Nelayan Tambakrejo Semarang Sambat Gagal Panen Kerang Hijau

Nelayan Tambakrejo Semarang Sambat Gagal Panen Kerang Hijau

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Senin, 17 Agu 2026 14:48 WIB
Perahu nelayan Tambakrejo, Semarang Utara, Kota Semarang, yang bersandar di pinggir sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Senin (17/8/2026).
Perahu nelayan Tambakrejo, Semarang Utara, Kota Semarang, yang bersandar di pinggir sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Senin (17/8/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Nelayan di Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang, sambat tidak bisa memanen kerang hijau yang dibudi daya. Mereka menyebut seharusnya kerang tersebut sudah mulai dipanen Agustus ini.

Ketua Ketua Koperasi Kampung Nelayan Tambakrejo Sejahtera, Dani Rujito, mengatakan para nelayan mulai beralih ke budi daya kerang hijau sejak sekitar 2018. Sebab, nelayan tradisional kesulitan menjaring ikan.

"Menurut saya semakin parah sekarang sih, Mas. Karena kita dulu nelayan tradisional pakainya jaring net. Kenapa kita beralih ke kerang hijau karena kita sekarang sudah tidak bisa pakai jaring," kata Dani saat ditemui di kampung Tambakrejo, Senin (17/8.2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dani mengatakan, pada mulanya budidaya kerang hijau masih bagus. Namun, kini pertumbuhan kerang mulai berkurang.

"Awal mula kita budi daya kerang hijau sebenarnya bagus. Dari beberapa tahun kemudian juga sudah bagus. Setelah jalan tol itu dibangun arusnya kan berkurang," sebutnya.

ADVERTISEMENT

Dani menjelaskan, para nelayan selama ini hanya mengandalkan arus dari sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Menurut dia, budi daya kerang hijau membutuhkan kestabilan arus air laut untuk membawa suplai makanan berupa plankton dan nutrisi serta membantu pertukaran oksigen agar kerang dapat tumbuh subur.

"Di tahun ini panen kita mungkin agak sedikit buruk. Mungkin hampir agak kegagalan karena arus kita sekarang sudah tidak ada lagi, mengandalkan hanya satu sungai ini arusnya," ujar dia.

Setidaknya, kata Dani, satu bambu sebagai rumpon bisa menghasilkan 5-10 kilogram kerang hijau per masa panen. Nelayan biasanya mulai memasang bambu pada April atau Maret, namun Agustus ini belum juga panen.

"Paling sedikit satu bambunya 5-10 kilo. Tahun ini belum sama sekali (panen). Biasanya kalau hari-hari gini kita sudah mulai panen sedikit. Ini sama sekali Mas belum bisa ini," kata dia.

Dani menduga penyebab kerang hijau tak kunjung besar karena dibangunnya Tol Tanggul Laut Semarang-Demak (TTLSD). Menurutnya, tol yang berdiri di atas laut itu mengganggu kestabilan arus.

"Tahun kemarin normal karena jalan tol belum ditutup, kan arusnya masih banyak nih. Nah sekarang sudah mulai ditutup rapat, arusnya berkurang," ucap dia.

Dani menyebut kondisi kerang laut pada bulan ini hanya sebesar kuku.

"Sekarang itu sebenarnya di bulan Agustus kita sudah mulai panen sedikit-sedikit. Tapi kenapa tidak bisa (karena) sekarang kerang hijaunya kecil-kecil, masih sekuku-kuku. Ini karena dengan arus kita yang berkurang tadi," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan nelayan lainnya, Marzuki. Dia menduga pertumbuhan kerang hijau terhambat oleh keberadaan TTLSD.

"Kerang hijau dahulu bisa hidup dengan hijau royo-royo, sekarang yang dekat TTLSD itu cenderung mati atau cenderung nggak tumbuh," kata Marzuki.

Menurut dia, TTLSD membuat keruh air sekitar bangunan itu.

"Nah, makannya tadi ada cerita kayak ombak pantul itu cenderung membuat keruhnya sekitaran TTLSD. Akhire ruang pemijahan atau ruang-ruang ekosistem ikan itu rusak semua," ungkapnya.

Dia menyebut TTLSD berdiri sejak 2024. Pada 2025, dampaknya mulai terasa.

"Kerang-kerangan mungkin (terganggu) semenjak adanya TTLSD. Jadi di tahun-tahun 2025, TTLSD kan 2024," kata dia.

Marzuki menambahkan, nelayan mulai menanam bambu sebagai rumpon sejak April tahun ini. Namun, bulan ini belum ada kerang hijau yang bisa dipanen.

"Kita tanam kan di bulan April. (Sebelumnya) Di bulan Agustus itu sudah mulai panen meskipun kecil. Ini blas (sama sekali) nggak ada," pungkasnya.



(dil/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads