Dinkes Jateng: Tak Ada Cemaran Udara Imbas Erupsi Anak Krakatau di Semarang

Dinkes Jateng: Tak Ada Cemaran Udara Imbas Erupsi Anak Krakatau di Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 09 Sep 2026 17:42 WIB
Visual Terkini Anak Krakatau dari KRI Lepu, Ini Penampakannya
Visual Terkini Anak Krakatau dari KRI Lepu, Ini Penampakannya. (Foto: Dok. Instagram BPBD Provinsi Lampung)
Semarang -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah (Jateng) telah melakukan pengukuran kualitas udara di sejumlah titik di Kota Semarang. Hasilnya, kadar sulfur dioksida (SO2) disebut masih berada di bawah batas normal.

Hal itu disampaikan Kepala Dinkes Jateng, Zulfachmi. Ia mengatakan pengukuran ini dilakukan menyusul kekhawatiran dampak erupsi Anak Gunung Krakatau.

"Sudah ada hasilnya dan hasil SO2 itu masih di bawah normal. Artinya tidak ada cemaran SO2 yang berbahaya di Kota Semarang. Kita sudah ambil di tiga titik, daerah pantai, pusat kota, dan depan RRI," kata Zulfachmi di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (9/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari hasil pengukuran itu kadar SO2 berada di kisaran angka 265. Sementara batas normal yang digunakan dalam pengukuran disebut berada di kisaran 600-an.

ADVERTISEMENT

"Kadarnya masih sekitar 265-an, padahal normal itu 600. Berarti masih rentang normal," jelasnya.

Menurut Zulfachmi, hasil tersebut menunjukkan belum ditemukan paparan SO2 yang mengkhawatirkan di wilayah Kota Semarang.

"Tidak ada paparan yang berbahaya untuk SO₂ di Kota Semarang," tegasnya.

Selain Kota Semarang, lanjutnya, Dinkes Jateng juga melakukan pemantauan di Kabupaten Brebes, yang berbatasan dengan Jawa Barat.

"Brebes itu daerah perbatasan dengan Jawa Barat, yang terdekat dari Bandung. Hari ini teman-teman ke sana. Nanti kami sampaikan lagi," ucapnya.

"Kalau ini kan sudah ada beritanya, debu di Brebes. Nanti kita pastikan. Kita pastikan saja. Debu apa dulu, kan debu banyak," lanjutnya.

Meski hasil pengukuran di Semarang masih normal, Zulfachmi tetap mengimbau masyarakat mengantisipasi paparan debu. Terutama karena saat ini masih musim kemarau.

"Musim kemarau itu potensi debu tidak hanya debu dari vulkanik, debu juga bisa berbahaya untuk kesehatan. Jadi imbauannya kurangi aktivitas keluar rumah," ujarnya.

"Gunakan masker yang standar, mencuci selaput mata atau kulit yang terkena paparan debu habis beraktivitas di luar rumah dengan air," lanjutnya.



(ams/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads