Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang menyebut lintasan sebidang di Jalan Kokrosono, Kecamatan Semarang Tengah, yang menjadi lokasi kecelakaan motor tertabrak kereta dan menewaskan dua orang merupakan jalur rawan. Berikut sederet alasannya.
Diketahui, dua orang yang merupakan seorang paman bernama Rujito (45) dan keponakannya HRA (9) tewas tertabrak kereta saat menerobos palang kereta di Jalan Kokrosono pada Senin (20/7/2026). Sementara kakak HRA, ZIA (12), kini tengah menjalani perawatan di rumah sakit.
"Kalau kita melihat kejadian yang kemarin yang sepeda motor itu memang kerawanan cukup tinggi terutama di basis bidang Kokrosono," sebut Sekretaris Dishub Kota Semarang, R. Ambar Prasetyo, saat dihubungi detikJateng, Selasa (21/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ambar menyebut akses jalan di lokasi tersebut tidak terlalu lebar. Terlebih ketinggian jalan menuju perlintasan sebidang itu cukup curam.
"Kalau kita lihat jalannya tidak terlalu lebar. Kemudian dari geometrik di perlintasan sebidang ini juga tanjakan ke rel itu cukup curam," sebutnya.
Di sisi utara rel, Ambar menyebut ada sebuah gang. Diketahui, gang tersebut bisa langsung menuju ke rel tanpa melewati palang kereta.
"Kemudian di sisi utaranya rel itu ada gang akses jalan," bebernya.
Ambar mengatakan Jalan Kokrosono juga padat kendaraan. Terlebih akses tersebut langsung tersambung dengan Jalan Jendral Sudirman yang merupakan jalan utama.
"Kalau kita lihat bahwa lalu lintas di Kokrosono jalannya cukup padat dalam arti karena pengaruh dari jalannya yang tidak terlalu lebar," tuturnya.
Pantauan detikJateng di lokasi hari ini, palang kereta tidak seluruhnya menutup jalan. Masih ada sisi pinggir jalan yang dapat dilewati pemotor meski palang kereta tertutup. Ambar menyebut seharusnya palang tersebut menutup seluruh jalan.
"Memang kalau idealnya palang pintu kereta itu ujungnya pas di ujung jalannya itu. Sehingga tidak memungkinkan ada sepeda motor nyelonong," terangnya.
Meski begitu, Ambar menegaskan, kesadaran masyarakat masih menjadi yang utama dalam hal keselamatan.
"Dengan kondisi yang tadi saya sampaikan itu ternyata juga masih belum semua masyarakat itu sadar untuk mematuhi peraturan lalu lintas. Mungkin ketika palang menutup ada sebagian masyarakat menggampangkan kalau kereta jauh. Padahal kereta api itu jauh dengan kecepatan cukup tinggi itu sulit sekali menghindar dari tertemper kereta api," tegasnya.
