Di sisi barat daya Kabupaten Blora, terdapat fenomena alam tak biasa dan cenderung berbahaya. Adalah Oro-oro Kesongo, kawasan yang beberapa kali telah memuntahkan lumpur dan gas metana berkadar tinggi.
Letusan yang terbaru terjadi pada 7 Agustus 2026. Diberitakan detikJateng, erupsi tersebut terjadi sebanyak enam kali dengan tinggi semburan lumpur sekitar 10 hingga 15 meter.
"Benar adanya fenomena alam letupan lumpur (Kurdo) di Puncak Kesongo yang berada di Dukuh Sucen, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora," ungkap Kapolsek Jati, AKP Suyadi, saat dimintai konfirmasi detikJateng via pesan singkat, Jumat (7/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan arsip detikcom, fenomena Oro-oro Kesongo bukan sebatas peristiwa alam biasa. Ada cerita legenda yang menyertai keberadaannya.
Namun demikian, bagaimana penjelasan ilmiah di balik fenomena Oro-oro Kesongo Blora?
Fenomena Apa yang Terjadi di Oro-oro Kesongo?
Oro-oro Kesongo sejatinya merupakan kawah dari gunung api lumpur atau mud vulcano. Menurut Kepala Cabang Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah wilayah Kendeng Selatan, Teguh Yudi Pristiyanto, saat dihubungi detikcom pada 27 Agustus 2020 lalu, mud volcano adalah fenomena ekstruksi cairan seperti hidrokarbon dan gas seperti metana.
Sementara itu, laman The University of the West Indies Seismic Research Centre menjelaskan gunung lumpur adalah retakan tempat keluarnya gas seperti metana. Dalam erupsi tersebut, keluar pula lumpur dan pasir yang kemudian dimuntahkan secara bersamaan ke permukaan.
Gunung lumpur bukanlah gunung berapi asli, dan tingkat bahayanya lebih rendah jika dibandingkan dengan gunung berapi sungguhan. Hal ini disebabkan oleh muntahannya yang hanya berupa lumpur hangat dengan cakupan wilayah terdampak yang kecil (radiusnya beberapa ratus meter).
Dikutip dari laman Departemen Geologi FT UGM, letusan gunung lumpur di Oro-oro Kesongo terjadi akibat tekanan kompresif dari patahan anjak (sesar naik/thrust fault) yang merambat melalui batuan dan terus-menerus diterima lapisan lumpur. Semakin besar tekanan yang diterima, semakin berkurang pula kekuatan geser antarbutiran lumpur sehingga memaksa/mendorong mereka untuk bergerak ke permukaan.
Pergerakan tersebut kemudian membentuk pipa lumpu atau mud diapir yang jika berhasil menembus permukaan bumi, maka akan berubah menjadi gunung lumpur. Kemunculan lumpur ke permukaan ini mengakibatkan kosongnya rongga di sekitar yang menjadi jalur pergerakannya.
Akibat kekosongan tersebut, wilayah di sekitar gunung lumpur akan amblas. Gunung lumpur Kesongo memiliki area amblasan yang besar dengan diameter 1,3 km seluas 135 hektar. Kini, gunung lumpur yang menyebabkan luasnya amblasan tersebut sudah hilang dan berganti menjadi berbagai kerucut lumpur (grifon).
Semburan lumpur yang aktif ini menyebabkan pepohonan tidak ada yang mampu tumbuh di area amblasan Oro-oro Kesongo. Di sana hanya ada rumput dan semak belukar yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk menggembalakan ternak.
Riwayat Letusan dari Tahun ke Tahun
Letusan pertama Oro-oro Kesongo yang tercatat secara resmi terjadi pada tahun 2009. Saat itu, terjadi letusan besar yang mengubah bentang alam Oro-oro Kesongo dan membentuk area kawah serta genangan lumpur (salsa) yang terus aktif hingga kini.
Pada 2013 kembali terjadi letusan besar yang menyebabkan bergesernya lokasi grifon aktif ke sisi timur salsa. Hal yang sama terjadi lagi pada tahun 2016 dan mengakibatkan pergeseran grifon ke sisi selatan salsa.
Tahun 2020, tepatnya pada 27 Agustus, Oro-oro Kesongo kembali memuntahkan lumpur dan gas. Letusan pertamanya mencapai tinggi 40 meter dengan suara dentuman keras yang mendengingkan telinga. Saat itu empat orang mengalami keracunan dan 18 ekor kerbau dilaporkan hilang.
Berlanjut pada 11 April 2023, seorang warga dilaporkan meninggal dunia akibat menghirup gas beracun. Sementara letupan pada 3 Desember 2024, terjadi hingga 10 kali tapi tidak menimbulkan korban jiwa.
Jumat, 7 Agustus 2026, Oro-oro Kesongo kembali erupsi dengan ketinggian semburan sekitar 10-15 meter berdasarkan keterangan warga. Letusan ini cenderung berskala kecil jika dibandingkan dengan letusan-letusan sebelumnya.
Legenda Oro-oro Kesongo
Fenomenalnya Oro-oro Kesongo bukan hanya karena letusannya saja, tapi juga dikenal karena legenda yang menyertainya. Ada dua versi cerita legenda Oro-oro Kesongo yang disampaikan turun temurun oleh warga setempat.
1. Sembilan orang ditelan ular mirip gua
Versi yang pertama adalah kisah sembilan orang yang ditelan ular. Pada suatu masa, ada 10 orang yang kehujanan dan memutuskan untuk berteduh di dalam gua.
Namun, karena satu orang memiliki penyakit kulit, sembilan orang sisanya enggan untuk mengajak orang tersebut untuk masuk dan berteduh. Saat dibiarkan kehujanan di luar, satu orang tersebut tanpa sengaja memukul-mukul tembok gua dengan senjata tajam.
Tanpa mereka sadari, ternyata gua tersebut merupakan jelmaan ular raksasa yang sedang bertapa. Karena merasa terganggu, mulut ular pun langsung menutup begitu saja dan menyebabkan tertelannya sembilan orang yang sedang berteduh.
2. Konflik kerajaan dan tewasnya sembilan prajurit
Dalam versi lain, legenda Oro-oro Kesongo berkaitan dengan sejarah seorang tokoh bernama Hang Sanjaya, yang konon lahir pada tahun 725 Masehi. Pemerhati sejarah Kabupaten Blora, Eko Arifianto, menuturkan kisah ini bersumber dari catatan Babad Kanung, yang mencatat perjalanan orang Jawa dari tahun 230 SM hingga 1292 M.
Menurutnya, Sanjaya lahir di Sucen, Doplang (kini masuk wilayah Kecamatan Jati, Blora) yang pada masa itu dikenal dengan nama Medang Pakuwon. Sanjaya merupakan putra dari pasangan Sanaha dan Saladu yang masih satu garis keturunan dengan Datu Dewi Simaha.
Cerita bermula ketika Sana, paman Sanjaya, baru saja dilantik sebagai datu di Galuh, wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara. Namun jabatan itu tak bertahan lama.
Seorang pangeran dari kerajaan yang sama disebut-sebut mengincar tahta Sana. Dibantu sang istri, pangeran tersebut merancang konspirasi istana yang berujung pada kematian Sana akibat racun.
Agar jasadnya tidak membusuk selama perjalanan pulang, para pengikut setia membalsam tubuh Sana sebelum membawanya kembali ke kampung halaman di Sucen, Doplang. Iring-iringan itu terdiri dari sembilan pengawal dan seorang pekathik, sebutan untuk pelayan yang bertugas merawat kuda.
Sesampainya di Medang Pakuwon, kabar duka itu justru disambut amarah oleh Sanaha, kakak kandung Sana sekaligus ibu dari Sanjaya. Ia menganggap kesembilan pengawal itu gagal menjaga keselamatan adiknya di tanah rantau. Dalam kemarahannya, Sanaha memerintahkan agar seluruh pengawal tersebut dihukum mati.
Hanya sang pekathik yang luput dari eksekusi. Ia dibiarkan hidup karena dianggap hanya rakyat kecil yang tidak mengerti duduk perkara politik di balik kematian Sana.
Peristiwa berdarah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kisah tutur "Kesongo," yang merujuk pada kematian sembilan orang secara tragis dan dramatis. Lokasi eksekusi itu kini dikenal warga sebagai Oro-oro Kesongo, terletak di Desa Gabus, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora.
Terlepas versi mana yang benar-benar menjadi cikal bakal terbentuknya Oro-oro Kesongo, terdapat penjelasan ilmiah di baliknya yang dapat dijadikan sebagai pemahaman dan pedoman mitigasi masyarakat agar hal-hal yang merugikan tidak terjadi.
Kini, tempat yang menyimpan kisah kelam itu berwujud dataran rendah dengan tanah berlumpur. Dikutip dari laman Pemkab Blora, Oro-oro Kesongo telah dikembangkan menjadi kawasan wisata geologi agar lepas dari kesan mistis yang menyertainya.
