Atap dua ruangan di SD Negeri Tanggirejo, Tegowanu, Grobogan, ambrol sejak awal tahun. Demi keamanan siswa, beberapa ruang kelas lain terpaksa dikosongkan sehingga para siswa harus berbagi dan bergantian ruang kelas.
Dua ruangan yang atapnya ambrol yakni ruang kelas enam serta ruang guru dan kepala sekolah. Demi menjaga keselamatan siswa, Kepala SDN Tanggirejo, Juwariyah memutuskan mengosongkan ruang kelas lain yang terletak di sebelah ruang kelas enam.
Keputusan tersebut diambil Juwariyah mulai tahun ajaran ini. Adapun ruangan yang dinilai rawan sehingga dikosongkan, yakni ruang kelas empat dan lima yang berada di samping ruang kelas enam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mulai tahun ajaran ini sudah ndak ditempati. Setelah ambrolnya yang kedua itu, terus tahun ajaran baru ini tak suruh ngosongke saja. Saya ndak mau berurusan dengan nyawa," kata Juwariyah saat dihubungi detikJateng, Selasa (14/7/2026).
Dengan demikian, SDN Tanggirejo 'kehilangan' tiga ruang kelas serta satu ruang guru-kepala sekolah. Karena tinggal tiga ruangan kelas tersisa, yakni ruang kelas satu, dua, dan kelas tiga, Juwariyah harus memutar otak agar aktivitas pembelajaran bisa terus berjalan.
"Satu ruangan digunakan bergantian, kelas satu dan dua. Jadi kelas satu dari pagi sampai jam 09.15 WIB, kemudian disambung kelas dua sampai siang," jelas Juwariyah.
Sementara siswa kelas tiga dan empat harus berbagi ruang kelas. Untuk meminimalisir gangguan saat aktivitas belajar mengajar, Juwariyah menyekat bagian tengah kelas serta mengatur tempat duduk siswa antarkelas sehingga saling membelakangi.
"Satu kelas disekat untuk kelas tiga dan empat. Dadi sing sebelah madep ngulon, sing sebelah madep ngetan. Dadi ungkur-ungkuran papan tulis mburi karo ngarep kabeh (jadi yang sebelah menghadap barat, yang sebelah menghadap timur. Jadi saling memunggungi papan tulis). Sekatnya pakai triplek, bisa digeser, bisa diangkat," terang Juwariyah.
Satu ruang kelas yang masih tersisa dikhususkan untuk siswa kelas enam. Juwariyah mengambil keputusan ini karena mempertimbangkan para siswa kelas enam harus fokus untuk menghadapi ujian kelulusan.
"Kelas enam kan menghadapi mau ujian jadi saya ndak boleh untuk campur-campur dengan yang lain. Kelas enam itu kan nanti pada akhirnya ujung tombak untuk menuju ujian," kata Juwariyah.
Karena sudah tidak ada lagi ruang kelas yang tersisa, Juwariyah memutuskan siswa kelas lima untuk sementara belajar di musala. Sedangkan dirinya dan para guru berkantor di perpustakaan.
"kelas limanya tak taruh di musala. Terus ruang guru dan kepaa sekolah tak tempatkan nggone (di) perpustakaan," kata Juwariyah.
Meskipun sejumlah ruangan tidak bisa digunakan, Juwariyah menuturkan pihaknya masih menerima murid baru di tahun ajaran ini. Jumlah siswa yang diterima mencapai puluhan orang.
"Kelas satu sekarang 24 anak. Ini masih MPLS sampai besok, tiga hari," ujar dia.
Juwariyah juga sudah mengajukan permohonan perbaikan kepada pihak terkait. Sembari menunggu, ia juga berupaya memberi pengertian kepada wali murid.
"Sudah (mengajukan perbaikan). Katanya ada dari revit pusat, tapi masih menunggu. Selain itu, kemarin diminta dan hari ini sudah mengumpulkan proposal sama foto-foto juga, insyaallah segera secepatnya (ada perbaikan)," jelas Juwariyah.
"Yang jelas anak-anak sudah terkondisikan. Dengan kondisi sekolahan seperti itu saya sudah matur ke wali muridnya juga, bapak ibu saya mohon maaf sekali untuk sekolahannya belum bisa dibantu untuk saat ini, njenengan boleh bersabar diri nggih karena semua itu butuh proses saya bilang gitu," imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, atap dua ruangan di SD Negeri Tanggirejo, Tegowanu, Grobogan, ambrol sejak awal tahun.
"(Sampai ambrol karena penyangga atap) Dimakan rayap itu, nek dirungokke iki 'krekes krekes krekes' suarane ngoten," ujar Kepala SD Negeri Tanggirejo, Juwariyah, saat dihubungi detikJateng, Selasa (14/7).
Juwariyah mengatakan ruangan pertama yang atapnya ambrol adalah ruang guru dan kepala sekolah. Peristiwa itu terjadi pada Januari lalu.
"Alhamdulillahnya itu (kejadian) malam hari, paling selatan ruang guru itu (ambrol) Januari tahun ini. Sudah tidak bisa digunakan," ujar Juwariyah.
Sementara ruangan kedua yang mengalami nasib serupa yakni ruang kelas enam. Menurut Juwariyah, atap ruang kelas itu ambrol pada April lalu.
"Ruang kelas enam, barusan kok (ambrolnya), sekitar bulan April," ucap Juwariyah.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan, Purnyomo mengatakan pihaknya telah menerima informasi awal terkait kondisi SD Tanggirejo. Rencananya pihaknya akan meninjau ke lokasi besok.
"Korwil kemarin sudah mendatangi sekolah untuk cek keadaan bangunan tersebut, kemudian menyampaikan informasi perihal kondisi sekolah ke dinas melalui Kabid Pembinaan SD," kata Purnyomo melalui pesan WhatsApp pada detikJateng.
"Agar informasi lebih lengkap dan valid, besok Kabid Pembinaan SD akan melakukan cek lapangan secara langsung ke SDN Tanggirejo," tambahnya.
Menurut Purnyomo, pihaknya telah mengajukan perbaikan kerusakan bangunan di SDN Tanggirejo lewat APBN. Namun sebelum terealisasi, atap dua ruangan justru sudah ambruk terlebih dahulu.
"Sebelum peristiwa ini terjadi, sebenarnya sudah kami usulkan penanganan kerusakan bangunan ke Pemerintah Pusat melalui program revitalisasi sekolah dengan sumber dana APBN. Sayangnya, sebelum usulan tersebut membuahkan hasil, sudah didahului dengan terjadinya peristiwa ini," ujar Purnyomo.
Sembari menunggu realisasi revitalisasi dari pusat, Purnyomo menyebut pihaknya bakal mengusulkan penanganan kerusakan tersebut dalam APBD perubahan.
"Langkah yang bisa kami tempuh sementara adalah mengusulkan ke TAPD agar mendapat prioritas penanganan di perubahan APBD nanti. Sekaligus tentu saja menunggu terealisasinya pengusulan di program revitalisasi sekolah," jelas Purnyomo.
