Cuaca Esktrem Melanda Puncak Merbabu, Pendaki Diminta Waspada

Cuaca Esktrem Melanda Puncak Merbabu, Pendaki Diminta Waspada

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 15 Jul 2026 07:00 WIB
Suasana puncak Gunung Merbabu berselimut embun beku. Foto diunggah Selasa (14/7/2026).
Suasana puncak Gunung Merbabu berselimut embun beku. Foto diunggah Selasa (14/7/2026). Foto: Dok BTNGMb
Solo -

Kawasan puncak Gunung Merbabu mulai dilanda cuaca ekstrem. Para pendaki pun diminta waspada akan kemungkinan terserang hipotermia.

Akhir-akhir ini, terjadi embun beku di kawasan puncak Merbabu. Bahkan, suhu di puncak bisa mencapai minus 1 derajat Celsius.

"Nggih, leres (Iya, betul). Sampai weekend (akhir pekan) kemarin fenomena embun beku ini masih sering terjadi di jalur pendakian Gunung Merbabu," kata Humas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Dian Saraswati, Selasa (14/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dian menjelaskan, saat ini kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu memasuki fenomena bediding. Berdasarkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini merupakan siklus alam yang normal terjadi saat memasuki puncak musim kemarau. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga September 2026 mendatang.

ADVERTISEMENT

Namun, dengan ketinggian Gunung Merbabu yang mencapai 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl), elevasi tinggi menyebabkan penurunan suhu terasa jauh lebih ekstrem.

"Kondisi dingin yang ekstrem pada malam hingga dini hari ini berpotensi tinggi memicu hipotermia bagi para pendaki yang tidak melakukan persiapan dengan matang," jelas dia.

Dikemukakan Dian, petugas BTNGMb telah melakukan pemantauan suhu dan kelembaban di area Pos Sabana 1. Pemantauan menggunakan termometer dan higrometer pada tanggal 9-10 Juli 2026.

Hasilnya, ungkap dia, pada tanggal 9 Juli 2026 pukul 20.00 WIB, suhu udara mencapai 6 derajat celcius. Dengan tingkat kelembaban 54 persen.

"Kemudian pada tanggal 10 Juli 2026 pukul 05.30 WIB suhu udara -1 dejarat celcius dengan tingkat kelembaban 46 persen," ungkap Dian.

Lalu pada pukul 06.00 WIB, suhu udara sudah meningkat lagi menjadi 3 dejarat celcius dan tingkat kelembaban 44 persen.

"Data tersebut menunjukkan bahwa suhu udara di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu pada musim kemarau dapat turun hingga di bawah 10 derajat celcius. Bahkan mencapai -1Β°C pada dini hari. Kondisi ini sejalan dengan penjelasan BMKG mengenai fenomena mbediding yang terjadi selama puncak musim kemarau, bahkan berdasarkan data telah terbentuk embun beku," imbuhnya.

Suasana puncak Gunung Merbabu berselimut embun beku. Foto diunggah Selasa (14/7/2026).Suasana puncak Gunung Merbabu berselimut embun beku. Foto diunggah Selasa (14/7/2026). Foto: Dok BTNGMb

Waspadai Gejala Hipotermia

Paparan suhu udara yang sangat rendah, tiupan angin, serta kondisi pakaian yang basah atau lembap dapat meningkatkan risiko hipotermia, yaitu kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35Β°C.

BTNGMb pun mewanti-wanti pendaki peka mengenali gejala awal hipotermia, baik pada diri sendiri maupun rekan kelompok. Gejala hipotermia antara lain menggigil hebat secara terus-menerus. Bibir, kuku, dan ujung-ujung jari mulai memucat atau membiru.

"Penurunan konsentrasi dan mulai sulit berpikir jernih. Cara berbicara mulai terbata-bata atau pelo dan tubuh terasa lemas tak bertenaga disertai rasa kantuk yang berat," terang dia.

Apabila gejala tersebut mulai muncul, pihaknya mengimbau para pendaki untuk tidak memaksakan melanjutkan perjalanan. Namun segera mencari lokasi yang terlindung dari angin, lalu ganti pakaian yang basah dengan pakaian kering. Kemudian menghangatkan tubuh secara bertahap, konsumsi minuman hangat apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada petugas apabila kondisi tidak membaik.

Kepala BTNGMb, Anggit Haryoso, menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas mutlak yang tidak boleh dikompromikan oleh estetika panorama kemarau. Musim kemarau memang menyuguhkan pemandangan Gunung Merbabu yang sangat indah dengan langit yang bersih.

"Namun, selaras dengan peringatan BMKG mengenai puncak kemarau, fenomena mbediding membawa risiko suhu ekstrem hingga -1 derajat Celsius di lapangan. Kami menghimbau agar para pendaki tidak meremehkan cuaca ini. Persiapkan perlengkapan sesuai standar, jaga kondisi fisik, dan pahami langkah-langkah mitigasi apabila terjadi kondisi darurat. Keberhasilan pendakian bukan hanya ketika mencapai puncak, tetapi ketika seluruh anggota rombongan dapat kembali pulang dengan selamat," tegasnya.



(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads