Di balik permukiman Dukuh Tajen, Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, berdiri bangunan tua dengan cerobong asap menjulang tinggi. Warga setempat mengenalnya sebagai Kostin, bangunan yang diyakini merupakan bekas pabrik piring peninggalan kolonial Belanda.
Meski sudah puluhan tahun terbengkalai, sejarah pasti bangunan tersebut hingga kini belum terungkap. Cerita yang berkembang dari generasi ke generasi menyebut, lokasi itu dulunya menjadi tempat produksi piring berbahan tanah liat yang kemudian dikirim ke berbagai daerah menggunakan jalur kereta api.
Kepala Desa Pamotan, Aang Masykur Rukhani, mengatakan keberadaan bangunan tersebut menjadi salah satu bukti aktivitas industri yang pernah berkembang di Pamotan pada masa kolonial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau melihat fisiknya, jelas ini bukan bangunan biasa. Dari cerita orang-orang dulu, tempat ini disebut sebagai pabrik piring," kata Aang saat ditemui detikJateng, Minggu (12/7/2026).
Ada Pabrik Gula dan Batu Bata Api
Menurutnya, pada masa itu Pamotan dikenal sebagai kawasan industri. Selain pabrik piring, terdapat pabrik gula dan pabrik bata api yang juga dibangun pada era Belanda.
"Di Pamotan dulu ada pabrik gula, tepatnya di daerah Babrik, depan SD 1 Pamotan sekarang. Selain itu ada juga pabrik bata api. Bahkan warga masih menemukan bata peninggalan Belanda di sekitar kawasan pabrik," jelasnya.
Aang menuturkan, bangunan yang kini masih berdiri bukan satu-satunya. Berdasarkan cerita warga terdahulu, dulunya terdapat tujuh bangunan atau tungku "Kostin".
Penampakan Menara Kostin di Desa Pamotan, Rembang, Minggu (12/7/2026). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng |
Namun seiring berjalannya waktu, sebagian besar bangunan hilang. Kini hanya tiga cerobong yang masih berdiri, sementara empat lainnya tinggal reruntuhan.
"Sebetulnya Kostin itu dulu ada tujuh. Informasinya ada yang kena meriam atau dibom. Sekarang yang masih berdiri tinggal tiga, sedangkan empat lainnya hanya menyisakan bekas pondasi dan reruntuhan," ungkapnya.
Cerobong yang masih berdiri memiliki tinggi sekitar 20 meter dengan diameter kurang lebih satu meter. Di bagian bawah terdapat bangunan berbentuk persegi yang diduga menjadi ruang pembakaran untuk proses produksi.
Dilalui Jalur Kereta Api
Keberadaan bekas Stasiun Pamotan yang berjarak kurang dari satu kilometer dari lokasi juga memperkuat dugaan bahwa jalur kereta api menjadi sarana distribusi hasil produksi.
"Pamotan dulu dilalui jalur kereta api. Pengiriman piring, bata api hingga kayu bakar semuanya menggunakan kereta api," ujarnya.
Kini bangunan tersebut tampak mulai rapuh. Sebagian dinding mengalami keretakan dan ditumbuhi semak liar. Meski demikian, cerobong-cerobong tua itu masih berdiri menjadi penanda kejayaan industri di Pamotan pada masa lalu.
Aang berharap peninggalan tersebut mendapat perhatian untuk diteliti dan dilestarikan. Menurutnya, selain menyimpan nilai sejarah, 'Kostin' juga berpotensi menjadi destinasi edukasi sekaligus wisata sejarah di Kabupaten Rembang.
"Kalau dirawat dan diteliti, sejarahnya bisa terungkap. Ini bisa menjadi sarana pembelajaran sekaligus memiliki nilai wisata bagi masyarakat," pungkasnya.

