Bulan safar mash sering dikaitkan dengan pelbagai mitos. Sebagian orang menganggap bulan kedua dalam kalender hijriah ini sebagai waktu yang sangat rawan mendatangkan musibah dalam bentuk apapun.
Keyakinan itu kemudian mempengaruhi keputusan. Ada yang memilih menunda acaranya karena khawatir mengalami nasib buruk selama bulan Safar. Menariknya, anggapan kesialan macam ini sudah dikenal di Arab sebelum datangnya Islam.
Dalam ajaran Islam, waktu tertentu tidak memiliki kekuatan sendiri untuk mendatangkan keberuntungan maupun kesialan. Lantas, benarkah bulan Safar membawa sial? Berikut penjelasan ulama dengan hadits yang berkaitan serta sejumlah mitos yang masih beredar di masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa Dinamakan Bulan Safar?
Dilansir NU Lampung, Safar mempunyai arti sepi dan sunyi. Sebab rumah-rumah masyarakat Arab pada masa itu menjadi kosong. Mereka meninggalkan tempat tinggal untuk berperang atau melakukan perjalanan, bukan karena kesialan atau malapetaka.
Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) menjelaskan:
صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ
Artinya: "Safar dinamakan dengan nama tersebut karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian." (Tafsîrubnu Katsîr, [Dârut Thayyibah, 1999], juz IV, halaman 146)
Benarkah Bulan Safar Membawa Sial?
Jawaban singkatnya: tidak. Bulan Safar tidak membawa kesialan dalam hal apapun. Tidak ada dalil atau hadits yang menyebutkan bahwa Safar adalah bulan yang buruk.
Dilansir laman Majelis Ulama Indonesia atau MUI, anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan berasal dari kepercayaan masyarakat Arab Jahiliah. Dari sana, keyakinan tersebut menyebar di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Rasulullah SAW meluruskan keyakinan tersebut melalui hadits yang menolak anggapan adanya kesialan pada bulan Safar. Rasulullah bersabda :
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَر
Artinya: "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak pula burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar." (HR Al-Bukhari)
Hal serupa dijelaskan di laman Badan Amil Zakat Nasional atau BAZNAS. Dilansir laman resminya, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."
Hadits tersebut menunjukkan bahwa tidak ada bulan yang secara otomatis membawa malapetaka. Suatu kejadian tidak boleh langsung dikaitkan dengan nama bulan, hari, angka, hewan, maupun pertanda tertentu. Pada dasarnya musibah tidak ada yang tahu, tidak dapat didasarkan dengan bulan, tanggal hingga hari.
Mitos Kesialan Bulan Safar yang Masih Beredar
Dirujuk dari MUI, mitos mengenai bulan Safar membawa petaka ini masih ada hingga sekarang. Maka tidak heran jika detikers kadang mendengar atau membaca larangan keluar rumah atau yang semisal. Berikut sejumlah mitos tentang bulan Safar yang masih sering dijumpai.
- Menikah pada bulan Safar mendapatkan kesialan
- Memulai usaha pada bulan Safar akan gagal
- Bepergian pada bulan Safar rawan terkena musibah
- Bulan Safar banyak penyakit
- Pindah rumah pada bulan Safar membawa nasib buruk
Dari sudut pandang Islam, sudah tentu keyakinan-keyakinan di atas tidak bisa dibenarkan. Hanya Allah SWT semata yang tahu mengenai segala sesuatunya. Demikian pembahasan mengenai benar tidaknya bulan Safar membawa sial. Semoga menjawab, ya, detikers!
Artikel ini ditulis oleh Ovilia Putri Ramadhani Mahasiswa Magang Pendidikan di detikcom
