Pihak Paku Buwono XIV Purbaya bakal menggelar Kirab Pusaka 1 Suro Tahun Be 1960/2026 pada Selasa (16/6) malam. Begitu pula dengan pihak Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan.
Kirab Pihak PB XIV Purbaya
Pengageng Sasana Wilapa dari Paku Buwono XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay membeberkan gambaran mengenai jalannya kirab pusaka dan kerbau bule yang menjadi ikon perayaan ini pada Selasa (16/6) malam.
Menurut Gusti Rumbay, rangkaian upacara adat Malam Satu Suro dipastikan akan berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya tanpa ada perubahan yang signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau malam satu suronya sendiri kan karena itu sudah berjalan bertahun-tahun, mestinya seperti biasa, tidak ada perubahan yang signifikan. Dan kebetulan kebonya yang akan dikeluarkan juga sudah, tahun kemarin, tahun-tahun kemarin juga sudah pernah dikirabkan," katanya saat ditemui di Kori Talang Paten, Keraton Solo, Kamis (4/6/2026).
Rumbay mengatakan, pada kirab pusaka nanti ada 5 kerbau bule yang akan menjadi cucuk lampah. Lima kerbau tersebut rencananya akan menjalani gladi resik pada hari Sabtu (13/6) mendatang.
"(Kerbaunya ada berapa ya?) Lima kalau enggak salah, lima. Karena yang disiapkan itu, jadi nanti pada hari Sabtu tanggal 13 Juni akan gladi resik," ungkapnya.
Ia menjelaskan, kerbau-kerbau yang dipilih merupakan kerbau yang sudah sering mengikuti prosesi kirab pada tahun-tahun sebelumnya.
"Kerbau tahun sebelumnya juga sudah pernah kirab, jadi relatif lebih apa namanya istilahnya, sudah pinter lah gitu, enggak perlu berlatih yang harus seperti apa. Itu satu. Kemudian apa namanya, rutenya pun juga tidak berubah seperti tahun-tahun yang lalu," terangnya.
Adapun kepastian mengenai jumlah pusaka keraton yang akan dikeluarkan dalam kirab masih menjadi misteri. Rumbay menegaskan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan Paku Buwono XIV Purbaya.
"Pusakanya belum ada dhawuh (perintah). Kan biasanya itu dawuh dari Sinuhun akan mengeluarkan berapa," jelasnya.
Rumbay menyebut jumlah dan jenis pusaka yang diarak baru akan ketahuan setelah Sinuhun mendapatkan wisik atau petunjuk spiritual terkait pusaka mana yang paling tepat dikeluarkan. Pusaka-pusaka tersebut nantinya diarak sebagai sarana doa dan memohon keselamatan.
"Jadi pusaka itu akan keluar setelah dawuhnya Sinuhun itu, wisiknya itu apa, untuk apa istilahnya, untuk doa, untuk doa di tahun baru ini, untuk keraton, untuk negara, untuk masyarakat. Itu memakai pusaka yang mana, biasanya seperti itu," bebernya.
Ditanya mengenai kepastian waktu turunnya perintah dari Sinuhun-apakah biasanya keluar pada H-1 atau beberapa hari sebelum Malam Satu Suro, Rumbay enggan berspekulasi.
"Itu kan adat ya, jadi kita enggak bisa bicara apakah itu akan H-1, H-2, enggak bisa. Kita enggak bisa bicara seperti itu," pungkasnya.
Kirab Pihak Tedjowulan
Sementara itu juru bicara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, Kanjeng Pakoenegoro, mengatakan rapat mengenai kirab pusaka sudah digelar bersama Kementerian Kebudayaan. Hasilnya, rangkaian kirab akan digelar pada Selasa 16 Juni 2026.
"Prinsipnya Selasa malam ya. Jamnya belum tahu, karena itu mengikuti dinamika di keadaan pada waktu itu. Bisa segera jam 23.30 mungkin, bisa agak, agak malam mungkin jam 1 dini hari, mungkin jam 2 dini hari, kurang tahu kami. Karena itu kami tidak, tidak di bidang itu. Yang jelas malam, Selasa malamnya, Selasa malam Rabu," katanya dihubungi awak media, Kamis (4/6/2026).
Ditanya mengenai kirab pusaka yang berbarengan dengan pihak Paku Buwono XIV Purbaya, Pakoenegoro menyebut itu menjadi perhatian Tedjowulan. Menurutnya, bila beda hari seperti Grebeg Besar masih bisa dimaklumi.
"(Pihak PB XIV Purbaya juga di tanggal sama apakah akan tabrakan?) Nah itu dia, yang menjadi perhatian dari Gusti Tedjowulan. Harapan beliau kan rukun, rukun, rukun, kompak, gitu lho. Kalau, kalau kemarin itu kan Grebeg Besar, oke lah, masih bisa dua tanggal, gitu ya, dua pihak, dua tanggal," ungkapnya.
"Tapi kalau malam 1 Suro ini kan nggak bisa dua tanggal. Artinya akan bertemu kan, kalau masih ada kepentingan personal atau kelompok, akan ada lebih dari satu kelompok, bertemu di satu tanggal, bertemu di satu malam, bertemu di satu tempat, itu kan dinamikanya cukup, cukup mengkhawatirkan ya, gitu," sambungnya.
Pakoenegoro menyebut bahwa pihaknya juga telah menjalin komunikasi dengan PB XIV Purbaya saat rapat bersama Kementerian Kebudayaan. Menurutnya, selama ditunjuk sebagai Pelaksana Keraton Solo, Tedjowulan bersikap netral.
"Semua pihak diundang waktu rapat dengan Kementerian Kebudayaan. Jadi harapannya memang rukun saja. Dari dulu kami pesannya juga itu aja, rukun, kompak, gitu. Jangan, jangan lagi mengatasnamakan personal atau kelompok. Tapi kenyataannya dinamikanya kan seperti ini sampai sekarang," terangnya.
"Jadi Gusti Tedjowulan ini netral, berada di tengah. Bukan Gusti Tedjowulan yang mengadakan, ini keraton yang punya gawe," lanjutnya.
Lebih lanjut, pihaknya mengaku terus menjalin komunikasi termasuk dengan putra dan putri Dalem Paku Buwono XII dalam keberadaan pusaka Keraton Solo. Apalagi, untuk bisa melihat pusaka bukan sembarang orang.
"Gusti Tedjowulan juga akan melibatkan Gusti-Gusti sepuh, putra dalem, putri dalem yang sawargo PB XII. Karena beliau-beliau ini yang lebih memahami tentang keberadaan dan keadaan pusaka-pusaka. Kan tidak bisa sembarang orang, harus putra-putri dalem yang sudah disumpah," bebernya.
Mengenai pendataan pusaka Keraton Solo, Pakoenegoro menyebut sudah dilakukan sejak sebulan yang lalu. Pendataan dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.
"Sudah sekitar sebulan yang lalu pihak pendata, yaitu dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah wilayah X dan Kementerian Kebudayaan, memulai pendataan kekayaan budaya di Keraton Surakarta Hadiningrat, dan masih berjalan sampai sekarang. Artinya berkelanjutan, dan pusaka-pusaka juga menjadi prioritas dari pendataan itu," pungkasnya.
