Perwakilan pedagang daging sapi mendatangi DPRD Kota Magelang. Kedatangannya menyampaikan aspirasi perihal kelangkaan sapi dan harga yang terus melambung.
Kedatangan perwakilan pedagang ini diterima Wakil Ketua DPRD Kota Magelang, Imam Indra Setyawan dan Ketua Komisi B, Kevin Mahesa Amuwardhani. Selain itu, juga dihadiri pihak instansi terkait dari Pemkot Magelang.
Salah satu pedagang, Nanik, mengatakan paguyuban telah bersepakat mogok berjualan dari Kamis (18/6) sampai Sabtu (20/6). Kemudian hari ini, memasuki kedua, Jumat (19/6).
"Tadi kami sempat ke pasar, memang ada beberapa (orang) yang merasa karena tidak ada yang jualan," kata Nanik dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi B DPRD Kota Magelang, Jumat (19/6/2026).
"Ke sini mau wadul (mengadu). Mau wadul ke mana lagi. Karena memang ada beberapa hal yang kami sampaikan," ujar Nanik.
Nanik menambahkan, di Kota Magelang tidak mempunyai peternakan sapi, kemudian mengambil dari wilayah Kabupaten Magelang.
"Kita ketergantungan (sapi) dari kabupaten. Jadi perlunya adanya kerja sama antara Kota Magelang dengan Kabupaten Magelang untuk penyediaan sapi," katanya.
"Harga tinggi kayaknya sudah siklus. Setelah Idul Adha, yang kita rasakan tidak hanya Idul Adha saja, sebelum-sebelumnya Idul Fitri sudah mengalami kelangkaan (sapi)," tambah Nanik.
Pedagang lainnya, Fitria, mengatakan dalam rapat hari ini paguyuban menyampaikan tuntutan kepada Pemkot Magelang dan memohon DPRD Kota Magelang untuk meneruskan aspirasi ini di tingkat yang lebih tinggi.
"Kita tinggal menunggu untuk panggilan ke depannya karena akan dibentuk tim inti dari Dinas Pertanian, Perdagangan, para pedagang sapi, jagal, pengecer daging sapi," kata Fitria.
"Sudah ditegaskan untuk mengirim surat ke provinsi dan pusat. Ditegaskan untuk pengadaan sapi agar dipermudah. Tadi akan diteruskan ke Pak Wamentan, semoga ini menjadi solusi untuk kita semua," ujarnya.
Ia menambahkan, dalam RDP belum ada hasil dan masih menunggu lagi. Kendati demikian, aksi mogok berjualan tetap diakhiri pada, Sabtu (20/6) besok.
"Iya (berjualan lagi minggu)," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanggapan DPRD Kota Magelang
Ketua Komisi B DPRD Kota Magelang, Kevin Mahesa Amuwardhani, mengatakan pihaknya telah memperoleh informasi di lapangan bahwa ketersediaan sapi memang sedang langka dan adanya kenaikan harga. Menurutnya, distribusi rantai perdagangan kurang stabil.
"Faktor-faktor yang memengaruhi (kenaikan harga) akan kita kaji bersama stakeholder terkait. Kita baru menggali informasi dulu yang nantinya secara eksplisit akan kita diskusikan dengan dinas-dinas atau mitra kerja yang mengampu atau terkait," katanya.
"Agar menciptakan suatu langkah komprehensif. Yang tidak merugikan atau memberatkan salah satu pihak karena di sini ada beberapa instrumen yang terlibat antara pedagang, peternak, pembeli," ujarnya.
Respons Pemkot Magelang
Sementara itu, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Kota Magelang, Chrisatrya Yonas Nusantrawan Bolla, memantau kondisi dalam tiga hari mulai, Kamis (18/6) sampai besok, Sabtu (20/6), terutama komoditas daging sapi.
"Kami melakukan mitigasi terkait kenaikan dengan harga daging sapi. Kami sampaikan bahwa operasi pasar itu bisa dilakukan apabila adanya kelangkaan komoditas barang. Kemudian dilakukan apabila harga tidak terkendali," ujar Yonas.
"Yang berikutnya daya beli masyarakat rendah, ini memicu terjadinya inflasi," ujarnya.
Yonas menambahkan, saat Iduladha pemotongan sapi di Kota Magelang sebanyak 492 ekor. Menurutnya, populasi sapi menjadi berkurang yang berimbas pada harga sapi mengalami kenaikan.
"Hal ini terjadi juga di seluruh Indonesia. Jadi pasca-Idul Adha bahwa memengaruhi kenaikan harga daging sapi. Sampai dengan tanggal 17 Juni, penyembelihan di RPH Kota Magelang masih normal yaitu 9 sampai 10 ekor (sapi)," bebernya.
"Pemotongan sapi di RPH, 100 persen asal sapi dari luar Kota Magelang. Kabupaten Magelang atau Kabupaten Semarang," tambahnya.
(apl/aku)
