Sejarah Bekas Jalur KA Solo-Wonogiri di Dasar Waduk Gajah Mungkur

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Sabtu, 17 Okt 2026 12:52 WIB
Penampakan bagian Waduk Gajah Mungkur yang dulunya Dusun Somoulun, Wonogiri, Rabu (14/10/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Wonogiri -

Sebelum Waduk Gajah Mungkur (WGM) dibangun, ada jalur kereta api (KA) yang membentang dari Purwosari, Solo, hingga ke Giriwoyo, Wonogiri. Bekas jalur KA dan jembatan KA itu masih bisa dijumpai saat WGM surut. Begini sejarahnya.

"Di laporan pemerintah kolonial dengan pihak Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), (jalur KA) menghubungkan dari Purwosari Solo ke Wonogiri Kota, kemudian Baturetno, lalu disambung lagi sampai ke Kakap (Giriwoyo, Wonogiri)," kata Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Wonogiri, Dennys Pradita, saat dihubungi detikJateng, Kamis (16/10/2026).

Dennys mengatakan, ada beberapa alasan pemerintah kolonial Belanda bersikeras membangun jalur KA tersebut meski menelan biaya yang fantastis. Di antaranya untuk membuka akses Pacitan setelah Perang Diponegoro tahun 1830-an.

"Pemerintah kolonial baru mendapatkan wilayah pacitan setelah perang Diponegoro tahun 1830-an. Wilayah Pacitan itu dulunya terkepung dan tidak memiliki akses, sehingga bergantung pada Wonogiri. Akhir 1800-an, pemerintah kolonial ingin membuka (akses) Pacitan. Di sisi lain, Mangkunegaraan membuka perkebunan di daerah wonogiri terutama di Baturetno," ujar dosen Ilmu Sejarah Universitas Jambi itu.

Alasan lainnya, Wonogiri bagian selatan saat itu masih terisolir dengan minimnya akses menuju ke kota. Kondisi tersebut membuat masyarakat Wonogiri selatan pada masa itu sempat mengalami krisis kelaparan.

"Wonogiri bagian selatan itu sempat mengalami masalah kelaparan, dan wilayahnya terisolir. Pemerintah Kolonial mendesak wilayah ini harus dibuka untuk mendapatkan akses, membuka daerah terisolir," ucap Dennys.

Dennys menjelaskan, pemerintah kolonial Belanda kemudian membuat kesepakatan dengan NISM untuk membuka akses pada akhir abad ke-19. Awalnya, pemerintah kolonial Belanda ingin dibukakan akses dari Solo sampai Pacitan, namun ditentang oleh NISM.

Sebab kedua belah pihak memiliki tujuan yang berbeda. Menurut Dennys, pemerintah kolonial Belanda ingin ada akses hingga ke Pacitan. sementara NISM berfokus pada investasi dan keuntungan.

"Muncul ide membangun jalur KA yang awalnya sampai Solo-Pacitan. Namun NISM cuma mau menyetujui sampai Wonogiri Kota saja, meski pemerintah kolonial tetap bersikukuh. Kedua belah pihak sama-sama memiliki kepentingan. Belanda ingin daerah Pacitan dibuka, sementara NISM sudah menghitung untung rugi kalau sampai Wonogiri Kota pasti untung dengan pertimbangan jumlah penduduk, jarak, topografis," jelasnya.

Setelah negosiasi yang panjang, disepakati pembangunan jalur KA sampai Giriwoyo. Pembangunan dilakukan bertahap. Tahap pertama yaitu Solo-Wonogiri Kota, kemudian dilanjutkan tahap kedua Wonogiri Kota-Baturetno.

"Ketika pembangunan sampai Baturetno itu, NISM mengeluh karena pengeluarannya sudah di luar dugaan, dan ingin membatalkan proyek sampai Kakap. Tapi melalui proses persidangan, pihak kolonial mau membatalkan sampai Kakap dengan konsekuensi NISM harus membayar biaya atau membangunkan jembatan sekian ratus golden," kata Dennys.

NISM yang tidak memiliki pilihan akhirnya menyetujui pembangunan jalur KA sampai Giriwoyo. Namun dengan kesepakatan yang disesuaikan, yakni Solo-Batureno dibangun jalur KA Trem sehingga jalurnya lebih besar. Sementara Batureno-Giriwoyo merupakan jalur lori yang lebih kecil.

Pada tahun 1922, jalur KA Solo-Baturetno diresmikan. Dennys mengatakan, keberadaan jalur KA itu menjadi pusat ekonomi baru di Wonogiri. Sejumlah wilayah menjadi makmur seperti di Baturetno, Betal (Nguntoronadi), hingga Somoulun.

"Hasil perkebunan di wilayah Wonogiri selatan bisa langsung dijual ke Kota, di mana sebelumnya mereka sangat kesulitan. Akhir abad 19 dibuka besar-besar jalur darat baik KA maupun jalan. Baturetno dipilih karena waktu itu salah satu pusat pemerintahan Mangkunegaraan yang ada di sisi selatan," ujarnya.

"Mangkunegaraan membuka perkebunan kopi, tebu, dan gamping untuk pemutihan gula. Jalur lori Kakap itu banyak digunakan mengangkut gamping dan hasil perkebunan," pungkasnya.



Simak Video "Video: 36 Biksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand Telah Sampai di Borobudur"

(dil/dil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork