Sebanyak 87 desa di Kabupaten Kebumen masuk wilayah dengan bahaya tsunami tingkat tinggi. Risiko bencana juga tersebar di berbagai wilayah, dengan total 11 jenis bahaya yang telah dipetakan pada 2026.
Selain tsunami, bahaya cuaca ekstrem tercatat di 357 desa, banjir bandang di 204 desa, dan tanah longsor tingkat tinggi di 101 desa. Sementara kekeringan dan gempa bumi berada pada tingkat bahaya sedang di 460 desa.
Bupati Kebumen, Lilis Nuryani mengatakan pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan wilayah prioritas sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sebelum bencana terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data tersebut penting bagi kita. Dari sana kita dapat melihat wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih, langkah mitigasi yang perlu diperkuat, serta sarana yang perlu disiapkan," kata Lilis dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).
Kawasan pesisir menjadi salah satu perhatian karena Kebumen berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan memiliki potensi terdampak gempa besar yang dapat memicu tsunami. Bahaya likuifaksi tingkat tinggi juga tercatat di 46 desa dan tingkat sedang di 330 desa.
Adapun salah satu yang menjadi perhatian adalah sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS). Sejumlah perangkat yang telah tersedia membutuhkan perbaikan, sekaligus perlu diikuti dengan pemahaman masyarakat mengenai cara merespons peringatan bencana.
Kesiapsiagaan masyarakat juga diperkuat melalui peningkatan kapasitas desa dan satuan pendidikan. Hingga 2026, sebanyak 192 desa dan kelurahan telah mendapatkan peningkatan kapasitas sebagai Desa Tangguh Bencana, sementara 80 satuan pendidikan telah menjadi Satuan Pendidikan Aman Bencana.
Lilis menegaskan pemerintah daerah akan terus memperkuat upaya mitigasi, namun dukungan lintas pemerintah diperlukan agar kesiapsiagaan dapat menjangkau lebih banyak wilayah dan masyarakat.
"Kami di daerah akan terus bekerja. Namun dengan dukungan pemerintah pusat, upaya tersebut dapat kita lakukan dengan lebih kuat dan menjangkau lebih banyak masyarakat,"ujarnya.
Dalam Festival Aspirasi Masyarakat bersama Pimpinan dan Anggota Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, kesiapsiagaan menjadi salah satu isu utama yang dibahas. Wakil BAM DPR RI, Taufiq R. Abdullah menyebut pesan yang mengemuka bukan hanya bagaimana menangani bencana setelah terjadi, tetapi bagaimana memperkuat antisipasi sejak dini.
"Kita bukan saja akan konsentrasi bagaimana menghadapi bencana ketika sudah terjadi, tapi seluruh komponen sepakat bahwa harus dilakukan upaya antisipasi," ungkapnya.
