Sungai Babon di Kelurahan Plamongansari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang diduga tercemar. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah mengambil sampel air untuk diuji laboratorium.
Pantauan detikJateng di Lokasi pada Jumat (24/7) sekitar pukul 10.30 WIB, tampak sungai tidak mengalir. Sungai tersebut berada di bawah jembatan kampung yang hanya bisa dilewati dua motor.
Air sungai terlihat berwarna hijau pekat. Sulit untuk mengakses air sungai tanpa alat bantu seperti timba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bau tak sedap air sungai juga tercium dari atas jembatan. detikJateng juga menelusuri beberapa titik dan mendapati bau tak sedap yang sama di dekat sungai itu.
Air di tepian sungai juga tampak menghitam. Sebagian air di aliran sungai yang lebih kecil pun terlihat berwarna hitam. Sungai yang diduga tercemar itu terletak tidak begitu dekat dengan permukiman warga.
Kasi Pembangunan Kelurahan Plamongansari, Christiani, menyebutkan pihaknya mendapat laporan terkait dugaan pencemaran sungai dari pihak RW sekitar sepekan lalu atau pada Jumat (17/7). Dia menyebutkan, mulanya air berwarna hitam dan berbau.
"Hari Jumat kemarin itu ada laporan dari Pak RW bahwa sungainya itu hitam dan berbau," kata Christiani saat ditemui detikJateng di kantor Kelurahan Plamongansari siang ini.
Christiani mengatakan bau air di Sungai Babon saat itu begitu menyengat.
"Hitam pekat berbau, baunya menyengat. Makanya sangat mengganggu dan lapor ke kelurahan lewat Pak RW," tuturnya.
Christiani mengatakan, pihaknya bersama instansi lainnya pergi memeriksa kondisi sungai pada Selasa (21/7). Hasilnya, diduga pencemaran air bersumber dari lokasi pemotongan ayam di Pucang Gading, Mranggen, Demak. Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Plamongansari.
"Ternyata itu (dugaan sumber pencemarannya) ikutnya Pucang Gading, ikut Mranggen. Itu memang limbahnya dari pemotongan ayam," sebutnya.
Saat melakukan inspeksi di sungai tersebut, Christiani menyebut, aliran sungai sudah tidak lagi menghitam. Meski begitu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang tetap mengambil sampel air berwarna hitam yang masih tersisa di pinggiran sungai.
"Kemudian kita tindak lanjuti, ternyata airnya sudah mengalir dan kondisinya bagus. Dan kita ambil sampel bersama DLH untuk diselidiki keadaan airnya ke laboratorium. Kami tetap mengambil sampel lewat yang pinggir-pinggir sisa-sisa yang kemarin." ungkapnya.
Dia mengatakan, sungai Babon baru pertama kali diduga tercemar. Terlebih air berhenti mengalir saat kemarau.
"Dulu mungkin karena ngalir, ya. Jadi nggak begitu terasa, nggak terdampak. Tapi mungkin kemarin kemarau beberapa hari itu, terus (aliran sungai) mandek, terus hitam, pekat, berbau," katanya.
Dia menyebut sungai Babon tidak dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari-hari, melainkan irigasi pertanian.
"Kalau untuk minum, nggak. (Untuk cuci baju?) Nggak, karena sudah ada air artesis dan PDAM. Iya, untuk irigasi sawah," sebutnya.
Dari lokasi pemotongan ayam hingga di Plamongansari, dia menerangkan, panjang sungai bisa mencapai satu kilometer lebih.
"(Panjang sungai diduga tercemar satu kilometer?) Lebih," ujarnya.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Semarang, Glory Nasrani, membenarkan adanya dugaan pencemaran sungai Babon di wilayah Kelurahan Plamongansari. Dia menyebut laporan disampaikan melalui platform Lapor Semar.
"Injih. Sesuai dengan aduan di Lapor Semar," kata Glory melalui pesan singkat kepada detikJateng hari ini.
Lebih lanjut, Glory menyampaikan pihaknya telah meninjau lokasi dan tinggal menunggu hasilnya.
"Sudah dilakukan pengecekan ke lokasi. Menunggu hasil berita acara," pungkasnya.
