- Bolehkah Menikah di Bulan Ruwah Menurut Primbon Jawa?
- Bulan Baik dan Tidak Primbon Jawa untuk Menikah
- FAQ tentang Bulan Ruwah untuk Menikah 1. Kapan bulan yang bagus untuk menikah menurut Primbon Jawa? 2. Tanggal bulan Ruwah yang tidak disarankan untuk menikah? 3. Adakah anjuran Islam untuk menikah bulan Ruwah?
Bagi orang Jawa, menikah tidak boleh dilangsungkan pada waktu yang secara acak dipilih. Salah-salah menentukan tanggal atau bulan, kesialan maupun hambatan dalam membina bidak rumah tangga diyakini bakal menimpa.
Bulan kedelapan dalam sistem penanggalan Jawa bernama Ruwah, atau Syaban dalam kalender Hijriah. Bila mengikuti aturan jumlah hari kalender Jawa, bulan ini bakal berlangsung selama 29 hari.
Ruwah yang tiba tepat sebelum bulan Poso/Ramadhan ini biasa dimanfaatkan untuk bersih-bersih makam leluhur sekaligus ziarah. Ada juga tradisi Sedekah Bumi sebagai wujud syukur atas pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa di sejumlah wilayah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana dengan menikah? Apakah boleh melangsungkan pernikahan pada bulan Ruwah? Berikut penjelasannya menurut Primbon Jawa.
Poin Utamanya:
- Ruwah adalah bulan kedelapan kalender Jawa. Bulan ini tersusun atas 29 hari.
- Secara umum, Ruwah adalah bulan yang baik dipakai menikah. Namun, ada beberapa ketentuan yang mesti diperhatikan.
- Selain Ruwah, bulan Jawa lain yang baik dipakai menikah menurut Primbon Jawa adalah Besar, Rejeb, dan Jumadilakir.
Bolehkah Menikah di Bulan Ruwah Menurut Primbon Jawa?
Bayu Aji Yusuf dari UIN Syarif Hidayatullah dalam skripsinya, Konsep Ruang dan Waktu dalam Primbon serta Aplikasinya pada Masyarakat Jawa, mendefinisikan primbon sebagai buku berisi perhitungan, perkiraan, ramalan, dan sejenisnya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya 'buku yang menghimpun berbagai pengetahuan kejawaan'. Di antara topik bahasan Primbon Jawa adalah bulan baik untuk menikah, penghitungan weton pasangan, dan karakter tiap weton lahir.
Jadi, apakah Ruwah boleh dipakai menikah dalam Primbon Jawa?
Mama Flo dalam buku Primbon Praktis menjelaskan bahwa 'baik-tidaknya' suatu bulan ditentukan berdasar tahunnya. Sebagaimana diketahui, terdapat 8 nama tahun Jawa, yakni Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.
Bulan Ruwah pada tahun Ehe, Jimawal, Je, dan Jimakir bagus dipergunakan untuk melangsungkan pernikahan. Sementara itu, Ruwah yang hadir pada tahun Dal diyakini tidak baik untuk menikah. Pasalnya, akan ada serangan sakit demam atau panas.
Di samping tahun yang tepat, ada ketentuan lain agar Ruwah 'boleh' dipakai menikah dalam Primbon Jawa, yakni memiliki hari Anggarakasih (Selasa Kliwon). Bila suatu bulan tidak mempunyai Selasa Kliwon, sebaiknya jangan dipergunakan untuk menikah. Sebagai informasi, bulan Ruwah yang tidak memiliki hari Anggarakasih terdapat pada tahun Jimawal dan Je.
Keterangan yang lebih sederhana dituliskan Gusti Pangeran Harya Tjakraningrat dan R Nugroho dalam buku Kitab Primbon Lengkap. Dijelaskan bahwa Ruwah adalah bulan yang boleh dipakai menikah, bahkan dianjurkan.
"Di dalam primbon Jawa, ada anjuran untuk menikah pada bulan Ruwah. Setiap orang yang menikah pada bulan ini dipercaya akan selamat dan selalu merasakan kedamaian di dalam pernikahannya," bunyi penjelasan di buku itu, dikutip pada Senin (26/1/2026).
Singkatnya, Ruwah boleh dipakai untuk menikah menurut aturan Primbon Jawa. Hanya saja, ada beberapa ketentuan yang mesti diperhatikan agar benar-benar 'aman'.
Bulan Baik dan Tidak Primbon Jawa untuk Menikah
Dikutip dari skripsi berjudul Tradisi Penentuan Hari Nikah dalam Primbon Jawa Perspektif 'Urf (Studi Kasus di Desa Blembem Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo) oleh Nur Laila Fitriana dari IAIN Ponorogo, di bawah ini daftar bulan baik dan tidak baik untuk menikah menurut Primbon Jawa:
- Suro: Tidak baik untuk melangsungkan pernikahan. Bila dilanggar, maka banyak pertengkaran dan kerusakan terjadi.
- Sapar: Bulan yang membawa kemiskinan dan banyak utang sehingga tidak tepat untuk menikah.
- Mulud: Bulan yang mesti dihindari untuk pernikahan karena dikhawatirkan salah satu pihak meninggal dunia.
- Bakda Mulud: Bulan yang boleh untuk menikah. Namun, mesti siap dicerca orang dan celaka.
- Jumadilawal: Bulan yang diyakini membuat seseorang kehilangan sesuatu atau tertipu. Bisa juga mendapatkan rezeki lebih, tetapi menemui masalah dengan orang lain.
- Jumadilakir: Bulan baik untuk menikah karena dipercaya membuat kaya.
- Rejeb: Bagus untuk menikah karena banyak anak dan banyak rezeki. Melangsungkan perkawinan pada bulan ini diyakini memberi keselamatan.
- Ruwah: Baik untuk segala hal, termasuk menikah. Selamat juga.
- Poso: Diartikan banyak celaka sehingga tidak baik untuk menikah.
- Syawal: Bulan yang diyakini menyebabkan kehidupan pernikahan mengalami banyak kekurangan dan utang. Alhasil, tidak direkomendasikan untuk menikah.
- Selo: Bulan yang kering, berkaitan dengan peristiwa Nabi Yunus alaihissalam yang ditelan ikan.
- Besar: Bulan kaya dan penuh kenikmatan. Dalam Primbon Jawa, bulan Besar termasuk bulan baik untuk menikah.
Demikian pembahasan ringkas mengenai boleh tidaknya menikah pada bulan Ruwah menurut Primbon Jawa. Semoga menjawab pertanyaan detikers, ya!
FAQ tentang Bulan Ruwah untuk Menikah
1. Kapan bulan yang bagus untuk menikah menurut Primbon Jawa?
Ada banyak ketentuan yang perlu diperhatikan. Namun, secara umum, bulan Ruwah, Rejeb, Besar, dan Jumadilakir yang direkomendasikan.
2. Tanggal bulan Ruwah yang tidak disarankan untuk menikah?
Tanggal 26 karena termasuk tanggal sangar. Juga 'diharamkan' untuk menikah pada tanggal 4 dan 28 Ruwah karena termasuk bangsa padewa. Hari taliwangke (nahas) Ruwah adalah Kamis Pon.
3. Adakah anjuran Islam untuk menikah bulan Ruwah?
Dalam Islam, semua tanggal, hari, maupun bulan sama baiknya. Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diketahui menikahi Hafshah binti Umar bin Khattab pada bulan Syaban/Ruwah.
(sto/dil)
