Zulhas Respons soal Kopdes Merah Putih dan Warung Madura

Zulhas Respons soal Kopdes Merah Putih dan Warung Madura

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Senin, 27 Jul 2026 14:55 WIB
Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), di Politeknik Negeri Semarang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (27/7/2026).
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan di Politeknik Negeri Semarang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (27/7/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Mahasiswa anggota BEM SI menggelar Musyawarah Nasional BEM SI XIX 2026 yang menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Mahasiswa mengkritik Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang diragukan bisa menyaingi warung Madura.

Hal itu disampaikan perwakilan mahasiswa Universitas Sultan Agung (Unissula), Wiyu Ghaniy. Ia awalnya mempertanyakan apakah KDMP bisa menyaingi mini market yang sudah bertebaran di Indonesia.

"Jika melawan toko-toko seperti Alfamart sama Indomaret, sanggup atau tidak Kodes Merah Putih kawan-kawan? Tidak sanggup kawan-kawan," kata Ghaniy di hadapan mahasiswa di Politeknik Negeri Semarang, Senin (27/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahkan untuk melawan warung Madura saja, ada yang rumahnya ada warung Madura? Lebih untung mana warung Madura atau Kodes Merah Putih kawan-kawan? Warung Madura," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Ia juga mempertanyakan pembangunan KDMP yang dibangun di kawasan terpencil, di pegunungan, hingga di tempat yang susah diakses.

"Katanya Kopdes hanya akan jadi tempat jualan. Lebih baik daripada membangun Kopdes, lebih baik diperbaiki balai kelurahan di setiap desa," lanjutnya.

Ghaniy lantas mendesak agar pemerintah bisa memastikan program yang menelan anggaran hingga triliunan itu berfungsi sebagaimana koperasi yang dicita-citakan Mohammad Hatta, Bapak Koperasi Indonesia.

"Manager Kopdes Merah Putih jangan hanya diajari yel-yel saja," ucapnya.

Respons Zulhas

Menanggapi kritikan dari mahasiswa itu, Zulhas mengatakan, KDMP tak hanya akan sekadar menjadi tempat berjualan. Hal itu yang menurutnya kerap disalahpahami oleh masyarakat.

"Koperasi Desa Merah Putih itu dia bukan supermarket, itu adalah infrastruktur pemerintah yang selalu melakukan kebutuhan-kebutuhan rakyat," kata Zulhas di hadapan mahasiswa.

Menurutnya, selama ini sekitar 70 persen penyaluran barang bersubsidi masih belum tepat sasaran. Dia menyebut Kopdes Merah Putih hadir sebagai infrastruktur pemerintah dan offtaker yang selama ini belum dimiliki pemerintah.

"Nanti sembako bantuan 10 kg, bantuan pupuk, agar tepat sasaran, subsidi gas 3 kg, alat pertanian, penyaluran bunga bank yang ada subsidi itu melalui Koperasi Desa Merah Putih," jelasnya.

Zulhas juga menepis anggapan jika Kopdes Merah Putih belum memberikan manfaat. Ia mengatakan, kondisi itu terjadi karena koperasi memang belum mulai beroperasi.

"Koperasi Desa memang belum jalan. Koperasi Desa akan mulai jalan bulan September, sekarang gimana? Memang sudah jadi bangunannya, tapi belum jalan," jelasnya.

Menurut Zulhas, sekitar 35 ribu Kopdes Merah Putih ditargetkan mulai aktif pada September mendatang. Seluruh koperasi itu, kata dia, merupakan milik desa yang dikelola oleh manajer beserta pengurus dari desa masing-masing.

"Insyaallah September ini akan jadi 35 ribu, manajernya satu, jadi pengurusnya lainnya dari desa. Koperasi Desa itu milik desa bukan milik pemerintah," ucapnya.



(ams/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads