Seorang pemuda inisial DF (20), warga Desa Kebonsari, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, ditemukan tewas bersimbah darah dengan leher tersayat, Minggu (5/7). Polisi menyatakan sudah memeriksa sejumlah saksi, dan menunggu hasil laboratorium forensik.
Kapolres Pekalongan, AKBP Rachmad C Yusuf, dalam konferensi pers di Polres Pekalongan menjelaskan pihaknya menggandeng forensik supaya investigasi bisa digelar secara scientific.
"Jadi, langkah-langkah yang sudah kita laksanakan perkembangannya sementara adalah kita sudah melakukan komunikasi dengan forensik untuk mendalami barang bukti yang kita temukan. Kemudian juga terkait dengan barang bukti tersebut berupa sebilah pisau yang perlu kita lakukan pendalaman untuk darah ataupun juga DNA dari yang ada di barang bukti tersebut," ungkapnya, Kamis (9/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan dalam hal pembuktian bahwa ini murni pembunuhan atau tidak, nanti akan kita sampaikan di rilis berikutnya, karena kami masih melakukan, menggelar rangkaian penyelidikan ini untuk memastikan apakah ini murni kasus pembunuhan atau tidak," tambahnya.
Rachmad mengungkapkan, saat olah TKP kedua yang dia pimpin, ia menyampaikan adanya dugaan pembunuhan dalam kasus kematian DF.
"Memang kemarin pada saat awal kita menyampaikan dugaannya masih pembunuhan, tapi tetap kita berdasarkan scientific investigation. Nanti akan menyampaikan kepada rekan-rekan bahwa kasus ini masih ditangani dan juga masih dalam proses untuk memastikan apakah ini tidak pidana pembunuhan atau bukan," kata Rachmad.
"Namun kita menggunakan scientific investigation ini supaya ini lebih valid dan juga tentunya kita bisa memastikan apakah ini memang benar-benar murni pembunuhan atau bukan pembunuhan. Karena memang berdasarkan hasil pemeriksaan, kemudian juga kami juga masih menunggu hasil dari laboratorium forensik. Dan ini nanti juga akan kami sampaikan perkembangannya bilamana nanti sudah jelas dan ada titik terangnya," tambahnya.
Saat ditanya terkait alasan apa yang mendasari dugaan awal kasus itu mengarah ke pembunuhan, Rachmad menjawab soal temuan dan kondisi korban.
"Ya kalau biasanya kan kalau orang kasus-kasus bunuh diri kan tidak sampai menggorok leher. Karena ini ukuran sayatannya cukup besar, makanya dugaan awal itu seperti pembunuhan. Tapi tetap kita harus berdasarkan scientific investigation tadi, karena secara ilmiah kita harus buktikan ini memang kasusnya murni pembunuhan atau bukan. Makanya kita masih menunggu hasil dari forensik, nantinya akan kita sampaikan ke rekan-rekan," ucapnya.
Periksa 7 Saksi
Sementara itu di lokasi yang sama, Kasat Reskrim Polres Pekalongan, AKP Fauzi Surya Chandra menambahkan pihaknya tengah melakukan pembuktian secara ilmiah terkait kematian korban.
"Pada proses penyelidikan, kita menggunakan atau berbasis pada scientific crime investigation, artinya adalah kita menggunakan pembuktian-pembuktian secara ilmiah. Manifestasi dari scientific crime investigation ini nanti, kita sudah melaksanakan pemeriksaan terhadap barang bukti oleh laboratorium forensik," jelas Fauzi.
Menurutnya, barang bukti yang telah dikirim ke laboratorium forensik yakni, satu buah pisau 30 cm, 5 buah HP, satu bungkus rokok , satu minuman jeruk nipis, satu buah terminal listrik, charger HP warna putih, beka cup minuman teh dan kain sebagai penutup jenazah pada saat itu, serta satu buah kaos warna hitam.
"Itu merupakan barang bukti yang sedang kita melakukan pemeriksaan di laboratorium forensik. Yang kedua, kita juga sudah melakukan autopsi," jelasnya.
Ia menjabarkan berdasarkan autopsi, dapat diketahui bahwa terdapat luka gorokan di leher korban.
"Dari pemeriksaan didapatkan luka akibat kekerasan tajam berupa luka iris pada leher yang memutus kerongkongan, tenggorokan, dan pembuluh darah besar di leher kiri," kata Fauzi.
"Setelah itu, ujung pisau di sebelah kiri kemungkinan pegangan di tangan kanan. Ini dari pemeriksaan laboratorium forensik. Selanjutnya sudut leher kiri dibandingkan kanan, lebam mayat minimal. Lebam mayat minimal menunjukkan bahwa darah itu sudah keluar banyak ketika proses kematian. Selanjutnya gesekan pisau rata dengan sayatan kurang lebih tiga kali. Jadi di ujung ini ada tiga kali goresan. Selanjutnya pembuluh darah besar leher kiri teriris, arteri dan venanya," tambahnya.
Fauzi menambahkan, saat ini Polres Pekalongan sudah memeriksa 7 saksi, termasuk sosok yang bertamu sebelum korban ditemukan tewas.
"7 orang (saksi) ini, 3 orang merupakan keluarga, keluarga yang tinggal satu rumah, 2 orang ini merupakan teman yang sehari sebelumnya sempat bersama dengan korban. 2 orang merupakan paman, yang tidak tinggal satu rumah," ungkapnya.
Dikatakan Fauzi, keterangan dua tamu tersebut dibenarkan dua teman korban yang bertamu sejak sore hingga tengah malam.
"Jadi dari keterangan saksi, dan ini dikuatkan dari keterangan saksi yang lainnya, bahwa betul ada tiga orang yang berkumpul dari jam 5 sore sama korban. Namun dua orang ini pulang jam 12 malam. Hal ini dikuatkan dengan salah satu saksi lain menjelaskan bahwa saat melewati rumah, setengah 5 pagi, sudah tidak ada orang kumpul-kumpul di depan rumah korban," ungkapnya.
Sedangkan kematian korban dari hasil pemeriksaan sementara, korban tewas sekitar pukul 5 pagi.
"Itu berdasarkan pemeriksaan forensik dan pemeriksaan autopsi. jadi autopsi dilaksanakan jam 5 sore hari Minggu tanggal 5. Itu (kematian) 12 jam, kemungkinan 12 jam sebelum pemeriksaan forensik. Terlihat dari apa kaku mayat, setelah itu terlihat juga dari lebam mayat, diperkirakan 12 jam sebelum jam 5. Hal ini juga dikuatkan dari pemeriksaan saksi yang ada di tetangga, yang mendengar suara (gaduh) sekitar jam 5 atau jam 6 pagi," jelasnya.
Sementara itu untuk barang bukti pisau, Fauzi menjelaskan pisau yang digunakan tidak sengaja dibawa dari luar. Banyak ditemukan pisau serupa di lokasi.
"Pisau yang jelas ada di TKP, ada pisau pembanding juga di sana. Karena latar belakangnya ini adalah usaha konveksi, konveksi. Jadi pisau itu ada di TKP dan ada pisau lainnya juga yang serupa di TKP, dulu digunakan untuk memotong kain, ada pisau serupa juga," jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang pria muda ditemukan bersimbah darah di bagian belakang rumahnya tepatnya di kamar mandi. Jasad tersebut kali pertama ditemukan kakak korban saat akan mengambil air wudhu pada Minggu (5/7) waktu subuh.
