Cuaca di Kota Semarang mencapai suhu 36 derajat Celcius. Warga merasa suhu panas di Kota Semarang terasa sangat menyengat siang ini.
Pantauan detikJateng, Senin (7/9/2026) pukul 14.00 WIB, menurut aplikasi cuaca, suhu di Mugassari Kecamatan Semarang Selatan mencapai 36 derajat.
Prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Harits Syahid Hakim, mengatakan cuaca hari ini jika dibulatkan memang mencapai 36 derajat Celcius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang untuk wilayah Kota terpantau paling tinggi 35,7 derajat Celcius. Hampir dikatakan 36 kalau dibulatkan," kata Harits saat dihubungi detikJateng via telepon.
Menurutnya, suhu itu masih belum terlalu ekstrem jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai 39 derajat Celcius.
"Tapi kalau untuk bulan ini agak lebih panas dibanding kemarin. Puncaknya memang Agustus-September. Jadi kemungkinan karena kemarau tahun ini agak panjang, jadi agak lebih mundur," ucapnya.
"Mungkin kita kemarau ini sampai akhir tahun, ataupun hanya sebatas bulan November ataupun Desembernya baru masuk musim penghujan," lanjutnya.
Ia pun mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di Semarang dan kerap beraktivitas di luar ruangan, untuk menjaga kondisi.
"Dengan banyak minum air putih, menggunakan pakaian yang seluruh tubuhnya tertutup karena memang pengaruhnya terhadap tubuh juga cukup lumayan," ucapnya.
Warga Samakan dengan Cuaca di Madinah
Sementara itu, salah satu warga Kota Semarang, Ilma (28), bahkan menggambarkan panas di Semarang seperti berada di Madinah. Dia mengaku suhu yang terik membuatnya lebih berhati-hati menjaga kondisi tubuh.
"Panasnya panas banget. Semoga ini bisa untuk latihan umrah, untuk umrah atau naik haji," kata Ilma kepada detikJateng.
Ilma mengatakan, cuaca panas sudah terasa sangat menyengat sekitar sepekan terakhir. Dia bahkan menyebut panasnya terasa hingga ke tubuh.
"Seminggu belakangan ini memang panasnya keterlaluan banget. Kayak sampai ke tulang-tulang, menusuk," ujarnya.
Meski cuaca panas, Ilma mengaku tidak mengalami sakit berat. Namun, dia pernah merasakan sakit tenggorokan.
"Tapi kalau sudah panasnya seperti ini nggak berani minum es. Air biasa saja, soalnya takut sakit," tuturnya.
Ilmu juga memiliki cara tersendiri untuk melindungi diri dari teriknya matahari. Mulai dari menggunakan sunscreen hingga sarung tangan.
"Pakai sunscreen benar-benar dobel-dobel, harus touch up (pakai ulang) berkali-kali. Terus pakai sarung tangan, pakai jaket, minum. Benar-benar rapat," jelasnya.
Hal senada juga disampaikan warga Kota Semarang lainnya, Dinda (25). Dinda yang pernah tinggal di Bali mengatakan panas di Semarang terasa lebih menyiksa.
"Di Bali memang terkenal panas, cuma di sini itu panasnya lebih menyiksa. Biasanya aku minum sehari 3 liter. Sekarang aku bisa minum 4 liter lebih," ucap Dinda.
"Karena ini saking panasnya aku dehidrasi terus. Minimal aku minum minuman berenergi atau minuman ion sehari karena ini panas banget," ujarnya.
Dinda juga mengaku berusaha menghindari aktivitas di luar ruangan pada tengah hari. Dia memilih tidak keluar antara pukul 12.00-13.00 WIB kecuali dalam kondisi mendesak.
"Sudah dari lama banget terasa panasnya terik, mulai Mei, Juni, Juli, tapi akhir-akhir ini memang panas banget. Anginnya juga panas banget," ungkapnya.
Dia mengaku pernah drop hingga nyaris pingsan akibat panas. Kondisi tersebut membuatnya harus lebih memperhatikan pola hidup dan kondisi tubuh.
"Pernah banget seperti mau pingsan karena panas. Aku sudah pakai AC di kos, aku pakai kipas, dan anginnya pun nggak berasa dingin, saking panasnya. Jadi AC-nya juga bekerja berat," tuturnya.
(ams/dil)
