Hati-hati! Jalur Alternatif Papringan Rawan Laka Imbas Jembatan Serayu Ditutup

Hati-hati! Jalur Alternatif Papringan Rawan Laka Imbas Jembatan Serayu Ditutup

Anang Firmansyah - detikJateng
Senin, 22 Jun 2026 14:55 WIB
Kondisi jalan alternatif menuju ke arah Purwokerto atau sebaliknya yang ramai dilalui kendaraan di Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Senin (22/6/2026).
Kondisi jalan alternatif menuju ke arah Purwokerto atau sebaliknya yang ramai dilalui kendaraan di Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Senin (22/6/2026). (Foto: Anang Firmansyah/detikJateng)
Banyumas -

Penutupan Jembatan Serayu Banyumas untuk perbaikan sejak Senin (15/6) minggu lalu, berdampak pada meningkatnya volume kendaraan di jalur alternatif yang melintasi Desa Papringan, Kecamatan Patikraja, Banyumas. Padatnya arus lalu lintas bahkan disebut memicu serangkaian kecelakaan yang terjadi dalam sepekan terakhir.

Sekretaris Desa Papringan, Sarto, mengatakan sejak jalur tersebut digunakan sebagai rute pengalihan arus, lalu lintas kendaraan meningkat drastis. Kendaraan berat seperti truk pengangkut pasir hingga tronton juga banyak melintas di jalan desa tersebut.

"Sekarang beda dengan dulu. Setelah jalannya diaspal hotmix, lalu lintas luar biasa ramai. Truk-truk pasir dan kendaraan bermuatan berat lewat sini semua. Memang jadi jalan pintas," kata Sarto saat ditemui di ruangannya, Senin (22/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, banyak kendaraan yang diduga membawa muatan melebihi kapasitas melintasi jalur tersebut. Akibatnya, kondisi jalan yang baru diperbaiki cepat mengalami kerusakan.

"Aspal hotmix yang baru beberapa hari saja sudah banyak yang berlubang. Tonasenya kan banyak yang melebihi kapasitas," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Tak hanya menyebabkan kerusakan jalan, meningkatnya volume kendaraan juga dinilai berdampak pada bertambahnya angka kecelakaan lalu lintas. Sarto menyebut, selama sekitar satu minggu sejak jalur tersebut menjadi rute alternatif, sedikitnya sudah terjadi lima kecelakaan.

"Sejauh ini selama seminggu sejak digunakan untuk jalur alternatif ada lima kali kecelakaan lalu lintas. Satu di antaranya meninggal dunia. Informasinya korban warga Kecamatan Kembaran, kecelakaan sepeda motor dengan sepeda motor," ungkapnya.

Ia menjelaskan, salah satu titik yang dinilai rawan berada di wilayah RW 1 Desa Papringan. Di lokasi tersebut terdapat jembatan kecil yang bagian konstruksinya menjorok ke badan jalan sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara yang belum mengenal medan.

"Di timur RW 1 ada jembatan kecil yang menjorok ke tengah jalan. Itu belum diperbaiki. Banyak pengguna jalan yang baru atau tidak tahu kondisi medan, sehingga bisa menjadi pemicu kecelakaan," jelasnya.

Sarto berharap Pemerintah Kabupaten Banyumas segera melakukan penanganan terhadap titik rawan tersebut guna mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

"Saya mohon kepada pemerintah kabupaten karena ini jalur kabupaten. Jembatan yang menjorok itu perlu diperbaiki atau ditangani. Saat arus padat merayap, pengendara sering tidak menyadari ada bagian jembatan yang masuk ke badan jalan," katanya.

Menurut Sarto, kecelakaan di jalur alternatif tersebut terjadi pada berbagai waktu, mulai pagi saat jam berangkat kerja hingga siang hari ketika arus kendaraan masih padat.

Sebagai bentuk ikhtiar bersama, warga Desa Papringan menggelar doa bersama untuk keselamatan pengguna jalan. Kegiatan tersebut melibatkan warga dari RW 1, RW 2, dan RW 3.

"Dengan kejadian-kejadian itu, kami sepakat menggelar doa bersama di pinggir jalan. Kemarin dilaksanakan malam Minggu dan rencananya akan ada lagi. Namanya musibah tidak ada yang tahu, kita ikhtiar saja untuk keselamatan bersama," pungkasnya.

Seperti diketahui, Jembatan Serayu Banyumas ditutup untuk perbaikan sejak tanggal 15 Juni hingga 30 Juli mendatang. Dengan adanya penutupan tersebut, kendaraan harus melewati jalur alternatif melalui Desa Papringan untuk menuju ke Purwokerto atau sebaliknya.



(aku/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads