12 Puisi Maulid Nabi 2026 yang Menyentuh Hati dan Membuat Tangis

12 Puisi Maulid Nabi 2026 yang Menyentuh Hati dan Membuat Tangis

Nur Umar Akashi - detikJateng
Minggu, 23 Agu 2026 13:14 WIB
Ilustrasi karya sastra, ilustrasi puisi, ilustrasi cerpen. (Freepik)
Ilustrasi Puisi Maulid Nabi 2026 (Foto: Freepik)
Solo -

Bagi umat Islam, Maulid Nabi bukan sebatas peringatan kelahiran Rasulullah SAW, tetapi sejarah dibukanya lembaran Islam. Cahaya yang dibawakan Nabi Muhammad menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Alhasil, kenikmatan Islam bisa kita rasakan.

Karenanya, tidak mengherankan jika para pemeluk Islam sangat merindukan sosok Nabi Muhammad SAW. Bagaimana tidak, kita tidak mendapat kesempatan berjumpa langsung, tetapi bisa mendengar dan membaca bagaimana sepak terjang beliau.

Banyak cara dilakukan untuk 'melampiaskan' kerinduan itu. Salah satunya, dengan membagikan puasa pada momen Maulid Nabi 2026 yang jatuh tanggal 25 Agustus. Kira-kira seperti apa puisi yang bagus?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kumpulan Puisi Maulid Nabi 2026

Temukan deretan puisi Maulid Nabi 2026 yang menyentuh hati dan memicu tangis di bawah ini. Beberapa dihimpun dari arsip detikcom.

ADVERTISEMENT

Puisi Maulid Nabi #1: Rasulullah Nabi Muhammad SAW

(karya Miss Radhiah)

Aku sadar puisi ini tiada berarti
Namun, hari ini aku khusuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Inilah sebentuk puisi yang kupersembahkan pada Rasulullah SAW
Rasulullah SAW
Berabad-abad sudah berlalu
Namun, namamu masih melekat di hatiku
Tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu
Tak pernah aku melihat langsung dakwahmu
Namun, sinar cahaya itu mampu menembus zaman dan ruang
Menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia
Cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman
Rasulullah SAW, begitu agung namamu
Bergetar hati ini, menangis, rindu bertemu denganmu
Rindu pada suri tauladan yang kau berikan
Rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu
Rindu pada kedamaian yang kau ciptakan
Rasulullah SAW, kami rindu pada kepemimpinanmu
Cinta dan kasih sayangmu tiada tara
Rahmatan Lil Alamin, memang itulah dirimu
Umatmu sekarang banyak yang sudah menjauhi suri tauladanmu
Banyak yang sudah berubah dari koridor garis awal
Pun saya merasa demikian
Rasulullah SAW, aku rindu padamu
Kami rindu padamu
Rasulullah Nabi Muhammad SAW
Aku yakin sinar yang kau bawa tak kan pernah padam
Allahumma solli ala Muhammad
Semoga sholawat itu akan tetap berdengung
Hingga akhir masa nanti
Rasulullah Nabi Muhammad SAW

Puisi Maulid Nabi #2: Suri Teladan Rasulullah

(karya Nur Amalia Putri)

Ya Rasulullah...
Lahirmu membawa cahaya
Menerangi gelap gulita
Engkau sebagai penerang dunia

Kau jadi panutan, kau jadi teladan
Kau begitu tabah menghadapi cobaan
Begitu ikhlas menerima kenyataan
Engkau sungguh pemimpin yang tiada tandingan

Ya Rasulullah...
Kau bagaikan lentera
Yang selalu menerangi dunia
Memberikan cahaya yang begitu indah dan sempurna

Engkaulah teladan umat manusia
Hadirmu menenangkan dunia
Engkau umat Allah yang paling mulia

Puisi Maulid Nabi #3: Cintanya Bagaikan Permata

(karya Reni Aryani)

Wajah indahnya bagaikan purnama siapa yang melihat akan jatuh cinta
Sungguh... indahnya jika aku bisa bertemu denganmu
Ya Rasullah
Kasih sayangmu selembut sutera

Aku menengadah dan menyambut namanya
disertai shalawat nabi
Teguh dalam pendiriannya
walau banyak membencinya
ia tetap tersenyum dan selalu peduli pada umatnya

Sungguh...mulia hatimu ya Rasul
tiada kata yang mampu kuucapkan
selain memujamu Ya nabi
Kebaikanmu bagaikan permata

Akan bersinar sepanjang masa
tak akan pudar di makan zaman
Butir-butiran debu akan hilang
terhapus oleh curahan kasih dan sayangmu

Puisi Maulid Nabi #4: Cahaya di Antara Kegelapan

Di tengah malam yang hilang arah
Engkau lahir membawa secercah kebenaran
Menghapus duka membalut luka yang parah
Menuntun jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian

Ya Rasulullah kekasih pemilik semesta
Senyummu adalah penawar bagi hati yang dahaga
Meski kami tak pernah menatap wajahmu yang mulia
Rindu ini berhembus melintasi ribuan masa

Pada hari kelahiranmu yang penuh berkah
Kami tengadahkan tangan meniti selawat yang syahdu
Berharap syafaatmu kelak di alam barzah
Mengakui kami sebagai umatmu yang kau rindu

Puisi Maulid Nabi #5: Pelita Hati Pengobat Rindu

Dalam sunyinya alam yang dahaga
Hadirmu membawa lembutnya rahmat
Menghapus jelaga yang lama bertakhta
Menyinari jiwa yang rindu keselamatan

Wahai insan paling mulia di bumi
Keagungan akhlakmu menyejukkan dada
Meski ragamu tak lagi dapat kami temui
Kasihmu terasa sepanjang masa

Di malam kelahiranmu yang suci
Kami langitkan selawat penuh rasa
Berharap engkau kenali kelak di akhirat nanti
Sebagai umat yang setia merengkuh syafaatmu

Puisi Maulid Nabi #6: Syair Rinduku

(karya Anies Hidayatie)

Wahai Nabiku Muhammad
Aku tak pernah bertatap muka
Telingaku juga tak pernah mendengar suara-Mu
Namun, mengapa bisa?

Hati ini Rindu
Jiwaku yang tak pernah aku lihat
Dan ragaku seperti merangkak
Merindukan Engkau yang menjadi kekasih Tuhanku

Dengan segenap hati ku alunkan sholawat
Aku rindu Nabiku Muhammad
Ijinkan aku melihat-Mu walau hanya dalam mimpi
Sebagai pengobat rinduku pada-Mu

Puisi Maulid Nabi #7: Idolaku Nabi Muhammad

(karya Anies Hidayatie)

Betapa indah namamu
Siapa dirimu wahai Muhammad
Jutaan lisan menyebut namamu
Tanpa dirimu aku tak kenal Tuhanku
Tanpa dirimu bodohlah aku

O Muhammad
Sungguh terpuji, sungguh mulia
Wajahmu tersenyum memukau semua orang
Kau sambut baik semua orang

Wahai Tuhanku
Izinkan aku berjumpa sesaat dengan Rasulullah
Walau hanya lewat mimpi
Sholawat aku jadikan wiridan
Sebagai bukti cintaku pada kanjeng Nabi

Puisi Maulid Nabi #8: Rindu yang Tak Pernah Sampai

Di malam Maulid kami menyebut namamu
Dengan bibir yang penuh dosa dan air mata
Betapa jauh langkah kami dari teladanmu
Namun cintamu tetap kami harapkan selamanya

Ya Rasulullah andai waktu dapat diputar
Ingin rasanya kami hidup di dekatmu
Mendengar lembut suaramu dalam sabar
Dan menangis di hadapanmu karena malu

Kami sering lupa pada ajaranmu
Terlena dunia hingga hati menjadi kelam
Namun setiap kali mengingat perjuanganmu
Air mata jatuh karena rindu yang terpendam

Jika kelak kami berdiri di hadapanmu
Jangan biarkan kami menjadi umat yang kau lupakan
Terimalah salam dari hati yang merindukanmu
Semoga syafaatmu menjadi jalan keselamatan

Puisi Maulid Nabi #9: Rasul

(karya Hadi Mulyadi)

Tak sanggup kubayangkan
andai Allah perkenankan
ku bertemu Rasul idaman
di syurga yang nyaman

Tak kuat hati merindukan
Rasul tercinta yang dermawan
Nabi akhir zaman
tiada cacat dan kekurangan

Aku coba menghayal
apa rasa hidup bersama Rasul
Suka dan cita di samping beliau
Tapi mendadak aku tersentak

Apa dadaku cukup kuat
menyaksikan detik-detik terakhir
kehidupan Rasul
Dadaku mendadak jadi sesak

Andai saat kematian Rasul
Aku sedang di sana bersama Abu Bakar dan Umar
Tiba-tiba tangisku memuncak
andai kudengar kumandang adzan
menyebut nama Muhammad SAW
di hari setelah kematian beliau

Oh Nabi dan Rasulku
Jadikan sesak dadaku ini
sebagai ungkapan cinta padamu
Agar kau berkenan di surga nanti
aku hidup bersamamu

Puisi Maulid Nabi #10: Binar Sang Nabi

(karya Linda Novita)

Semburat terang netra memancar
Terkulai dalam adorasi terpandang
Memikul hidayah ditengah umpatan
Menggenggam islam ditengah makian

Tak kunjung hirap bagai pelita
Laksanakan sholat walau dihina
Terpenggal rasa kasih sayangnya
Tak sanggup tinggalkan para umatnya

Dari cahaya suci tak tertandingi
Pelita hidup kalap dimaki
Namun tetap sabar dalam sanubari
Binar terpancar dari Sang Nabi

Puisi Maulid Nabi #11: Muara Kasih Pengobat Zaman

Di tengah zaman yang kian berpacu
Hadirmu tetap jadi muara yang tenang
Di tahun dua ribu dua puluh enam yang berlalu
Nama muliamu senantiasa kami kenang

Wahai Nabi penuntun jalan kebenaran
Jejak langkahmu adalah petunjuk hidup kami
Di balik riuh dunia dan segala perubahan
Ajaranmu jadi penyejuk yang tak pernah mati

Pada peringatan lahirmu yang penuh keberkahan
Kami patri selawat di setiap hela napas
Berharap syafaatmu kelak di hari pembalasan
Menuntun kami menuju surga-Nya yang luas

Puisi Maulid Nabi #12: Yaa Rosulullah Cinta Kami

(karya Nurul Adha)

Ya Rosulullah cinta kami
Betapa kami amat mencintaimu
Betapa kami amat merindukanmu

Walau kita tak pernah bertemu
Walau aku tak pernah melihat wajahmu yang mulia
Walau aku tak pernah mendengar suaramu yang lembut
Walau aku tak pernah menyaksikan perjuanganmu
Tetapi getar cintamu pada kami ummatmu, amat kurasakan dalam hati
Getar rindumu begitu terasa terpatri dalam hati ini

Yaa Rosulullah ...
Lantunan sholawat dan salam kupersembahkan padamu
Sebagai bukti cintaku ini padamu kekasih hati
Karena cintamu pada umat begitu besar tak terkira

Yaa Rosulullah ...
Kau pantas dicintai dan dirindukan hingga saat ini
Karena kemuliaan akhlak dan perangaimu
Dan keteladananmu yang begitu memikat.
Betapa budi pekerti engkau sangat mulia
Tutur katamu begitu bijaksana
Duhai kekasih hati
Engkau diutus menyempurnakan akhlak manusia

Nah, itulah 12 puisi Maulid Nabi 2026 yang menyentuh hati dan memicu tangis. Semoga bermanfaat, ya, detikers!



(num/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads