045. Pada tahun itu, kalianlah yang akan memimpin, mengajar, merawat, dan membangun negeri ini. Maka mulai hari ini, tanamkan tiga nilai itu dalam diri kita masing-masing.

Akhir kata, marilah kita jadikan peringatan Sumpah Pemuda ini sebagai momentum untuk memperbarui tekad: menjadi pemuda yang patriotik dalam cinta, gigih dalam usaha, dan berempati dalam sikap, demi Indonesia yang bersatu, maju, dan berdaulat.

Sekian sambutan saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Sambutan Tema 'Pemuda Indonesia Patriotik'

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua,
Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam kebajikan.

Yang saya hormati para guru dan tenaga kependidikan,
dan yang saya banggakan, seluruh peserta upacara.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan karunia-Nya, pada pagi hari ini kita dapat mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 dalam keadaan sehat.

Hadirin sekalian,

Tanggal 28 Oktober 1928, sembilan puluh delapan tahun yang lalu, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul dalam Kongres Pemuda II. Mereka datang dari latar belakang suku, agama, bahasa, dan daerah yang berbeda-beda. Namun mereka bersepakat bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.

Dari kesepakatan itu lahirlah tiga ikrar yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda: bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Perlu kita ingat bahwa para pemuda saat itu belum hidup di negara yang merdeka. Mereka tidak punya fasilitas secanggih sekarang. Namun mereka punya sesuatu yang lebih berharga, yaitu cinta tanah air dan keberanian untuk bermimpi tentang Indonesia yang bersatu. Tujuh belas tahun kemudian, mimpi itu terwujud dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Hadirin yang saya cintai,

Apa makna patriotik bagi pemuda masa kini? Patriotisme tidak selalu berarti mengangkat senjata. Zaman sudah berubah, dan medan perjuangan kita pun berubah. Pemuda yang patriotik hari ini adalah:

Pertama, pemuda yang tekun belajar dan berprestasi. Belajar dengan sungguh-sungguh adalah bentuk bakti kepada bangsa. Setiap ilmu yang kita kuasai kelak menjadi bekal untuk membangun negeri.

Kedua, pemuda yang menjaga persatuan. Di tengah derasnya arus media sosial, kita harus bijak. Jangan mudah terprovokasi, jangan menyebarkan hoaks, dan jangan menghina perbedaan. Hormatilah teman yang berbeda suku, agama, dan budaya, karena itulah wajah Indonesia.

Ketiga, pemuda yang mencintai dan bangga pada budaya serta bahasa Indonesia. Gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, lestarikan budaya daerah, dan cintailah produk dalam negeri.

Keempat, pemuda yang berintegritas dan berkarakter. Jujur, disiplin, dan bertanggung jawab adalah fondasi patriotisme. Bangsa yang besar dibangun oleh generasi yang bisa dipercaya.

Kelima, pemuda yang peduli dan mau berkontribusi. Mulailah dari hal kecil, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menolong sesama, dan menaati aturan. Dari tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama, lahirlah perubahan besar.

Hadirin sekalian,

Indonesia sedang menatap cita-cita besar, yaitu Indonesia Emas 2045, saat bangsa kita berusia satu abad merdeka. Siapa yang akan memimpin Indonesia pada tahun itu? Tidak lain adalah kalian, para pemuda dan pelajar yang hari ini berdiri di lapangan ini. Karena itu, persiapkan diri sejak sekarang dengan ilmu, akhlak, dan semangat persatuan.

Para pemuda 1928 telah menunaikan tugas sejarahnya. Kini giliran kita menjaga dan melanjutkan perjuangan mereka dengan cara yang sesuai dengan zaman kita.

Akhir kata, marilah kita jadikan peringatan Sumpah Pemuda ini sebagai momentum untuk memperbarui tekad kita agar menjadi pemuda yang cerdas, bersatu, berkarakter, dan patriotik demi Indonesia yang maju dan berdaulat.

Sekian sambutan saya. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

3. Sambutan Tema 'Pemuda Gigih, Indonesia Maju'

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Bapak/Ibu Guru, para staf pengajar, serta anak-anakku seluruh pemuda bangsa yang saya banggakan.

Hari ini, 28 Oktober 2026, kita kembali berdiri di bawah langit Indonesia. Banyak orang mungkin berpikir bahwa upacara ini hanyalah rutinitas tahunan-berdiri di bawah terik matahari, mengheningkan cipta, mendengarkan ikrar 1928, lalu selesai.

Namun, mari kita sejenak berani jujur pada diri sendiri.

Tahun 1928, para pemuda yang berkumpul di Jakarta tidak memiliki koneksi internet, tidak memiliki media sosial, dan tidak memiliki kepastian apakah Indonesia benar-benar bisa merdeka. Yang mereka miliki saat itu hanyalah satu hal: kegigihan yang tidak bisa digoyahkan.

Hari ini, di tahun 2026, zaman telah berubah pesat. Teknologi memanjakan kita dan dunia bergerak tanpa jeda. Namun, tantangan kalian hari ini justru tidak lebih ringan. Pemuda hari ini tidak lagi melawan serdadu bersenjata, melainkan melawan rasa cepat puas, rasa takut gagal, kecemasan akan masa depan, serta godaan untuk menyerah saat keadaan terasa berat.

Oleh karena itu, tema Pemuda Gigih, Indonesia Maju bukan sekadar slogan yang dipajang di spanduk.

Mengapa kata "Gigih" menjadi kunci? Karena kecerdasan saja tidak cukup. Kecepatan saja tidak cukup. Bakat hebat tanpa kegigihan hanyalah potensi yang terbuang sia-sia. Pemuda yang gigih adalah mereka yang jatuh sembilan kali, tetapi bangkit sepuluh kali. Pemuda yang gigih tidak menghabiskan energi untuk meratapi nasib, melainkan fokus mencari jalan keluar.

Anak-anakku sekalian,
Indonesia Maju bukanlah hadiah cuma-cuma dari masa depan. Indonesia Maju adalah hasil akumulasi dari ketabahan, disiplin, dan daya tahan kalian hari ini. Ketika kalian memilih untuk tetap belajar saat yang lain memilih bermalas-malasan, ketika kalian tetap memilih untuk jujur di tengah godaan untuk curang, dan ketika kalian tetap bangkit mengejar impian meski berulang kali gagal-di situlah kalian sedang membentuk masa depan bangsa ini.

Jangan pernah mengerdilkan peran kalian sendiri. Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar di Republik ini tidak pernah dimulai dari orang-orang yang ragu, melainkan dari anak-anak muda yang menolak untuk menyerah.

Maka dari itu, jadilah generasi yang tangguh. Jadilah pemuda yang tidak mudah goyah oleh cemoohan, tidak mudah patah oleh kegagalan, dan tidak pernah berhenti melangkah ke depan.

Di tangan pemuda yang biasa-biasa saja, masa depan akan berjalan di tempat. Namun di tangan kalian, para pemuda yang gigih, Indonesia akan berdiri tegak dan memimpin dunia.

Selamat Hari Sumpah Pemuda 2026!
Teruslah berjuang, teruslah berkarya!

Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

4. Sambutan Tema 'Empati Pemuda untuk Kemajuan Bangsa'

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru dan tenaga kependidikan, serta anak-anakku, para pemuda harapan bangsa yang saya banggakan.

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya, kita dapat berdiri bersama dalam upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 dengan penuh khidmat.

Anak-anakku sekalian,

Sembilan puluh delapan tahun telah berlalu sejak para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Saat itu, mereka mungkin tidak memiliki teknologi secanggih yang kita nikmati sekarang. Namun, mereka memiliki sesuatu yang luar biasa: keberanian untuk melampaui perbedaan dan kesadaran bahwa masa depan bangsa hanya dapat dibangun jika semua bersedia berjalan bersama.

Hari ini, tantangan kita memang berbeda. Kita hidup di zaman ketika informasi menyebar dalam hitungan detik, pendapat dapat disampaikan melalui satu sentuhan, dan dunia terasa begitu dekat. Akan tetapi, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: sudahkah kemajuan teknologi membuat kita semakin peduli terhadap sesama?

Anak-anakku yang saya banggakan,

Tahun ini, salah satu bagian tema Sumpah Pemuda 2026 adalahh empati. Empati berarti berusaha memahami apa yang dirasakan orang lain, bahkan ketika kita tidak mengalami hal yang sama. Empati adalah kesediaan mendengarkan teman yang sedang kesulitan, menghargai orang yang berbeda pendapat, serta tidak menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan ejekan.

Coba kita bayangkan sebuah sekolah tempat setiap siswa berlomba menjadi yang terbaik, tetapi tidak ada yang bersedia membantu temannya yang tertinggal. Prestasi mungkin tetap tercipta, tetapi kebersamaan akan kehilangan maknanya. Sebaliknya, ketika siswa yang unggul mau membimbing temannya, ketika yang kuat melindungi yang lemah, dan ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan, di situlah karakter bangsa sedang dibangun.

Empati juga harus hadir di ruang digital. Jangan sampai jari kita lebih cepat menulis komentar daripada pikiran kita memahami akibatnya. Jangan sampai kita ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, merundung seseorang di media sosial, atau mempermalukan orang lain hanya demi mendapatkan perhatian. Ingatlah, di balik setiap akun terdapat manusia yang memiliki perasaan dan harga diri.

Anak-anakku sekalian,

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi muda yang pintar berbicara tentang perubahan. Bangsa ini membutuhkan pemuda yang mau mengambil bagian dalam perubahan itu sendiri.

Mulailah dari hal sederhana. Dengarkan teman tanpa buru-buru menghakimi. Bantu mereka yang membutuhkan tanpa menunggu diminta. Hormati perbedaan suku, agama, latar belakang, dan kemampuan. Gunakan ilmu serta teknologi untuk menciptakan manfaat. Jika melihat ketidakadilan, jangan diam hanya karena kita merasa bukan pihak yang dirugikan.

Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat, pengusaha sukses, ilmuwan, atau pemimpin besar untuk berkontribusi kepada bangsa. Kita bisa memulainya hari ini, dari ruang kelas, lingkungan keluarga, tempat tinggal, dan pergaulan sehari-hari.

Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang melahirkan orang-orang hebat, melainkan juga bangsa yang memiliki generasi muda yang tidak kehilangan kepedulian terhadap sesamanya.

Anak-anakku yang saya cintai,

Jadikan peringatan Sumpah Pemuda ini lebih dari sekadar upacara tahunan. Jangan biarkan semangat persatuan berhenti ketika bendera diturunkan dan barisan dibubarkan. Bawalah semangat itu ke dalam tindakan nyata, melalui perkataan yang menenangkan, sikap yang menghargai, dan perbuatan yang membawa kebaikan.

Jika para pemuda tahun 1928 mampu menyatukan tekad untuk memperjuangkan Indonesia, maka tugas kita hari ini adalah menjaga persatuan itu melalui empati, kepedulian, dan keberanian untuk berbuat baik. Kita mungkin tidak menghadapi perjuangan yang sama dengan mereka, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama: memastikan Indonesia menjadi tempat yang lebih baik bagi semua.

Akhirnya, saya mengajak seluruh peserta upacara, khususnya generasi muda, untuk menjadikan empati sebagai kekuatan, persatuan sebagai pegangan, dan kemajuan bangsa sebagai tujuan. Jangan hanya bertanya, "Apa yang bisa saya dapatkan dari Indonesia?" Mulailah bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan agar Indonesia menjadi lebih baik?"

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98, 28 Oktober 2026. Semoga semangat persatuan terus tumbuh dalam diri kita dan kepedulian menjadi bagian dari karakter generasi penerus bangsa.

Teruslah belajar, berani bermimpi, dan jangan pernah lelah menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Nah, itulah beberapa contoh sambutan pembina upacara Sumpah Pemuda 2026 sesuai tema resmi. Semoga bermanfaat, ya!



(num/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads