Tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai hari ini. Salah satu SD negeri di Kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas cuma dapat tiga murid baru.
Padahal, kuota satu rombongan belajar (rombel) di SDN 8 Kranji tersebut mencapai 28 siswa. Artinya, masih terdapat kekosongan sebanyak 25 kursi.
Pantauan detikJateng di lokasi, Senin (13/7/2026) pukul 08.00 WIB, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari pertama berjalan lancar. Dari luar lingkungan sekolah terdengar sejumlah siswa bernyanyi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Wahyu Adhi Febrinto, mengatakan kondisi tersebut terjadi setelah pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini. Karena masih banyak sekolah yang belum memenuhi kuota, Pemkab Banyumas memberikan izin membuka pendaftaran secara offline.
"Kemarin sesuai Permendikdasmen, apabila sekolah kuotanya belum terpenuhi bisa mengajukan izin kepada Bupati. Kemarin Bapak Bupati sudah mengizinkan sekolah membuka pendaftaran offline agar siswa yang mendaftar tetap bisa masuk di hari pertama sekolah ini," kata Wahyu saat ditemui di kompleks Pendopo Bupati Banyumas kepada wartawan.
Menurutnya, sejak awal terdapat delapan SMP dan 61 SD yang kekurangan kuota peserta didik baru. Data final masih menunggu laporan dari masing-masing sekolah.
"Memang ada beberapa sekolah yang kemarin hanya mendapat tiga, bahkan kurang dari lima siswa. Nanti sekitar pukul 10.00 WIB baru diketahui jumlah riilnya," ujarnya.
Meski jumlah murid sedikit, Wahyu memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan normal.
"Pembelajaran tetap dilaksanakan seperti biasa. Tidak ada permasalahan jumlah berapa pun siswanya. Yang penting maksimal satu rombongan belajar SD adalah 28 siswa dan SMP 32 siswa," jelasnya.
Ia menyebut SDN 8 Kranji menjadi sekolah dengan jumlah peserta didik baru paling sedikit di Banyumas.
"Paling sedikit di Kabupaten Banyumas itu ya SDN 8 Kranji, cuma dapat 3 siswa. Murid barunya contohnya 7, tapi rinciannya 3 di SD kelas 1 dan 4 di kelas 2 pindahan, masuk ke kelas 2," ungkapnya.
Wahyu mengatakan kursi kosong tersebut masih bisa diisi melalui perpindahan siswa dari sekolah lain.
"Nanti apabila ada yang mau pindah, setelah semester satu atau semester dua masih bisa masuk ke SD yang masih memiliki kuota kursi tersebut," katanya.
Awalnya Cuma Dapat 1 Murid Baru
Ditemui di lokasi yang sama, Kepala SDN 8 Kranji, Nur Laila, mengungkapkan saat pendaftaran SPMB secara online sekolahnya sempat hanya mendapatkan satu calon siswa baru. Jika dibandingkan dengan pendaftaran offline tahun lalu, SDN 8 Kranji menerima 22 siswa baru.
Setelah Pemkab Banyumas mengizinkan pembukaan pendaftaran secara offline, jumlah tersebut bertambah menjadi tiga siswa kelas 1. Selain itu terdapat empat siswa pindahan yang masuk ke kelas 2, sehingga total siswa baru yang diterima sekolah berjumlah tujuh orang.
"Dari awal SPMB online dibuka kami memang hanya mendapatkan satu siswa. Kemudian setelah ada arahan Bupati Banyumas dibuka pendaftaran offline, alhamdulillah ada peningkatan. Jadi kami totalnya tujuh, begitu dengan yang pindahan untuk SD Negeri 8 Kranji seperti itu," kata Laila.
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan minimnya jumlah pendaftar di sekolahnya. Salah satunya karena tahun ini pertama kalinya menerapkan SPMB online di jenjang SD.
"Ini kebijakan baru sehingga perlu adaptasi. Mungkin juga sosialisasi belum maksimal sehingga informasi tentang SPMB online belum sepenuhnya dipahami masyarakat," ujarnya.
Selain itu, faktor letak sekolah juga dinilai berpengaruh terhadap jumlah pendaftar.
"Khusus SD Negeri 8 Kranji, secara geografis letaknya tidak berada di jalur utama, sekolah kami masuk ke dalam. Di samping itu juga bersebelahan dengan sekolah-sekolah yang lebih besar, sehingga sedikit banyak memengaruhi jumlah siswa yang diterima," jelasnya.
Laila juga menilai jumlah anak usia sekolah dasar tahun ini memang menurun karena merupakan generasi yang lahir pada masa pandemi COVID-19.
"Calon siswa baru memang tidak terlalu banyak. Kalau ditarik ke belakang, mereka adalah generasi COVID, sehingga jumlah anaknya juga lebih sedikit," katanya.
Ia berharap jumlah peserta didik bisa kembali meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
"Tahun ajaran sebelumnya kami masih mendapatkan 22 siswa karena saat itu sistemnya masih offline. Saya kira untuk sekolah kecil seperti kami, sistem offline lebih cocok karena kami lebih dekat dengan masyarakat," pungkasnya.
