Bengawan Solo Surut, Jembatan Sesek Beton Muncul Lagi

Tara Wahyu NV - detikJateng
Senin, 06 Jul 2026 16:42 WIB
Jembatan sesek Gadingan-Beton kembali dibuat warga, Senin (6/7/2026). (Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng)
Solo -

Jembatan sesek bambu yang menghubungkan Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, ke Kampung Sewu, Jebres, Solo kembali dibuat warga seiring surutnya debit air Bengawan Solo. Jembatan yang terbuat dari bambu itu baru dibuat sekira 2 minggu.

Dari pantauan detikJateng, sejumlah kendaraan melintas baik dari arah Sukoharjo menuju Solo maupun sebaliknya. Beberapa warga tak takut melintas di jembatan bambu tersebut.

Salah satu penjaga jembatan sesek, Arif Sulistyo mengatakan jembatan tersebut kembali dibangun karena ada permintaan dari masyarakat sekitar. Selain itu, saat ini juga telah memasuki musim kemarau.

"Sudah dua minggu, ya ada permintaan dari warga juga. Setiap musim kemarau ya begini, tapi kalau nanti sungainya besar pakai perahu. Ini perbaikan perahu dulu. Sudah lama, dari dulu kalau airnya kecil pakai sesek," katanya ditemui di jembatan Sesek, Mojolaban, Sukoharjo, Senin (6/7/2026).

Arif menjelaskan jembatan sesek tersebut dibangun menggunakan 30 tong untuk menopang bambu-bambu sepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Ia memperkirakan, panjang bambu sekira 100 meter.

"Bahannya drum nggih, tong nggih. Itu ada 30 tong panjangnya dari sini sana ya sekitar 100 meter kelihatannya, bambu ada sekitar 50," ucapnya.

Ia menyebut, jembatan tersebut beroperasi dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Pihaknya juga menyediakan penerangan di malam hari.

"Beroperasi dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam. Untuk penerangan nanti ada, ini sedang dipersiapkan. Tapi ini kan sudah 2 minggu," terangnya.

Menurutnya, dengan adanya jembatan sesek aktivitas masyarakat dari Mojolaban menuju Solo jauh lebih cepat. Apalagi, kata dia, banyak yang melintas pada saat berangkat dan pulang kerja.

"Ini kalau ke sini kerja kan dekat. Sama mau ke pasar, niku sama Pasar Gede niku nggih enak ngoten leh mboten muter (lebih enak kalau tidak memutar) nggih. Kalau muter sini sana kan 20 menit, setengah jam lah, kalau lewat sini kan paling 10 menit," bebernya.

Ia menyebut untuk setiap pengendara yang melintas ditarik tarif sekira Rp 1.000 hingga Rp 3.000. Menurutnya, tarif tersebut berbeda-beda.

"Motor Rp 2.000 kalau sepeda Rp 1.000, untuk lalu lintas kita pantau, misal dari sana (arah Solo) ada yang mau melintas dan sini (Sukoharjo) ada yang melintas pasti nanti komunikasi dulu, kalau ada yang takut nyeberang nanti diseberangin," pungkasnya.

Salah satu warga Kampung Sewu, Galang mengaku memilih lewat jembatan sesek karena lebih cepat. Menurutnya, bila lewat jembatan sesek hanya membutuhkan waktu 5 menit.

"Kalau lewat Mojo ya butuh waktu 15 menit. Ini tadi habis main, mau pulang. Nggak takut sih udah biasa," tutupnya.



Simak Video "Video: Lagi, Babak Baru Seteru Gelar Kerajaan Keraton Solo!"

(aku/dil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork