1.646 Kuota SPMB SD di Semarang Belum Terpenuhi

1.646 Kuota SPMB SD di Semarang Belum Terpenuhi

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Senin, 29 Jun 2026 17:51 WIB
Ilustrasi SPMB 2026
Ilustrasi kuota SPMB SD di Semarang belum terpenuhi. (Foto: Pavel Danilyuk/Pexels)
Semarang -

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang menyebut sebanyak 1.646 kuota Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) lanjutan tingkat SD belum terpenuhi. Ribuan kuota tersebut tersebar di 163 sekolah.

Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, menyebut mulanya ada 2.095 kursi SD yang belum terpenuhi selama proses SPMB. Seiring waktu, jumlah tersebut berkurang 449 kuota pada SPMB lanjutan.

"Jadi kemarin dari sisa daya tampung itu yang belum berisi ada 2.095. Terus kemudian yang sudah di gelombang lanjutan itu yang sudah mendaftar ada 449," kata Aji saat dihubungi detikJateng, Senin (29/6).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi masih ada sisa kuotanya 1.646. Lokasinya banyak banget ada 163 sekolah," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Aji menyebut tidak terpenuhinya kuota tersebut tersebar di hampir seluruh kecamatan. Hanya Kecamatan Genuk dan Pedurungan yang memenuhi kuota rombongan belajar (rombel) jenjang SD.

"Yang tidak ada yang kosong itu hanya Genuk sama Pedurungan. Yang lain ada," sebutnya.

Buntut tidak terpenuhinya kuota siswa, Aji menjelaskan, bantuan operasional bisa berkurang bagi sekolah. Meski begitu, kurangnya kuota siswa tersebut tidak begitu berdampak terhadap proses belajar mengajar (KBM).

"Tidak ada efek secara signifikan, ya. Hanya mungkin kelasnya, misalnya, kalau standarnya maksimal itu 28 orang, ini tidak terpenuhi 28 orang, dan mestinya, nanti dana bantuan operasional sekolahnya juga menyesuaikan dengan jumlah murid yang diterima," jelasnya.

Ribuan tidak terpenuhinya kuota tersebut, Aji mengatakan, kemungkina terjadi lantaran banyak faktor. Salah satunya adalah minimnya usia anak yang hendak masuk SD.

"Karena memang di lokasi tersebut sudah tidak banyak anak yang usia sekolah, dan biasanya malah ini terjadi di di daerah sekitar tengah kota," tuturnya.

"Karena tengah kota kan harga tanah mahal. Orang yang keluarga baru biasanya milih di daerah pinggiran untuk beli rumah. Sementara, yang masih tinggal itu biasanya yang keluarga yang dapat warisan atau mungkin kalau dia mampu beli tanah di tengah kota, biasanya dia memilih sekolah swasta," imbuhnya.

Aji menyebut jumlah kekurangan siswa yang paling banyak dialami SDN Krapyak. Dari tiga rombel atau 84 kursi, ada 26 kuota yang belum terpenuhi.

"Kalau yang paling banyak kurangnya itu SDN Krapyak, tapi bukan sedikit juga karena dia buka tiga rombel. Tiga rombel itu berarti 84, tapi kurangnya masih 26," bebernya.

Soal kemungkinan adanya merger, Aji mengaku belum menjadi opsi.

"Kalau untuk tahun ajaran ini tidak ada. Kami masih memperhitungkan lagi karena kami juga akan memperhatikan persebaran sekolahnya," jawabnya.




(ams/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads