97.831 Anak di Jateng Tidak Sekolah gegara DO

97.831 Anak di Jateng Tidak Sekolah gegara DO

Devita Savitri - detikJateng
Jumat, 31 Jul 2026 14:00 WIB
Lecture room or School empty classroom with Student taking exams, writing examination for studying lessons in high school thailand, interior of secondary education, whiteboard. educational concept
Ilustrasi ruang kelas di sekolah. Foto: iStock
Solo -

Sebanyak 97.831 anak di Jawa Tengah (Jateng) tidak bersekolah karena dropout (DO). Dari 10 provinsi dengan angka DO sekolah tertinggi, Jateng menempati urutan ketiga.

Dilansir detikEdu, Jumat (31/7), DO menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mengapa seorang anak bisa tidak sekolah. Alasannya beragam, termasuk harus menjadi tulang punggung keluarga.

Dari 3,9 juta ATS yang ada di Indonesia, 967.269 anak di antaranya mengalami DO dari sekolah. Data ini diambil berdasarkan dashboard ATS Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang diakses pada Kamis (30/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen Tatang Mutaqin membenarkan ada daerah-daerah yang memiliki tingkat DO tinggi.

"Tapi ada daerah-daerah juga yang dropout-nya tinggi. Kalau dropout-nya tinggi ini saya temukan di daerah-daerah yang basis industri," kata dia dalam Taklimat Media Pendidikan Jarak Jauh di Sunyi Coffee Jakarta, Kamis (30/7/2026).

ADVERTISEMENT

Tatang mengatakan, DO banyak terjadi ketika siswa berada di kelas 2 SMA. Mereka lebih memilih untuk bekerja dan membantu ekonomi keluarga.

"Jadi tadi ketika selesai SMP, dia menimbang antara menjadi kerja informal atau melanjutkan sekolah, atau dia ketika kelas 2 SMA sudah cukup usianya, dia mendapatkan pekerjaan-pekerjaan," ujar Tatang.

Menurut Tatang, daerah yang memiliki tingkat DO tinggi adalah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Sidoarjo, Surabaya, hingga Semarang. Anak-anak di wilayah tambang seperti Bangka juga memiliki tingkat DO tinggi.

Dashboard ATS juga merilis data besaran tingkat DO berdasarkan provinsi. Berikut ini 10 provinsi dengan jumlah ATS karena DO terbanyak:

  1. Jawa Barat: 169.142 anak
  2. Jawa Timur: 97.847 anak
  3. Jawa Tengah: 97.831 anak
  4. Sumatera Utara: 56.132 anak
  5. Banten: 39.126 anak
  6. Sumatera Selatan: 36.711 anak
  7. Kalimantan Barat: 36.360 anak
  8. Sumatera Barat: 36.711 anak
  9. Sulawesi Selatan: 29.654 anak
  10. Nusa Tenggara Timur: 29.607 anak

Data lainnya bisa dicek melalui dashboard ATS pada tautan https://ats.data.kemendikdasmen.go.id/index.php/dashboard-ats.

Guna menurunkan tingkat DO, Kemendikdasmen menghadirkan kebijakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). PJJ memungkinkan siswa belajar dengan waktu yang fleksibel dan bisa disesuaikan jika mereka harus bekerja.

"Maka hari kerja mereka bekerja, tapi hari mereka istirahat dia bisa baca modul-modul yang tersedia. Mereka bisa memanfaatkan hari Sabtu, Minggunya untuk membaca dan menyimak apa yang ada di modul tadi," ucap Tatang.

Modul itu berisi materi-materi pelajaran yang paling penting. Setelah membaca modul, siswa juga akan menjalani asesmen daring oleh guru dari sekolah induk atau sekolah tempat mereka menjalani PJJ.

"Dalam waktu tertentu, katakanlah seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali, mereka bisa di asesmen oleh para gurunya secara online," kata Tatang.

Tatang menambahkan, model PJJ tidak hanya mengakomodir ATS, tapi juga anak pekerja migran yang di negaranya tidak ada Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), anak diplomat, anak yang bekerja di dunia hiburan, hingga atlet.

"Jadi ada opsi-opsi yang tersedia untuk banyak anak. Apalagi tadi anak-anak yang di pulau. Ketika anak di pulau mereka kesulitan akses internet, dengan modul mereka bisa mempelajari bahan-bahan secara sistematis dan lebih mudah," pungkas dia.



(dil/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads