Video pengundian doorprize utama berupa motor PCX dalam Turnamen Sepak Bola Cap Gawen Cup 2026 di Pekalongan viral di media sosial karena dianggap setingan. Pihak panitia membantahnya.
"Perihal undian Turnamen Cap Gawen Cup 2026 ada setingan adalah tidak benar. Saya mewakili panitia Turnamen Cap Gawen Cup Kedungwuni tahun 2026, undian dilaksanakan dengan benar tanpa adanya rekayasa dari pihak mana pun," kata Ketua Penyelenggara, Siswo (49), saat ditemui detikJateng di Kedungwuni Timur, Senin (7/9/2026).
Adapun video berdurasi sekitar 1 menit 12 detik itu diunggah akun Instagram @psnewsid dan telah ditonton 5,9 juta warga net.
Dalam rekaman terlihat seorang pria yang disebut sebagai Pak Lurah (Lurah Kedungwuni Timur) mengambil kupon dari sebuah wadah transparan.
Netizen menyoroti gerakan tangan saat proses pengambilan kupon tersebut. Dalam video, muncul dugaan seolah kupon yang diambil telah disiapkan sebelumnya.
Selain itu, beredar narasi yang menyebut pemenang doorprize memiliki hubungan kerabat dengan Pak Lurah. Dugaan tersebut kemudian memunculkan tudingan bahwa pengundian telah diatur atau setingan.
Pihak panita mejelaskan peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (4/9) saat usai laga sepak bola Cap Gawen Cup 2026. Namun panitia membatah adanya tudingan kecurangan dalam undian tersebut.
Menurut Siswo, pengundian dilakukan setelah pertandingan final Turnamen Cap Gawen Cup pada Jumat (4/9). Laga final mempertemukan Dua Bintang Karangdadap melawan Hamba Kater Wonopringgo.
Pertandingan berakhir dengan skor 1-1 dan dilanjutkan adu penalti. Hamba Kater Wonopringgo akhirnya keluar sebagai pemenang.
"Setelah pertandingan, panitia kemudian menggelar pengundian doorprize utama berupa Honda PCX 160 cc," kata Siswo.
Siswo menuturkan, seluruh tiket pertandingan sejak babak awal hingga final dimasukkan dalam satu box untuk dilakukan undian. Total tiket yang dicampur mencapai sekitar 21 ribu lembar.
"Tiket yang diundi adalah semua tiket dari seluruh tiket pertandingan Turnamen Cap Gawen Cup dari awal sampai akhir selesai acara," ujarnya.
Siswo juga menjelaskan harga tiket yang dijual panitia. Tiket babak penyisihan dibanderol Rp 10 ribu, sedangkan tiket babak 16 besar Rp 15 ribu dan tiket final Rp 30 ribu.
"Saat pengundian tidak ada rekayasa. Kalau toh ada rekayasa pasti akan diprotes para penonton yang saat itu menyaksikan. Hingga pemberian hadiah, tidak ada yang protes. Dan penerima hadiah juga warga Batang, bukan kerabat atau saudara dari panitia," ucapnya.
Di lokasi yang sama, Johan (50) panitia lainnya yang juga memegang box berisi karcis atau kulon undian, menjelaskan semua undian telah dilakukan sesuai mekanisme yang ada.
Ia menceritakan dari pengumpulan karcis dari babak-babak sebelumnya juga disaksikan bersama. Karena banyaknya kupon, jari tangannya sempat kram karena harus menahan cukup berat kupon atau karcis.
"Di saat itu tongnya mau jatuh, di saat itu juga jari saya tergelincir. Bahkan ada salah satunya panitia yang ingin menolongnya," kata Johan.
Dia membantah gerakan jarinya tersebut sebagai upaya mengarahkan Pak Lurah untuk mengambil kupon tertentu.
"Ndak, ndak. Jadi tidak mengarahkan salah satunya untuk Pak Lurah mengambil tiket. Bahkan Pak Lurah pun tidak tahu, tidak lihat kalau saya itu jarinya menuju ke tempat tiket," jelasnya.
Dia menerangkan kupon berasal dari beberapa dus yang kemudian dikumpulkan dan ditumpahkan ke dalam wadah undian. Proses pemindahan tersebut, menurut Johan, disaksikan oleh sejumlah panitia.
"Kurang lebih ada enam atau tujuh, delapan dus. Itu disaksikan karena di situ panitia juga banyak," katanya.
Johan menyebut setiap dus berisi tiket pertandingan yang kemudian dipindahkan ke wadah undian. Setelah semua tiket dimasukkan, wadah tersebut ditutup.
"Jadi tidak satu boks itu langsung ditumpahkan. Setiap dus itu ada tempat tiketnya, langsung ditumpah di situ," ujarnya.
Johan juga membantah adanya hubungan kerabat antara pemenang doorprize dengan panitia maupun pihak kelurahan.
Menurutnya, pemenang doorprize merupakan warga Kabupaten Batang dan tidak dikenalnya.
"Kalau pemenangnya adalah warga Batang. Tidak ada kerabat. Saya pun tidak kenal orang itu," ujarnya.
(apl/ahr)