Bungkusan yang diduga berisi tanah kuburan di warung milik komendian Nunung Srimulat masih menjadi misteri. Bahkan setelah tiga kali mendapatkan "paket" tersebut, Nunung enggan untuk memasang CCTV.
"CCTV-nya Gusti Allah, percaya Gusti Allah," kata adik Nunung, Danar Adi, menirukan jawaban kakaknya saat ia meminta agar CCTV dipasang di warung. Pernyataan ini disampaikan Danar saat ditemui detikJateng di warung Nunung di Perumahan Griya Mutiara, Sawahan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Selasa (6/10/2026).
Menurut Danar, kakaknya tidak mau memasang CCTV karena tidak ingin membuat pihak lain dicurigai. Selain itu jika sudah terekam CCTV pun tidak ada yang bisa dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya ada CCTV terus ada orang ketahuan, kita mau ngapain? Lapor polisi. Masalahnya seperti itu dibuktikan juga sulit," ujar dia.
Dikutip dari detikHot, Nunung mengatakan ada yang mengaitkan bungkusan yang diduga berisi tanah kuburan itu dengan makin sepinya warung makan Nunung yang berada di perbatasan Solo-Boyolali.
Dari pantauan detikJateng pada Selasa (6/10) warung tersebut memang terlihat lengang dan sepi. Namun Danar menegaskan Nunung selalu ikhtiar dan berpikir positif.
"Mbak Nunung cuma bilang, namanya usaha, ayo kita ikhtiar bareng-bareng. Ini mungkin peringatan kita kurang berdoa, kurang begini-begitu," ujar Danar.
Sebagai bentuk ikhtiar setelah muncul bungkusan tanah kubur, Danar mengatakan Nunung memilih untuk mengadakan pengajian dan mendatangkan ustaz ke warungnya. Selain pengajian, Nunung juga menggelar khataman Al-Qur'an.
"Pengajian, manggil ustaz. Ustaznya Mbak Nunung sendiri ke sini sama santrinya. Khataman Al-Qur'an di sini," ujarnya.
Sementara itu juru parkir di sekitar warung milik Nunung, Bagyo mengatakan sudah tiga kali menemukan bugkusan berisi tanah dalam sebulan terakhir. Dia tidak tahu siapa yang melempar atau meletakkan di sana, namun dia menyebut langsung membakar benda itu.
"Ya ada sebulan tiga kali, bentuknya itu dibungkus kayak teh ini. Dibungkus styrofoam. Tapi dibungkus lagi plastik. Tak bakar aja, Mbak," kata Bagyo.
Komentar Pakar
Kepala Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Sahid Teguh Widodo mengatakan memang ada kepercayaan masyarakat Jawa terkait tanah kuburan hingga anggapan benda tersebut dapat memengaruhi usaha.
"Memang inilah, secara umum masyarakat kita Jawa itu kan masih mengenal gugon tuhon," katanya dihubungi detikJateng, Rabu (7/10/2026).
Sahid menjelaskan, gugon tuhon merupakan kepercayaan terhadap pantangan dan hal-hal yang dianggap dapat membawa kesialan. Salah satunya terkait makam yang dianggap sebagai tempat yang disakralkan.
"Kita tidak menutup mata, barangkali ada. Saya sendiri tidak percaya. Tapi bagi orang yang berkenaan itu kan merasa tidak nyaman," tuturnya.
Menurutnya, keyakinan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang melihat berbagai kejadian yang dialaminya. Ketika seseorang percaya kiriman tanah kuburan membawa energi negatif, kondisi usaha yang kebetulan sedang sepi bisa dikaitkan dengan kiriman tersebut.
"Saya kira ada keterkaitan pada sesuatu atau objek yang mempercayainya. Tapi kalau itu menjadi tidak berarti pada subjek yang tidak mempercayainya," jelasnya.
Sahid menyarankan orang yang mendapatkan kiriman semacam itu tidak perlu takut atau terus memikirkannya. Benda tersebut dapat dibuang dan orang yang bersangkutan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.
"Menurut saya ya dikirimi begitu ya buang saja, tidak usah digagas," katanya.
