Sebuah video yang memperlihatkan dugaan aksi pengeroyokan terhadap seorang pelajar di Kabupaten Rembang, viral di media sosial. Dalam video tersebut sekelompok orang tengah terlibat tawuran di tepi jalan, hingga terdengar dua kali suara ledakan.
Video berdurasi sekitar 22 detik itu memperlihatkan segerombolan orang terlibat perkelahian di tepi jalan. Dalam rekaman juga terdengar dua kali suara ledakan yang belum diketahui sumber maupun penyebabnya.
Informasi yang beredar menyebutkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, dugaan pengeroyokan terjadi di beberapa lokasi yakni di kawasan SPBU Kiringan dan sekitar Jalur Pantura Desa Punjulharjo, Rembang dan di sekitar Alun-alun Lasem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Video tersebut diunggah oleh akun Instagram @RembangUpdate dan menyebar di berbagai platform media sosial.
Sementara itu, KBO Satreskrim Polres Rembang Iptu Widodo Eko Prasetyo membenarkan peristiwa tersebut. Polisi menyebut salah satu pelajar lapor jadi korban pengeroyokan dalam peristiwa itu.
"Ya benar, Polres Rembang tengah melakukan penyelidikan. Korban pelajar salah satu SMK Swasta, warga Leran, Sluke, inisial MIY (19). Korban ada banyak, cuma yang laporan satu orang. Korban mengalami luka-luka lecet di kaki," kata Widodo kepada detikJateng, Sabtu (25/7/2026) malam.
Widodo menjelaskan, peristiwa bermula sekitar pukul 11.20 WIB. Saat itu korban selesai mengikuti kegiatan bimbingan di sekolah dan hendak pulang menggunakan sepeda motor.
"Korban selesai melaksanakan bimbingan, mau pulang pakai motor. Saat sampai di Jalan Pantura masuk Desa Punjulharjo diadang oleh sekelompok orang yang memakai masker," ujarnya.
Tawuran Pecah di 2 Titik
Sementara, Kapolsek Rembang AKP Al Sutikna mengatakan pihaknya menerima laporan adanya tawuran sekitar pukul 12.00 WIB. Polisi kemudian bergerak menuju lokasi.
"Jadi tadi saya di Polsek itu jam 12 ada telepon laporan terkait ada tawuran di sepanjang Jalur Pantura masuk Desa Punjulharjo. Kita langsung hadir di lokasi kejadian," kata Al Sutikna.
Saat tiba di Gapura Punjulharjo, polisi mendapati rombongan pelajar salah satu SMK swasta di Kecamatan Rembang. Kedatangan petugas membuat rombongan tersebut membubarkan diri.
"Sampai di Gapura Punjulharjo sudah ada gerombolan anak-anak SMK. Kami datang, anak-anak ini lari ke timur. Ada sekitar 30 kendaraan," ujarnya.
Di saat bersamaan, polisi juga membubarkan kelompok lain yang berada di sekitar SPBU Kaliuntu, Pasarbanggi agar tidak bergabung dengan rombongan di timur.
"Di SPBU Kaliuntu juga ada gerombolan anak yang sempat dibubarkan. Jangan sampai ikut gabung ke timur tawuran. Mereka memakai jaket hitam, ada yang celana panjang, ada yang pendek, memakai masker juga, dan plat nomor kendaraannya ditutup," jelasnya.
Meski sempat dibubarkan, keributan tetap terjadi di wilayah timur. Korban MIY, warga Leran, Sluke, diduga menjadi sasaran pengeroyokan oleh sekelompok orang bermasker.
"Anak dari Leran, Sluke itu dipukuli oleh sekelompok orang yang pakai masker itu. Korban mengalami luka lecet di kaki kiri dan lampu depan motornya rusak," terang Al Sutikna.
Polisi juga menemukan sebuah pelat nomor kendaraan di lokasi yang kini dijadikan barang bukti untuk kepentingan penyelidikan. Sementara itu, pelaku diduga berasal dari sekolah lain.
"Yang mukul dugaan sementara dari sekolah lain. Kami masih dalami," imbuhnya.
Tak hanya di Punjulharjo, polisi menyebut tawuran kembali pecah di kawasan Alun-alun Lasem.
"Setelah dari Punjulharjo ternyata tawuran terjadi lagi di Alun-alun Lasem," kata Al Sutikna.
Terkait dua kali suara letusan yang terdengar dalam video viral, polisi menduga berasal dari petasan. Namun dugaan itu masih belum dapat dipastikan.
"Soal suara ledakan di video itu mungkin anak-anak bawa petasan, bisa. Karena saat kami ke sana sudah tidak ada," ujarnya.
Menurut hasil penyelidikan awal, tawuran tersebut dipicu saling ejek antarpelajar terkait nama sekolah yang kemudian berlanjut di media sosial hingga berujung bentrokan.
"Itu bermula dari saling ejek nama sekolahan dan berlanjut di media sosial. Tadi itu puncaknya tawuran," pungkasnya.
