Delapan siswa SMA Unggulan CT ARSA Foundation diterima sebagai mahasiswa baru program sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun akademik 2026/2027. Salah satunya Sofi Aulia Syarifa (19), anak buruh lepas yang baru lulus dari SMA Plus CT ARSA Sukoharjo. Ini kisahnya.
Dilansir detikJabar, Sofia ialah anak kedua dari enam bersaudara dari keluarga sederhana di Purworejo. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas yang tak tentu penghasilannya.
"Yang bekerja hanya ayah saya sebagai buruh harian lepas. Kadang jadi kuli bangunan, sempat kerja di Kalimantan, pernah juga buka jasa pijat di pasar malam dan jaga stan mainan. Kadang memang tidak bisa kirim uang ke rumah," kata Sofia kepada detikJabar, Selasa (5/8/2026).
"Dulu kami merasa melanjutkan sekolah itu sesuatu yang mustahil. Bahkan untuk melanjutkan hidup saja, biaya makan kadang masih susah," imbuh dia.
Setelah lulus SMP, Sofi mendapat kesempatan bersekolah di SMA Plus CT ARSA Sukoharjo. Kini ia diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB.
Menurut Sofia, bersekolah di SMA CT ARSA Sukoharjo menjadi titik balik yang mengubah masa depannya. Di sekolah unggulan tersebut, seluruh kebutuhan pendidikan hingga kehidupan di asrama dipenuhi sehingga siswa tak perlu memikirkan biaya
"Karena adanya Bunda (Anita Tanjung-Founder CT ARSA Foundation) dan tim CT ARSA, kami bisa merasakan fasilitas pendidikan yang sangat berkualitas. Dari situ kami jadi berani bermimpi dan akhirnya bisa masuk ke perguruan tinggi yang kami inginkan," ucap dia.
"Selama sekolah di CT ARSA benar-benar dididik bukan hanya untuk berprestasi, tetapi juga punya etika yang baik. Kalau kita sudah paham pelajaran sementara teman belum paham, kita diminta mengajari," sambungnya.
Sofia mengatakan, para guru di CT ARSA tidak segan memberikan tambahan waktu belajar di luar jam sekolah.
"Kalau kita belum mengerti pelajaran, guru bersedia ngasih jam tambahan. Itu sering banget, bahkan sampai magrib. Saya sangat salut terhadap guru-guru CT ARSA," ujar dia.
Menurut Sofia, lingkungan yang suportif itu membuat prestasi siswa SMA CT ARSA berkembang lebih merata. Ia merasa tidak pernah dibiarkan berjuang sendirian, termasuk ketika mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi.
"Guru-guru luar biasa memenuhi kebutuhan kami. Kebutuhan di asrama, kebutuhan sekolah, semuanya diperhatikan. Bahkan saat mau masuk perguruan tinggi kami didata satu per satu, sudah dapat beasiswa atau belum. Tidak ada satu pun anak yang merasa diabaikan," ungkap dia.
Sofi juga aktif mengikuti berbagai kompetisi selama di SMA Plus CT ARSA, termasuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Ia juga mengikuti kompetisi STEM Kihajar tingkat provinsi bersama timnya dan berhasil meraih juara empat.
Di bidang astronomi, ia menekuni olimpiade selama dua tahun berturut-turut sejak kelas 10.
"Di tahun pertama dapat juara 2 tingkat kabupaten. Di tahun kedua, alhamdulillah tingkat kabupaten masih juara 2, tapi di tingkat provinsi juga dapat juara 2 hingga masuk top 100 nasional," kata Sofia.
(dil/apl)