Jembatan Dengkeng di atas Sungai Dengkeng, kota Kecamatan Cawas, Klaten, hari ini resmi ditutup. Empat alat berat berupa drill dan ekskavator dikerahkan untuk membongkar jembatan di jalur Klaten-Gunungkidul-Sukoharjo tersebut.
Pantauan detikJateng di lokasi, dua alat berat berada di sisi utara dan dua lainnya di sisi selatan jembatan. Sekitar pukul 10.58 WIB, dua alat berat drill menjebol badan jembatan.
Proyek pemugaran jembatan yang dibiayai Pemprov Jateng dengan anggaran Rp 20,6 miliar, sebagaimana tertera di papan proyek, itu menjadi tontonan warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan jalan dilakukan di arah utara maupun selatan jembatan. Arus lalu lintas dari utara atau Kecamatan Pedan diarahkan ke kanan untuk bus dan truk lewat Ngaran, Kecamatan Ceper.
Sepeda motor dan mobil diarahkan ke barat lewat Jembatan Talang, lewat Desa Pundungsari, Kecamatan Trucuk, dan Plosowangi, Kecamatan Cawas. Ada juga yang memilih ke timur lewat Jembatan Baran, Kecamatan Cawas, demikian juga dari arah selatan.
Beberapa rumah warga Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, yang terkena proyek juga mulai dibongkar. Arus lalu lintas lancar dan tidak ada kemacetan.
"Mulai hari ini sudah mulai dibongkar. Kalau terdampak iya terdampak, namun hanya sementara," kata Camat Cawas, Joko Purwanto kepada detikJateng, Jumat (10/7/2026) siang.
Menurut Joko, mobilitas warga tidak terkendala karena ada beberapa jalur alternatif. Untuk kendaraan roda dua bisa melewati jalan lingkar Cawas lurus melewati jembatan Jobondo, Desa Baran.
"Roda 2 bisa melewati jalan lingkar Cawas lurus melewati jembatan Jobondo, Desa Baran lalu ke kiri nanti tembus jalan provinsi. Untuk mobil bisa melewati Baran - Tirtomarto - Japanan - Pakisan," ujar Joko.
"Kalau dari arah barat atau Klaten bisa lewat Talang, Kecamatan Bayat-Planggu, Kecamatan Trucuk. Untuk bus dan truk besar bisa lewat Temuwangi-Soka Karangdowo-Posis," imbuhnya.
Margono, warga sekitar jembatan, mengatakan proses pemugaran jembatan sudah dimulai. Warga berharap ada jembatan darurat agar kendaraan roda dua bisa melintas tanpa harus memutar jauh.
"Sebenarnya kami berharap pembangunan jembatan Dengkeng ini bisa memikirkan dampak. Minimal dibuatkan jembatan darurat agar aktivitas kendaraan roda dua bisa melintas," kata dia.
Dijelaskan Margono, jika jembatan Dengkeng ditutup maka warga yang akan melintas harus memutar cukup jauh. Baik lewat Jembatan Talang di Kecamatan Bayat atau alternatif lain.
"Warga harus memutar lewat Jembatan Modran (Kecamatan Trucuk), Jembatan Talang (Kecamatan Bayat), lewat Jembatan Balak dan Baran di Kecamatan Cawas. Itupun akan crowded atau mungkin macet, " ujar Margono.
Yang terdekat, kata Margono, adalah jembatan Modran dan Baran (sekitar satu kilometer) tetapi aksesnya terbatas untuk kendaraan kecil.
"Jembatan Dengkeng itu jalur padat dari berbagai daerah, mestinya ada jembatan darurat. Agar akses menuju pusat ekonomi Pasar Cawas, sekolah dan SPBU tetap dekat," ucap Margono.
"Tidak ada pembuatan jembatan darurat. Kalau memang ada mestinya sudah kemarin - kemarin dibuat," sambungnya.
detikJateng mencoba mewawancarai pekerja di lokasi, namun mereka tidak bersedia memberikan penjelasan. Alasannya mereka hanya sebagai pelaksana proyek.
Jembatan Melengkung-Tiang Retak
Sebelumnya diberitakan, jembatan Cawas di jalan raya Cawas-Gunungkidul-Sukoharjo di Kecamatan Cawas, Klaten, ternyata melengkung. Tiang jembatan di sungai terbesar di Klaten itu juga retak dan mulai ambles.
Tiang penyangga jembatan di paling selatan terlihat retak. Turunnya badan jembatan juga terlihat saat melintas di jalan raya miliki provinsi Jawa Tengah tersebut.
Dari papan prasasti di bagian utara jembatan, tertulis jembatan tersebut diresmikan tahun 1970. Terpantau banyak kendaraan melintas seperti mobil, truk, bahkan bus besar.
"Melengkung pun dangu, nggih pun luweh setahun (melengkung sudah lama, ya setahun lebih). Ke selatan arah Gunungkidul," kata warga setempat, Paijo (50) kepada detikJateng saat ditemui di lokasi, Kamis (9/1/2025).
Dijelaskan Paijo, jembatan tersebut sudah sangat lama dibangun. Jembatan tersebut setiap hari ramai kendaraan karena termasuk jalan milik provinsi.
"Jalan provinsi sebabnya. Ya kalau hujan deras sekarang air hampir meluap ke jalan karena rata dengan talut jembatan," kata Paijo.
