Curhat Petani Rowosari Semarang Terancam Gagal Panen Imbas Kemarau

Curhat Petani Rowosari Semarang Terancam Gagal Panen Imbas Kemarau

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Rabu, 29 Jul 2026 12:52 WIB
Kondisi sawah di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, yang terdampak kekeringan, Rabu (29/7/2026).
Kondisi sawah di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, yang terdampak kekeringan, Rabu (29/7/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Para petani di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, terancam mengalami gagal panen akibat kemarau. Mereka menyebut sudah tiga bulan hujan tidak turun sehingga kondisi tanaman mengering.

Pantauan detikJateng di lokasi, Rabu (29/7), tampak beberapa petani sedang mengecek ladangnya. Terlihat tanah di beberapa petak tanah mengering hingga pecah.Sementara itu tidak tampak saluran irigasi. Kondisi tanaman pun mengering.

Terlihat pula tanaman jagung tingginya hanya sekitar tiga jengkal. Daunnya jarang-jarang dan batangnya nyaris kering. Selain itu banyak pula tanaman kacang hijau yang tidak tumbuh. Daunnya mulai mengering.

Di tengah sawah, tampak seorang pria paruh baya sedang mencongkel tanah yang pecah akibat kekeringan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini sudah tiga bulan tidak hujan. Ini selesai ditanam padi," kata pria bernama Tusri (64), petani asal Rowosari saat ditemui detikJateng di sawahnya, Rabu (29/7/2026).

Kondisi sawah di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, yang terdampak kekeringan, Rabu (29/7/2026).Kondisi sawah di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, yang terdampak kekeringan, Rabu (29/7/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan, sebagian lahannya kini ditanam jagung. Sebelumnya ia sempat menanam padi, tapi dipanen sebelum waktunya.

"Tanam jagung. Kemarin tanam padi nggak nyandak (lebih dulu dipanen lantaran kering)," terangnya.

Tusri menyebut jagungnya sempat dipanen sebelumnya, namun hasilnya hanya seberat 30 kg. Dalam kondisi normal, dengan luas lahan 2 ribu meter, ia bisa panen 1 kuintal jagung.

"Ini hanya mendapat 30 kilo, biasanya dapat sekuintal," sebutnya.

Jagungnya yang telah ditanam sekitar 1,5 bulan lalu tidak kunjung tumbuh tinggi.

"Ini jagung tidak bisa diambil, sudah keluar biaya berapa. Tumbuh, mati, tumbuh, mati, panasnya begitu. Tidak bisa besar karena kering. Harapannya ada irigasi," ucapnya.

Akibat musim kemarau, Tusri tidak bisa menanam banyak jagung. Terlebih sawahnya hanya mengandalkan pengairan dari hujan.

Dia pun ragu untuk menanam padi lantaran tidak ada hujan. Kondisi saat ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

"Ini belum ada hujan, belum bisa menanam. Tadah hujan, kalau tanam padi ketar-ketir hujannya sempat atau tidak. Kadang hujan telat-telat. Tidak ada saluran irigasi. Tahun kemarin enak, hujannya ada, tanam padi dan jagung," jelasnya.

Tanaman pisang milik Tusri juga terserang penyakit. Dia mengatakan, buah pisangnya berwarna hitam saat dibelah.

"Pisang juga sakit. Buahnya rusak, saat diiris dalamnya hitam. Kadang-kadang masih muda mati layu. Banyak yang terdampak," terangnya.

Petani lainnya, Khomsatun (57), mengalami kondisi serupa. Dia mengatakan, kekeringan telah melanda wilayahnya selama tiga bulan.

Khomsatun menanam jagung dan kacang hijau di empat petak tanah sekitar dua bulan lalu.

"Menanam tanaman itu kacang hijau sama jagung," kata Khomsatun.

"Karena nggak ada air, ya, do merentel (dedaunan pada keriput) semua, biasane kan subur, hijau. (Terancam gagal panen?) Iya," terangnya.



(dil/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads