Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mengajak kaum milenial dan mahasiswa untuk melirik sektor pertanian sebagai ladang bisnis yang menjanjikan. Ia menilai orientasi anak muda saat ini masih terlalu terpaku pada sektor finansial dan teknologi informasi (IT), yang menurutnya sudah mulai ketinggalan zaman.
"Pola pikir milenial yang selama ini mengira (peluang) hanya ada di kota, hanya ada di sektor finansial, fintech, IT, itu sudah ketinggalan dibanding negara-negara lainnya. Yang kita bisa mengejar ketinggalan justru di sektor ekonomi pertanian," kata Cak Imin di hadapan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dalam Seminar Nasional Desa Berdaya, Peran Milenial dalam Mendukung Kemandirian Pangan Lokal Berkelanjutan, Kamis (2/7/2026).
Cak Imin optimistis jika mahasiswa mau berinovasi dan serius menggarap sektor pangan, mereka memiliki peluang besar untuk sukses secara finansial. Ia bahkan menjanjikan masa depan yang cerah bagi mereka yang terjun ke dunia tani modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Insya Allah, keluar dari sini jadi orang kaya semua kira-kira. Mari kita buktikan bisnis di sektor ekonomi pertanian dan pangan ini sangat menjanjikan," tegas Ketua Umum PKB tersebut.
Dalam orasinya, Cak Imin juga sempat berkelakar mengenai kepanjangan baru untuk UNS. Ia ingin mengubah citra 'orang desa' menjadi sosok yang membanggakan karena kemampuannya secara ekonomi.
"UNS ini singkatannya nanti kita ubah, bukan sekadar Universitas Sebelas Maret, tapi Universitas Ndeso tur Sugih (Universitas Desa tapi Kaya). Jadi, saya, kita semua harus bangga jadi wong ndeso tapi sugih," selorohnya.
Lebih lanjut, Cak Imin menyentil ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum (terigu) yang dianggapnya kurang sehat bagi masyarakat. Ia mencontohkan jajanan di car free day yang didominasi oleh olahan terigu.
"Kalau di car free day dari ujung ke ujung itu terigu semua yang dijual. Pulang dari situ, disurvei, gula semua rakyat kita. Itu wujud dari politik pangan yang salah," tuturnya.
Ia pun menantang para inovator muda dari perguruan tinggi untuk menciptakan solusi pangan lokal yang lebih sehat dan mandiri.
"Kita tidak akan bergantung lagi pada pangan-pangan impor, tapi pangan-pangan sehat yang bisa menumbuhkan ekonomi dan kesehatan bangsa kita," pungkasnya.
(aku/ahr)
