Dieng Juara Terdingin Se-Jawa Saat Bediding, Suhu Sentuh 0,7 Derajat Celsius

Dieng Juara Terdingin Se-Jawa Saat Bediding, Suhu Sentuh 0,7 Derajat Celsius

Suci Risanti Rahmadania - detikJateng
Selasa, 28 Jul 2026 15:02 WIB
Wisatawan menujukkan suhu udara yang turun hingga minus tiga derajat celcius dan menyebabkan embun beku  di Lapangan Pandawa, dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (12/7/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena embun beku atau embun upas di dataran tinggi Dieng terjadi pada musim kemarau sekitar Juni - September akibat angin monsun Australia yang membawa massa udara kering sehingga suhu permukaan dapat turun hingga di bawah nol derajat celsius dan membekukan uap air menjadi embun beku. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU
Suhu Minus 3 Derajat, Dieng Diselimuti Embun Beku. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Solo -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan sejumlah daerah di dataran tinggi dalam beberapa pekan terakhir mengalami suhu yang sangat rendah. Dieng juaranya dingin se-Jawa, suhunya hampir menyentuh titik beku di angka 0,7 derajat Celcius.

"Data AWS BMKG mencatat, suhu di Bromo menyentuh angka 3,9 derajat Celcius pada tanggal 11 Juni kemarin. Tapi Dieng juaranya, suhunya hampir menyentuh titik beku di angka 0,7 derajat Celcius," ucap BMKG, dikutip detikHealth dari Instagram resminya, Selasa (28/7/2026).

"Saking dinginnya fenomena bediding ini, di daerah dataran tinggi seperti Gunung Bromo, air embun yang menempel di daun bisa membeku jadi kristal es, mirip hampalan salju," sambung BMKG.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, Dr Givo Alsepan, selain dipengaruhi elevasi yang lebih tinggi, udara dingin juga cenderung mengalir dan berkumpul di lembah. Di kawasan seperti Dataran Tinggi Dieng, kondisi ini dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.

ADVERTISEMENT

BMKG menjelaskan, fenomena bediding dalam beberapa pekan terakhir ini terjadi akibat pengaruh Monsun Australia. Angin musiman yang bersifat kering ini membawa massa udara yang relatif dingin dan mengurangi pembentukan awan di langit.

Akibatnya, tanpa adanya tutupan awan, panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Kondisi ini membuat suhu minimum turun drastis, terutama menjelang pagi.

"Data BMKG 10 tahun terakhir mencatat penurunan suhu mulai terasa di bulan Juli dan mencapai puncaknya pada Juli sampai Agustus," ucap BMKG.



(dil/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads