Kisah Sofia, Anak Buruh Harian Lepas Purworejo Berhasil Masuk ITB

Kisah Sofia, Anak Buruh Harian Lepas Purworejo Berhasil Masuk ITB

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Rabu, 05 Agu 2026 16:57 WIB
Sofi Aulia Syarifa lulusan SMA Plus CT ARSA yang tembus ITB
Sofi Aulia Syarifa lulusan SMA Plus CT ARSA yang tembus ITB (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)
Bandung -

Bagi Sofi Aulia Syarifa (19), melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi pernah terasa seperti mimpi yang terlalu jauh untuk digapai. Sejak kecil, anak kedua dari enam bersaudara ini menjadi saksi perjuangan sang ayah yang bekerja serabutan untuk menghidupi keluarga.

Di Purworejo, Jawa Tengah, ayahnya merupakan buruh harian lepas yang harus berpindah-pindah pekerjaan mengikuti kesempatan yang ada. Mulai dari menjadi kuli bangunan, merantau ke Kalimantan, hingga membuka jasa pijat di pasar malam.

Pekerjaan yang tidak menentu membuat kondisi ekonomi keluarga sering kali naik-turun. Bahkan ada masa ketika ayahnya tidak dapat mengirim uang ke rumah karena pekerjaan sedang sepi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang bekerja hanya ayah saya sebagai buruh harian lepas. Kadang jadi kuli bangunan, sempat kerja di Kalimantan, pernah juga buka jasa pijat di pasar malam dan jaga stan mainan. Kadang memang tidak bisa kirim uang ke rumah," ujarnya pada detikJabar, Selasa (5/8/2026).

ADVERTISEMENT

Dalam keterbatasan, pendidikan tinggi bukan sesuatu yang mudah dibayangkan. Sofi mengaku keluarganya lebih banyak memikirkan bagaimana kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dibandingkan perkuliahan. "Dulu kami merasa melanjutkan sekolah itu sesuatu yang mustahil. Bahkan untuk melanjutkan hidup saja, biaya makan kadang masih susah," kenangnya.

Namun, perjalanan hidupnya perlahan berubah. Selepas menyelesaikan jenjang SMP, Sofi mendapat kesempatan untuk bersekolah di SMA Plus CT ARSA Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kini, Sofi menjadi salah satu dari delapan alumni SMA Plus CT ARSA yang berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan diterima sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun akademik 2026/2027.

Ia diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB dan mengikuti Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) ITB di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Rabu (5/8/2026). "Saya merasa sangat amat bersyukur dan merasa terbantu banget," ungkapnya.

Kesempatan bersekolah di CT ARSA, menurutnya, menjadi titik balik yang mengubah masa depannya. Selama menempuh pendidikan di sana, seluruh kebutuhan pendidikan hingga kehidupan di asrama dipenuhi sehingga siswa tak perlu memikirkan biaya.

"Karena adanya Bunda (Anita Tanjung-Founder CT ARSA Foundation) dan tim CT ARSA, kami bisa merasakan fasilitas pendidikan yang sangat berkualitas. Dari situ kami jadi berani bermimpi dan akhirnya bisa masuk ke perguruan tinggi yang kami inginkan," ujarnya.

Bagi Sofi, salah satu hal yang paling membekas selama bersekolah di sana adalah budaya saling mendukung antar siswa. Ia mengatakan para siswa tidak hanya didorong mengejar prestasi akademik, melainkan juga dibentuk agar memiliki kepedulian terhadap sesama.

"Selama sekolah di CT ARSA benar-benar dididik bukan hanya untuk berprestasi, tetapi juga punya etika yang baik. Kalau kita sudah paham pelajaran sementara teman belum paham, kita diminta mengajari," paparnya.

Sementara itu, ia menjelaskan, para guru pun tidak segan memberikan tambahan waktu belajar di luar jam sekolah. Tak jarang, para guru masih memberikan materi ajar hingga sore, bahkan menjelang malam.

"Bahkan kalau kita belum mengerti pelajaran, guru bersedia ngasih jam tambahan. Itu sering banget, bahkan sampai magrib. Saya sangat salut terhadap guru-guru CT ARSA," katanya.

Lingkungan yang suportif itu, kata Sofi, membuat prestasi siswa berkembang lebih merata. Ia merasa tidak pernah dibiarkan berjuang sendirian, termasuk ketika mulai mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi.

"CT ARSA kan memang dikenal dengan prestasi yang cukup merata di kalangan murid-muridnya, karena lingkungannya sangat suportif," ungkapnya.

Perhatian tersebut bahkan berlanjut ketika para siswa mulai menentukan kampus tujuan. Pihak sekolah secara aktif mendata kondisi setiap siswa, termasuk memastikan apakah mereka telah memiliki beasiswa atau masih membutuhkan bantuan pendanaan.

"Guru-guru luar biasa memenuhi kebutuhan kami. Kebutuhan di asrama, kebutuhan sekolah, semuanya diperhatikan. Bahkan saat mau masuk perguruan tinggi kami didata satu per satu, sudah dapat beasiswa atau belum. Tidak ada satu pun anak yang merasa diabaikan," katanya.

Gemar Ikut Lomba

Selama bersekolah di SMA Plus CT ARSA, Sofi juga aktif mengikuti berbagai kompetisi. Ia pernah mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Meski belum berhasil membawa pulang gelar juara, ia mengatakan pengalaman tersebut membuatnya belajar menyusun karya ilmiah dan melakukan penelitian secara lebih sistematis.

Selain itu, Sofi juga mengikuti kompetisi STEM Kihajar tingkat provinsi bersama timnya dan berhasil meraih juara empat. Di bidang astronomi, ia menekuni olimpiade selama dua tahun berturut-turut sejak kelas 10.

"Di tahun pertama dapat juara 2 tingkat kabupaten. Di tahun kedua, alhamdulillah tingkat kabupaten masih juara 2, tapi di tingkat provinsi juga dapat juara 2 hingga masuk top 100 nasional," paparnya.

"Meskipun belum dapat medali nasional, itu pengalaman yang luar biasa buat saya. Dari setiap lomba selalu ada pelajaran yang bisa diambil," lanjutnya.

Dapat Beasiswa Berkat Berani Bertanya

Selain digembleng untuk berprestasi di bidang akademik, Sofi mengatakan guru-guru SMA Plus CT ARSA juga kerap menekankan pentingnya berpikir kritis dan berani bersuara. Hal tersebut ternyata membawanya pada rezeki yang tak terduga.

Ia mengenang masa ketika dirinya mengikuti kegiatan Jambore di Universitas Pembangunan Nasional Veteran. Dalam salah satu sesi seminar yang menghadirkan narasumber dari Kementerian Pertahanan, tiga peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan.

Berbekal kebiasaan yang ditanamkan selama belajar di CT ARSA, Sofi memberanikan diri bertanya di hadapan peserta yang sebagian besar merupakan orang dewasa. "Waktu itu di CT ARSA kami memang dilatih untuk banyak bertanya. Jadi saya memberanikan diri bertanya di depan banyak orang," kenangnya.

Tak disangka, pertanyaan yang ia sampaikan menarik perhatian salah seorang peserta seminar. Seusai acara, orang tersebut menghampirinya dan menawarkan bantuan yang mengubah perjalanan pendidikannya.

"Alhamdulillah di sana ada hamba Allah yang menawarkan beasiswa penuh selama kuliah. Beliau langsung bertanya saya mau kuliah di mana dan menawarkan untuk membiayai kuliah saya," kata Sofi.

Di keluarganya, Sofi menjadi anak pertama yang berhasil diterima di ITB. Namun, jejak pendidikan melalui CT ARSA Foundation lebih dulu dirintis sang kakak sulung. "Kakak pertama saya juga alumni CT ARSA. Beliau bisa berkuliah lewat beasiswa penuh dari mitra CT ARSA di Prasetya Mulya Tangerang," ungkapnya.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads