Warga Tambakrejo Semarang Kena Rob Tiap Hari, Jalan Berlumut-Bikin Orang Jatuh

Warga Tambakrejo Semarang Kena Rob Tiap Hari, Jalan Berlumut-Bikin Orang Jatuh

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Minggu, 28 Jun 2026 13:17 WIB
Suasana banjir rob yang menggenang di Jalan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (28/6/2026).
Suasana banjir rob yang menggenang di Jalan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (28/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Warga Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, mengeluhkan banjir rob yang kini terjadi hampir setiap hari. Selain mengganggu aktivitas, genangan air membuat jalan kampung dipenuhi lumut hingga licin dan menyebabkan banyak warga terjatuh.

Pantauan detikJateng di Jalan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, banjir rob menggenang di sepanjang jalan RT 1-4 RW 16.

Jalanan terasa licin karena banyaknya lumut sehingga warga yang melintas harus berhati-hati. Beberapa warga tampak membersihkan lumut dengan menggosok jalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Air rob sudah mulai surut siang ini, meski di beberapa titik masih tampak rob cukup tinggi. Warga setempat juga sudah melakukan kerja bakti untuk menangani rob pagi tadi.

ADVERTISEMENT

Salah satu warga RW 16 Tambakrejo, Nurlaelatul Fadyiroh (40), mengatakan rob datang tanpa mengenal waktu. Genangan bisa muncul pagi, siang, sore hingga malam sehingga jalan kampung hampir tidak pernah benar-benar kering.

"Kondisinya sangat memprihatinkan karena rob datangnya bergilir. Bisa pagi, sore, atau malam. Jalannya enggak pernah kering, selalu tergenang dan banyak lumut," kata Nurlaela kepada detikJateng, Minggu (28/6/2026) siang.

Menurutnya, jalan yang licin membuat anak-anak, lansia hingga pengendara motor sering terjatuh. Bahkan, dalam sehari pernah ada sekitar 10 orang yang terjatuh di akses jalan utama kampung.

"Realitanya kami merasa tidak nyaman. Mau kegiatan apa pun selalu dihadapkan dengan air rob. Kemarin dalam satu hari ada sekitar 10 orang yang terjatuh karena jalan licin," ujarnya.

Nurlaela mengaku, warga sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah. Bahkan, lokasi tersebut pernah disurvei camat dan wali kota. Namun, hingga kini belum ada realisasi pembangunan jalan.

"Sudah lama sekali disurvei. Katanya mau ditinggikan, mau dibangun, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut," jelasnya.

Suasana banjir rob yang menggenang di Jalan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (28/6/2026).Suasana banjir rob yang menggenang di Jalan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (28/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Ia menyebut, tinggi genangan rob saat ini rata-rata mencapai sebetis orang dewasa sehingga menyulitkan aktivitas, termasuk anak-anak yang hendak berangkat sekolah.

"Orang mau ke masjid kena rob, anak-anak mau sekolah kena rob, warga mau dagang juga kena rob. Susah pokoknya banyak yang jatuh," ucapnya.

Selama sekitar 40 tahun tinggal di Tambakrejo, Nurlaela mengaku telah meninggikan rumahnya sebanyak tiga kali agar tetap bisa dihuni. Untuk sekali meninggikan rumah, menurutnya, biaya yang dibutuhkan bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta.

"Kalau tidak dibangun ya kami nggak bisa tidur. Sekali meninggikan rumah mungkin Rp 100 juta juga kurang, karena harus naik 1-2 meter. Kalau cuma berapa sentimeter ya mungkin nggak sampai segitu," katanya.

"Jadi kerja banting tulang, uangnya ditabung untuk meninggikan rumah, terus langsung habis sekali meninggikan itu," lanjutnya.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Aminah (49). Menurutnya, rob kini terjadi setiap hari dan tidak menentu. Hal ini terjadi sudah sejak awal tahun ini.

"Rob itu tiap hari nggak berhenti-berhenti. (Biasanya terjadi kapan?) Nggak tentu, robnya datang sak senenge dewe. Surut sebentar, nanti datang lagi," kata Aminah.

Meski ketinggian air hanya sekitar mata kaki, ia menilai persoalan utamanya adalah jalan yang selalu basah sehingga ditumbuhi lumut. Bahkan ia sendiri pernah terjatuh karena jalanan yang licin terendam air rob.

"Anak kecil jatuh, orang tua jatuh, saya sendiri juga jatuh. Motor kalau bannya sudah tipis juga bisa jatuh," ujarnya.

Warga pun rutin bergotong royong membersihkan lumut di jalan. Namun, upaya tersebut hanya bertahan sementara karena air rob terus merembes.

"Motor-motor teyengan (karatan), orang-orang dan anak-anak pada jatuh. Mau sekolah susah, kalau nggak punya motor anaknya harus digendong," tuturnya.

"Seharusnya pemerintah mikir, wong sekarang juga ada dananya. Maunya kita jalan itu kering. Bisa disistem kok biar kering. Jalan juga ditinggikan," lanjutnya.

Sementara itu, warga lain, Jumarlia (44), berujar kondisi rob tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika dahulu rob hanya muncul pada periode tertentu, kini genangan terjadi setiap hari sejak awal tahun.

"Dulu ada masanya rob. Kalau sekarang setiap hari, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi rob terus. Jadi jalan nggak ada asatnya (keringnya)," kata dia.

"Jadi semua orang bisa jatuh karena memang jalannya setiap hari tergenang. Tidak ada solusi dari dulu sampai sekarang hanya omon-omon mau ditinggikan," tambahnya.

Warga lainnya, Masruroh (46), menambahkan rembesan air membuat jalan tak pernah benar-benar kering sehingga lumut terus bermunculan. Akibatnya, banyak warga terpeleset, termasuk anak-anak, pedagang hingga lansia.

"Kami memohon supaya jalannya segera ditinggikan. Yang dibutuhkan warga itu akses jalan supaya aman buat kerja, sekolah, ke musala," ujarnya.

"Kalau kemarin nggak ada orang mau ke musala itu jatuh, kayaknya nggak kita kosek (gosok) jalannya. Sekarang kita ngosek jalan seminggu dua kali tangan saya juga masih kemeng (pegal)," lanjutnya.

Masruroh mengungkapkan pemerintah telah beberapa kali meninjau lokasi dan pernah menjanjikan peninggian jalan. Namun, hingga kini belum seluruh ruas jalan diperbaiki.

"Kalau memang dibangun ya dibangun semua. Jangan hanya sebagian, karena yang licin hampir sepanjang jalan. Kemarin itu kami dengar yang mau dibangun jalannya cuma 300 meter, kenapa cuma 300 meter?" tanyanya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menikmati Kuliner Lezat Setelah Berbelanja Oleh-Oleh di Semarang"
[Gambas:Video 20detik] (apu/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads